Welcome to my world,Im 유나ArataJJ admin @KBPKfamily ,author &a someone who likes to fantasize.. Thank for visit ^^

Sabtu, 03 Desember 2011

BEAUTIFUL-FFONESHOOT

BEAUTIFUL
Author: YunaArataJJ#Hermailinda Evianisa
Genre: Romance
Cast :
Han Yong Bin
Jo Kwang Min
Jo Young Min
Song Ji Ah
Cast +:
Kim Dong Hyun*
Noh Min Woo*
Sunho*
Lee Jung Min*
Story...
Sorak sorai penonton di lapangan membahana dengan riuhnya menyambut kemenangan tim sekolah mereka. Para pemain melompat senang dan saling berpelukan. Seorang pemain wanita menatap ke bangku penonton sambil tersenyum bahagia pada seorang laki-laki dan balas tersenyum padanya. Laki-laki pucat itu menatap sayu wanita di tengah lapangan dan sunggingan senyum terakhirnya sebelum menutup matanya dan jatuh di bangku penonton...


“TIDAAAAAAAAAAKK...”pekik Yong Bin yang terbangun dari mimpinya.
“Yong Bin..., ada apa denganmu?”tanya Kwang Min kekasih Yong Bin dengan nada khawatir.
“a...aku...aku bermimpi buruk...”ucap Yong Bin kemudian menatap Kwang Min dengan hati-hati,”kau tak apa-apa kan?”
“aku? Memang aku kenapa? Hei ada apa denganmu Yong Bin? Kau ini... kita sedang berkencan dan kau tertidur...apa kau terlalu lelah?”Kwang Min mengingatkan Yong Bin yang baru menyadari dia berada di padang pohon Mae. Hari itu setelah makan siang tanpa sengaja Yong Bin yang menunggu Kwang Min membeli minum tertidur di bawah pohon hingga Kwang Min membangunkannya.
“aigoo..., aku pabo...mianhe...mianhe Kwang Min...”pinta Yong Bin merasa bersalah.
Kwang Min tersenyum dan mengusap kepala Yong Bin lembut,”kau lelah setelah pertandingan semalam dan kau masih sempat menemaniku mencari inspirasi untuk menyelesaikan lukisanku..., aku yang seharusnya meminta maaf padamu...”
“ani..., aku erusak kencan kita...”pinta Yong Bin tetap dalam perasaan bersalah pada Kwang Min.
“baiklah jika kau ingin di hukum..., sekarang kau tutup matamu...” Kwang Min tersenyum jahil pada Yong Bin.
Yong Bin menatap curiga pada Kwang Min dan bertanya,”kau tak ingin mengerjaiku kan?”
“aku tak akan setega itu..., ayo tutup matamu...”
Yong Bin menurut kata-kata Kwang Min dan menutup matanya. Perlahan Kwang Min mengeluarkan untaian perak dan mengenakan di tangan Yong Bin.
“sekarang buka matamu...”perintahnya lagi.
Yong Bin membuka pelan matanya lalu menatap untaian perak indah di tangannya,”kau..., kau memberiku ini? Kenapa? Apa aku ulang tahun?” tanyanya setengah heran dan kagum.
Kwang Min hanya menggeleng dan berkata,”saat aku melihatnya aku hanya merasa kau cocok menggunakannya...”
“benarkah? Kau tidak sedang bercandakan?” tanya Yong Bin memastikan,”hais...,kau mulai lagi...”
“tidak Yong Bin..., anggap saja sekarang aku sedang melamarmu...”jawab Kwang Min dengan tenang.
Wajah Yong Bin bersemu merah semerah tomat,”kau menggodaku lagi...”
Kwang Min tertawa lembut lalu menarik tangan Yong Bin mendekat,” kau terlihat keren di lapangan, tapi di sini kau terlihat sangat cantik bagiku...” Kwang Min menarik Yong Bin mendekat dan menciumnya dengan lembut.

“benarkah dia memberimu ini?” pekik Ji Ah tak percaya,”ya..., kau beruntung sekali...,kalian baru tujuh bulan berpacaran tapi ku lihat Kwang Min sangat mencintaimu...”
“Ji Ah...,kau kan bisa mencari kekasih..., kau cantik dan kau calon model...”goda Yong Bin sambil memainkan bola basketnya.
“aish..., kapten basket club putri ini bicaranya sembarangan saja..., aku juga memiliki kriteria..., kau tau sempurna, tampan, baik dan kaya...”ucap Ji Ah dengan mata berbinar.
Yong Bin menjitak kepala Ji Ah yang terus berkhayal tak jelas,”kau ini..., jika begitu kapan kau akan dapat ke kasih...”
“ya..., kau kira kepalaku ini bola basket...,au...awas kau ya...”geram Ji Ah dan langsung mengejar Yong Bin yang langsung mengelak dan berlari kesekeliling kelas.
“sudahlah Ji Ah maafkan aku...”pinta Yong Bin yang terus berlari.
“andwe...”pekik Ji Ah dan melempar bola basket ke arah Yong Bin yang langsung menangkapnya.
Yong Bin membalas Ji Ah dan melempar bola itu namun meleset dan melewati Ji Ah lalu mengenai Kwang Min yang akan menjemput Yong Bin.
“omo...”pekik Yong Bin yang langsung menghampiri Kwang Min,”kau tak apa? Ya..., kau tak apa?”
“Yong Bin..., aku...tak apa...”ucap Kwang Min sambil memegang kepalanya.
“aku akan membawamu ke klinik...” seru Yong Bin panik saat dia melihat darah mengalir dari hidung Kwang Min.
“aku tak apa ini hanya...”Kwang Min berusaha menolak namun Yong Bin yang nekat mencoba mengangkat Kwang Min,”hei...apa yang kau lakukan...”
“diamlah aku sedang mencoba membawamu...” Yong Bin terus mengangkat Kwang Min menuju klinik dengan pandangan aneh dari murid lain yang melihat mereka. Setibanya di klinik Yong Bin meletakan Kwang Min di tempat tidur dan dia mencoba mengatur nafasnya.
“kau memang wanita perkasa...”ucap dokter klinik bernama Kim Soo Jin itu.
“sudahlah sensanim..., tolong hh hh ... dia saja...” kata Yong Bin jengkel.
“baiklah nona...”Soo Jin menatap Kwang Min dan mengobati memar di keningnya.
Yong Bin terus menatap Kwang Min dengan khawatir,”bagaimana sensanim? Apakah parah?” tanya Yong Bin tak sabar.
“kau ini terlalu khawatir..., dia tak apa...hanya luka kecil beberapa hari lagi juga akan sembuh...” jawab Soo Jin setelah merapikan peralatannya.
“kau tak perlu khawatir Yong Bin aku tak apa..., jangan berlebihan...”Kwang Min beranjak dari tempatnya dan menarik Yong Bin keluar,”gomawo sensanim...”
“maafkan aku...”ucap Yong Bin tanpa henti.
“kau ini sudah ku bilang bukan bahwa aku tak apa-apa...” Kwang Min berbicara dengan nada tegas dan membuat Yong Bin berhenti berbicara,”h..., Yong Bin..., jangan khawatir oke... aku ini pria..., kau jangan membuatku menjadi pecundang ... seharusnya yang kulakukan adalah melindungimu...”ucap Kwang Min dengan rasa kecewa.
“mi...mian...” tunduk Yong Bin,”aku hanya takutkau akan membenciku jika kau tau aku bukan seperti wanita pada umumnya aku sedikit keras dalam melakukan hal kecil...”
Kwang Min menarik Yong Bin dan memeluknya dengan erat,”aku tau semua tentangmu sebelum aku memintamu sebagai kekasihku..., aku tak pernah keberatan dengan apapun yang kau lakukan...aku akan mendukungmu..., apa kau meragukanku?”
Yong Bin menggeleng dan merapatkan pelukannya sambil tersenyum lalu berkata,”gomawo..., aku sangat sangat menyayangimu...”

2 bulan berlalu . . .
“Yong Bin...”panggil seseorang di sela latihannya.
“ya? Kau temannya Kwang Min kan? Ada apa? Tanya Yong Bin dengan nada heran.
“Kwang Min memberimu surat..., ini...”ucap Sunho sambil menyerahkan sebuah amplop.
Yong Bin memperhatikan dengan seksama lalu berkata pada Sunho,”gomawo..., oh ya kau tau di mana Kwang Min? Beberapa hari ini aku tak bisa menghubunginya...”
“a...aku tak tau Yong Bin..., itu...itu saja dia memberikannya terburu-buru dan langsung pergi tanpa menjelaskan apa-apa..., maafkan aku aku harus pergi, aku masih ada kelas...”kata-kata Sunho terkesan janggal dan aneh, namun Yong Bin tak terlalu perduli dan langsung membuka surat itu.
“dia ingin bertemu denganku...”senyum Yong Bin terkembang setelah membaca surat itu. Dengan hati-hati Yong Bin melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam kantong celananya.
“kapten...”panggil salah seorang anggotanya.
“ne? Ada apa Chan Sang Mi?”
“kapten di panggil pelatih...”
Tanpa banyak bertanya Yong Bin segera menghampiri pelatihnya,”ne sensanim..., sensanim memanggilku?”
“ya Yong Bin..., aku akan memintamu mengumpulkan formulir turnamen basket di sekertariat Dong Nam...,aku akan memberikanmu izin untuk tidak mengikuti kelas hari ini...”perintah sang pelatih menyerahkan sebuah amplop pada Yong Bin.
Yong Bin menunduk dan bergegas pergi. Setelah mengganti pakaian olahraganya dengan seragam biasa, Yong Bin menuju ke sebuah gedung olah raga yang terletak di jalan Dae Gu tak jauh dari sekolahnya. Namun langkah Yong Bin berhenti di depan sebuah taman. Yong Bin mencoba menajamkan penglihatannya pada laki-laki yang sedang berkencan dengan seorang wanita itu.
“K..Kwang Min” pekik Yong Bin tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Langkah kaku Yong Bin perlahan mendekat dan mengendap ke arah orang yang di kenalnya itu dan dengan hentakan keras Yong Bin mematung di tempatnya.
Laki laki berambut pirang yang seperti di kenalnya itu sedang berciuman dengan seorang wanita. Tanpa mengingat tugasnya Yong Bin berjalan perlahan ke arah Kwang Min.
“K...Kwang Min...”ucap Yong Bin menahan amarahnya dengan kata-kata yang terbata.
“siapa kau?” tanya wanita yang bersama Kwangmin dengan nada sinis.
Yong Bin meringis kecil dan membalas kata-kata tajam wanita itu,”wanita tak tau malu beraninya kau merebut pacarku..., kau... jika kau begini untuk apa kau memanggilku? Dasar brengsek!” Plak.., Yong Bin memukul Kwang Min dengan marah dan meninggalkannya begitu saja.
Yong Bin terus berlari hingga tiba di sebuah taman, sambil menangis Yong Bin terduduk di bawah sebuah pohon,”katanya kau menyayangiku..., katanya kau mencintaiku..., kau pembohong...”tangis Yong Bin sambil melipat tangannya dan menangis. Yong Bin bangkit dan menarik untaian gelang di tangannya, dia bersiap akan melempar ketika Kwang Min berambut pirang itu datang dan menahan tanganya.
“itu..., aku yang memberikannya kan?” tanya Kwang Min dengan nada ragu.
Yong Bin menarik tangannya dan memalingkan wajahnya,”aku tak ingin bertemu denganmu...pergilah...”
Kwang Min tersenyum sinis dan hanya berkata singkat,”kau akan menyesal jika membuangnya, kau harus datang, tak perduli seperti apa kau melihatku hari ini...”ucapnya dengan tegas.
“apa yang ingin kau katakan? Jika kau menginginkan kita putus aku akan putus denganmu sekarang...” pekik Yong Bin marah.
“kau harus datang...”Kwang Min hanya berkata singkat dan kemudian meninggalkan Yong Bin yang masih dalam ke adaan marah sendiri.
Yong Bin hanya menghentak menahan emosinya dan mencoba menyeka air matanya.

Yong Bin berjalan gontai menuju kelasnya setelah mengantarkan formulir turnamen basket.
“Yong Bin? Kau sedang tak sehat?” tanya Ji Ah sambil memegang kening Yong Bin.
“tidak..., aku tak apa...”elak Yong Bin sambil meletakkan kepalanya di atas meja dan menatap kursi Kwang Min yang kosong selama 2 bulan setelah insiden lemparan bola itu.
“ini semua salahku..., dia mungkin telah lelah dengan tindakanku yang sangat memalukan, aku pabo...” Yong Bin menghentakkan kepalanya ke meja.
“Yong Bin..., ada apa denganmu?” tanya Ji Ah dengan nada sedikit berbisik.
“aku bodoh... bodoh... bodoh...” dengan hentakan terakhir yang cukup keras membuat Yong Bin mengelus dahinya yang berdenyut.
“aigooo... Yong Bin kau gila !!!” maki Ji Ah sambil menatap kening Yong Bin yang membiru.
“ya... aku memang gilaa...” tangis Yong Bin pecah sambil memeluk Ji Ah.

“Apa penampilanku berantakan?” tanya Yong Bin setelah dia puas menangis.
“aish... kau ini...”maki Ji Ah lalu mengeluarkan plester perekat luka di kantungnya dan menempelkan di kening Yong Bin,”sudah..., cepat temui pangeranmu..., aku yakin ini hanya salah paham..., jelaskan segalanya oke...” Ji Ah menyemangati Yong Bin sambil tersenyum tulus pada sahabatnya yang membalasnya dengan senyuman.
“ara..., gomawo...”Yong Bin mengambil tasnya dan cepat beranjak pergi.
Sambil menggenggam erat surat Kwang Min di tangannya Yong Bin berlari menuju ke sebuah taman tempat Kwang Min berjanji bertemu dengannya. Yong Bin berhenti sejenak ketikamenatap Kwang Min yang berdiri kaku bersandar pada sebuah pohon sambil mendengarkan musik tanpa mengetahui kedatangan Yong Bin. Perlahan Yong Bin mulai mendekat hingga Kwang Min menoleh padanya.
“kau sudah datang?” tanya Kwang Min sambil tersenyum.
“kau tak apa? Kau sudah lama menungguku?” tanya Yong Bin sambil memegang kedua pipi Kwang Min,”kenapa? Ada apa dengan mu? Kenapa wajahmu pucat?” tanya Yong Bin panik.
Kwang Min menggapai tangan Yong Bin yang menyentuh pipinya lalu berkata dengan perlahan,”kau tau kenapa aku memintamu...”
“aku tau..., jika yang aku fikirkan benar..., beritahukan padaku...,apa yang membuatmu seperti ini?” Yong Bin berusaha menahan air matanya dengan menatap lurus ke arah lain.
“maafkan aku Yong Bin..., aku telah..., aku telah menyukai orang lain...”ucap Kwang Min sambil menunduk pada Yong Bin.
Jantung Yong Bin seakan berhenti berdetak, Yong Bin menatap Kwang Min tak percaya hingga air matanya kembali menetes.
Keduanya lama terdiam hingga Yong Bin menyeka air matanya dan mencoba berkata tenang,”baiklah...” Yong Bin berusaha tersenyum,”aku ikut senang..., aku tau pada akhirnya..., aku... aku..., sudahlah...”Yong Bin tak dapat meneruskan kata-katanya dan mencoba menutupinya dengan berbalik memunggungi Kwang Min.
“Yong Bin . . . “
Setelah berusaha menenangkan diri secepat mungkin Yong Bin berbalik dan tersenyum sambil mengulurkan tangannya,”Chukae . . . , mian... selama ini aku telah membuat mu susah..., dan ku rasa ini bukan milikku lagi...”Yong Bin melepaskan untaian perak di tangannya dengan gemetar.
“tidak..., ini milikmu...”tolak Kwang Min.
Yong Bin memaksa dan meletakkan begitu saja di tangan Kwang Min,”aku tak ingin pacar barumu salah paham..., kau berikan saja padanya... jangan perdulikan aku..., aku akan baik-baik saja..., aku berterimakasih padamu karena telah mengisi hari-hariku... sekali lagi... chukkae...”Yong Bin Berbalik cepat dan berusa berlari namun baru saja mulai melangkah Yong Bin terjatuh ke arah kubangan lumpur.
“Yong Bin...”pekik Kwang Min sambil membantu Yong Bin bangkit berdiri.
“a...aku ceroboh... sudahlah jangan perdulikan aku... aku tak apa-apa...” ucap Yong Bin dan berusaha menepis uluran tangan Kwang Min. Yong Bin berjalan gontai tanpa menatap kebelakang lagi.

“kau bukan seperti Yong Bin yang aku kenal...”Ji Ah berkata agak keras sambil menatap Yong Bin yang hanya diam dengan penampilan yang sangat berantakan duduk termenung di dekat jendela kamarnya,”Yong Bin..., bukan kah kau akan ada turnamen?”
“aku sudah tak perduli lagi..., aku ingin mengundurkan diri...”ucap Yong Bin tanpa perduli.
“ya..., apa yang terjadi padamu? Sudah seminggu kau seperti ini..., kau tau Kwang Min mencemaskan mu..., dia sudah masuk kembali...”Ji Ah berusaha membujuk.
Yong Bin sempat menatap Ji Ah namun kembali berpaling,”aku tak perduli..., aku dan dia tak ada hubungan apa-apa lagi...”
“kau telah...”
Yong Bin hanya diam, air matanya kembali menetes. Ji Ah langsung memeluk sahabatnya dan membelai pundaknya berusaha menenangkan.
“aku mengerti..., jangan menangis lagi Yong Bin..., aku tak ingin melihatmu seperti ini... ini bukan seperti Han Yong Bin yang aku kenal...” Ji Ah menyeka air mata Yong Bin perlahan,”jangan bersedih Yong Bin..., kau harus menjadi Yong Bin yang kuat, aku mengenalmu sebagai orang yang tegar dan bertanggung jawab, aku yakin ada hal yang tak akan berubah..., Kwang Min masih menyukaimu..., jika tidak untuk apa dia selalu menannyakan keadaanmu...”
Yong Bin menatap Ji Ah heran,”Kwang Min?”
“ya..., selama kau tak masuk dia selalu menannyakanmu..., itu pertanda bahwa dia masih menyukaimu..., sekarang aku tak ingin melihatmu seakan kau gila seperti ini..., aku akan merubahmu..., aku akan membuat Kwang Min menyesal telah memutuskanmu...” tekad Ji Ah.
Yong Bin memeluk Ji Ah dengan erat dan kembali menangis di pelukan sang sahabat.

“kapten”pekik anggota club basket ketika menatap Yong Bin dengan rambut barunya yang lebih pendek. Semalam dia telah memotong rambut panjangnya untuk melupakan kejadian menyakitkan itu. Yong Bin tersenyum lalu mengoper bola pada juniornya.
“annyeong... bagaimana dengan rambut baruku?”tanya Yong Bin dengan senyum terkembang, tampil cantik dan mempesona, hingga club basket putra yang ada di lapangan sebelah terpesona dan sempat bertubrukan menatap Yong Bin.
“kapten..., kau sangat keren...”puji Yu Ra salah satu anggota basket putri.
“ya kapten..., ada apa kapten? Kenapa rambut panjangmu kau potong? Katanya itu sangat berharga untukmu?” tanya Sang Mi heran.
Yong Bin sempat terdiam lalu tersenyum,”berharga ketika orang yang mengatakan itu masih ada di sisimu..., baiklah... ayo kita berlatih...”perintah Yong Bin dengan berwibawa. Anggotanya mengikuti perintah Yong Bin. Tanpa di sadari Yong Bin, Kwang Min menatapnya dari jauh.

“Ya..., Yong Bin...”bisik Ji Ah pada Yong Bin yang terus menatap Kwang Min tanpa menyadari Sensanim menyuruhnya untuk membaca text.
“N...ne...”pekik Yong Bin yang langsung beranjak dan menatap bukunya, dia sempat melirik Kwang Min yang menatap dirinya kemudian berpaling pada Ji Ah yang memberinya kode untuk di baca. Usai membaca Yong Bin kembali duduk.
“ada apa denganmu?”bisik Ji Ah mengikuti arah pandangan Yong Bin,”kau masih mengharapkannya ya?” tebak Ji Ah dan membuat Yong Bin mengalihkan pandangannya,”jangan berbohong katakan padaku kau masih...” Ji Ah terdiam ketika sang guru menatap ke arah keduanya,”sudahlah... aku tau itu...” keduanya kembali memperhatikan pelajaran saat itu.

“ya Yong Bin..., kau mau pesan makanan atau tidak?” pekik Ji Ah kesal ketika keduanya berada di kantin dan Yong Bin hanya memperhatikan Kwang Min di sudut kantin.
“oh ya..., aku ingin roti dan yogurt saja...”ucap Yong Bin sambil menyerahkan uangnya pada Ji Ah yang sempat mendesah jengkel dan kemudian pergi memesan makanan.
“Han Yong Bin?”pekik seseorang yang membuat pandangan Yong Bin teralih pada laki-laki yang duduk di depannya.
“senior Dong Hyun...”ucap Yong Bin dengan sedikit terkejut.
“lama tak bertemu..., bagaimana kabarmu kapten basket?”goda Dong Hyun sambil mencubit pipi Yong Bin dengan gemas.
“senior...”Yong Bin berusaha menepis tangan Dong Hyun lalu sempat melirik Kwang Min yang tak merespon dirinya.
“ada apa?” tanya Dong Hyun sambil menatap ke arah Kwang Min,”ku dengar kau sudah putus darinya?”
Yong Bin terdiam dan berusaha mengelak dengan menghindari perbincangan saat itu,”lalu..., apakah senior di terima di universitas seoul?”
“tentu saja... kau tau aku ini sangat jenius..., aku pasti di terima di sana..., kau sendiri? Ku dengar kau akan mengikuti turnamen beberapa bulan lagi?” Dong Hyun berbalik bertanya pada Yong Bin.
“ya..., ku rasa aku harus banyak berlatih dengan senior...” senyum Yong Bin ketika Ji Ah datang dengan nampan pesanan di tangannya.
“haish menjengkelkan harus mengantri lama..., senor Dong Hyun...”pekik Ji Ah lalu meletakkan begitu saja nampannya dan membuat bunyi hentakan yang cukup keras.
“ya..., Ji Ah... kau ini...”ucap Yong Bin jengkel terkena cipratan air soda milik Ji Ah.
“mi...mian...”ucap Ji Ah gugup mencoba menyeka pakaian Yong Bin sambil menatap Dong Hyun yang menahan gelinya pada tingkah Ji Ah.
“aish..., sudahlah...” Yong Bin menarik tissue Ji Ah dan membersihkan dirinya sendiri dan sempat menatap Kwang Min yang menatap ke arahnya juga,”sudahlah...”
“apa? . . . , oh iya senior ada apa senior datang? Ada sesuatu?”tanya Ji Ah mencoba menenangkan suasana.
“ah ya..., hampir aku melupakan tujuanku..., ini...” Dong Hyun mengeluarkan sebuah amplop pada Yong Bin,”kau harus datang ke pesta itu..., kau harus berdandan secantik mungkin..., okey...”
“apa ini?” Yong Bin mengerutkan alisnya dan membuka amplop itu,”senior akan merayakan ulang tahun?”Yong Bin menatap Ji Ah yang langsung merebut undangan di tangan Yong Bin.
“senior tak mengundangku?”tanya Ji Ah agak kecewa.
“tentu saja kau boleh datang Ji Ah..., kau kira aku sejahat itu memisahkan kalian berdua? Oh iya Ji Ah kau harus merubah nona ini menjadi seorang putri di saat pestaku...”syarat Dong Hyun sambil mengedipkan sebelah matanya pada Ji Ah.
“baiklah..., serahkan padaku...”angguk Ji Ah sambil mengedipkan balik matanya pada Dong Hyun.
“kalian gila...” cibir Yong Bin dengan nada jengah. Keduanya tertawa bersama sementara Yong Bin hanya menghela nafas pasrah.

“Ji Ah..., aku tak suka seperti ini...”sungut Yong Bin, pada gaun yang di gunakannya di rasa berlebihan.
“ya..., Yong Bin..., aku bahkan kalah dari kau..., sudahlah... berhenti mengeluh dan berjalan tegak ...”kata Ji Ah dengan kesal lalu menarik Yong Bin ketempat pesta.
“Ji Ah...” rengek Yong Bin. Namun Ji Ah tak perduli dan terus menarik Yong Bin masuk. Pintu terbuka dan semua mata memandang ke arah Yong Bin,”ya..., Ji Ah...”bisik Yong Bin menahan rasa malunya.
“kau hebat Ji Ah...”puji Dong Hyun yang bergerak cepat ke arah mereka.
“ya..., tentu saja... seorang calon model harus bisa mengurus dirinya atau orang lain agar tampil cantik...” Jia Ah menyombongkan keahliannya sambil berkedip pada Dong Hyun.
“ya tentu saja..., kau ahlinya...”balas Dong Hyun dan berkedip pada Ji Ah.
“ya..., kalian berdua ini..., aku tak mengerti kenapa kakak memintaku berdandan konyol seperti ini..”ucap Yong Bin dengan nada jengah.
“aku ingin menjadikanmu sebagai bintangnya hari ini...”Dong Hyun berbicara penuh misteri.
Tanpa sengaja Yong Bin menatap Kwang Min yang berada tak jauh dari tempatnya,keduanya saling bertatapan,”Kwang Min...”ucap Yong Bin dengan nada pelan.
“Kwang Min? Kakak mengundangnya ke sini?” tanya Ji Ah heran pada Dong Hyun mewakili Yong Bin yang terus menatap Kwang Min.
“menurutmu? Aku ingin dia menyaksikan sesuatu malam ini...”ucap Dong Hyun kali ini senyum miring menghiasi wajahnya. Dong Hyun berbalik dan berkata pada para tamu undangan dengan suara lantang,”dengarkan..., malam ini..., selain merayakan hari ulang tahunku, aku akan mengatakan sesuatu..., hari ini di sini aku akan mengatakan perasaanku pada wanita ini...”ucap Dong Hyun. Raut wajah Yong Bin berubah bingung dan menatap Ji Ah yang menatapnya tak mengerti pula.
“senior..., apa yang kau katakan?”tanya Yong Bin berbisik.
Dong Hyun menatap Yong Bin dan berlutut,”maukah kau menjadi ke kasihku?” tanya Dong Hyun.
Yong Bin menatap bingung matanya melirik ke arah Kwang Min yang menghindarinya dan berbalik pergi. Air mata Yong Bin mengalir lembut, dia hanya mengangguk setuju.
Dong Hyun melonjak dan bersorak keras. Semua yang ada di ruangan itu bertepuk tangan. Yong Bin menyeka air matanya yang tak berhenti mengalir. Sekali lagi Yong Bin menatap Kwang Min yang menatapnya dan tersenyum tulus.
Denyut rasa sakit di dadanya membuatnya tak tahan dan beranjak ke arah toilet.
Yong Bin menangis sejadi-jadinya dan berusaha untuk meredam emosinya. Namun kenyataan menyakitkan itu benar-benar membuatnya linglung tak mengerti,”apakah...keputusanku ini benar? Apakah aku benar?...”tanya Yong Bin pada dirinya sendiri.
“Yong Bin...”ucap Ji Ah, raut wajahnya berubah sinis. Senyum miring menghiasi wajahnya, dia berusaha untuk bersikap biasa. Yong Bin menyeka air matanya sekali ketika Ji Ah mengulurkan tangannya memberikan ucapan selamat,”Chukkae..., kau memang pantas dengan senior...”
“Ji Ah...”Yong Bin berusaha menerka namun Ji Ah menariknya dan memeluknya cepat kemudian meninggalkan Yong Bin. Yong Bin berusaha mengejar Ji Ah secepat mungkin,”Ji Ah, tunggu... apakah kau..menyukai senior Dong Hyun?” tanya Yong Bin sambil menarik tangan Ji Ah, saat Ji Ah berbalik Yong Bin menatap air mata yang sempat menetes.
“lepaskan aku...” hentak Ji Ah sambil menarik tangannya kemudian pergi dengan Yong Bin yang terdiam di tempatnya.
Saat Yong Bin akan mengejar Ji Ah, Dong Hyun menariknya,”acara belum selesai... aku ingin mengenalkanmu pada orang tuaku...”ucap Dong Hyun lalu menarik Yong Bin tanpa perduli akan kekhawatiran Yong Bin.

Keesokan harinya..
“ya..., Ji Ah...”pekik Yong Bin berusaha mengejar Ji Ah yang terus menghindar darinya.
“tinggalkan aku Yong Bin...”bentak Ji Ah tanpa berbalik pada Yong Bin.
“tidak akan..., jelaskan padaku apakah kau menyukai...”
Dengan cepat Ji Ah berbalik dan menatap marah ke arah Yong Bin,”Ya!! Aku menyukai Senior... aku menyukai senior kau puas!! Tapi mulai sekarang aku akan mulai melupakan semuanya, perasaanku dan... persahabatan kita...”
Yong Bin jatuh terduduk dan menangis di hadapan Ji Ah dan setengah memohon dia berkata,”maafkan aku Ji Ah maafkan aku yang tak peka terhadapmu ... maafkan aku Ji Ah... aku mohon... aku mohon padamu... aku akan mengatakan pada senior...”
“itu tak perlu Yong Bin..., aku tau dari dulu senior Dong Hyun sangat menyukaimu... aku tau..., aku hanya belum dapat menerimanya..., aku ingin sendiri Yong Bin...”Ji Ah memalingkan wajahnya dan segera berlari pergi.
Yong Bin menangis di tempatnya tanpa menyadari jika Kwang Min menatapnya dengan pedih.

Yong Bin berjalan perlahan usai latihan basket. Tatapannya nanar tak terfokus. Yong Bin terdiam di garis zebra cros. Air matanya menetes sambil menunduk Yong Bin tak menyadari orang-orang di sekelilingnya telah menyebrang. Dengan langkah perlahan Yong Bin berjalan dengan berurai air mata. Tatapan tak fokusnya membuatnya tak menyadari lampu lalulintas berubah menjadi hijau.
Tiiinnn....
Yong Bin terdiam linglung di tengah hingga seseorang menariknya ketepi dan keduanya terjatuh.
“kau pabo...”ucap laki-laki itu.
Yong Bin sempat menatap penolongnya namun kemudian dia tak sadarkan diri karena kelelahan.
“heiii..., heiii...”

Yong Bin membuka matanya dengan perlahan. Ini bukan rumahnya, dan bukan tempat yang di kenalnya. Dengan cepat Yong Bin bangkit dan terkejud ketika menatap seorang pria tertidur di kursi.
“K...Kwang Min...”pekik Yong Bin sambil menatap laki-laki berambut pirang itu. Yong Bin segera berpaling dan menyeka air matanya yang mengalir. Isak pelan Yong Bin membuat laki-laki itu terbangun,”untuk apa kau membawaku ketempat seperti ini?” tanya Yong Bin di sela tangisnya.
“ya..., seharusnya kau berterimakasih padaku telah membawamu..., aku tak menemukan dompetmu dan aku tak tau di mana kau tinggal...”ucapnya dengan jengah.
Tangis Yong Bin mereda dan di gantikan oleh tatapan heran,”bahkan kau berusaha melupakan di mana aku tinggal...”
“aku memang tak tau di mana kau tinggal...” ucapnya dengan agak keras.
“baiklah aku akan segera pergi...” Yong Bin dengan emosi mengambil tasnya di meja sebelah dan tanpa sengaja menyenggol figura foto di sebelahnya,”ma...” Yong Bin mengambil figura itu dan menatap foto dengan perasaan terkejut.
“sudahlah biarkan saja...” Ucap laki-laki itu berusaha menarik Yong Bin namun Yong Bin tak bergeming di tempatnya dan masih menatap foto itu,”apa yang kau lihat? Sudahlah letakkan itu dan aku akan mengantarkan mu kembali pulang...”
“kau...”ucap Yong Bin sambil menatap laki-laki itu heran.
Dengan desahan kesal laki laki itu menatap Yong Bin dan berkata,”jika kau mengira aku adalah Kwang Min, kau salah... aku Young Min saudara kembar Kwang Min..., aku yakin Kwang Min tak pernah menceritakan padamu...” cibir Young Min.
Yong Bin masih diam tak percaya dan tetap menatap Young Min.
“kau tak percaya padaku? Apakah sikapku sekarang sebaik Kwang Min? Kau kekasihnya bukan? Seharusnya kau mengenalinya dengan baik...” tambah Young Min dengan nada jengah.
“benarkah? Benarkah..., apakah kau yang...”
“jika kau menyangka aku yang mengatakan hal itu, aku tak akan berbuat seromantis Kwang Min..., dia yang mengatakannya dan bukan aku..., kau mengerti? Selama 5 tahun ini aku hanya dua kali bertemu dengannya...”jelas Young Min,”tinggalkan dan ikut aku...” Young Min mengambil figura itu kemudian menarik Yong Bin pergi. Dengan tatapan tak fokus Yong Bin hanya terdiam di tempatnya hingga Young Min datang dengan motor besarnya,”pakai ini...”Young Min menyerahkan helm pada Yong Bin yang hanya diam. Dengan jengkel Young Min menarik helm Yong Bin dan mengenakannya pada Yong Bin lalu menariknya.
“jika kau tak terbiasa..., kau cukup memegang jaketku saja...”ucap Young Min dan mulai menyusuri jalan dengan kecepatan max. Tanpa menyadari Yong Bin menyadarkan kepalanya ke punggung Young Min dan mulai menangis di antara derulaju kendaraan.
Sementara Young min hanya terdiam dan fokus pada jalan, berusaha membiarkan Yong Bin menangis sepuasnya.

Young Bin baru menyadari motor itu berhenti setelah dering handphonennya berbunyi. Dengan cepat Yong Bi mengangkat dan berkata,”aku..., maaf senior aku... mungkin malam ini tidak bisa..., ya aku tak apa..., aku tak apa-apa sungguh..., gomawo..., oh iya senior..., ada yang ingin ku bicarakan..., baiklah jika kau ada waktu saja..., ya...”ucap Yong Bin kemudian menutup ponselnya dan menatap ke arah laut. Young Min yang bersandar pada motornya menatap jauh ke arah pantai.
“aku ingin pulang...”ucap Yong Bin sambil menyeka air matanya.
Tanpa perduli Young Min mengambil kunci motornya dan membuang ke arah pasir pantai.
“kau gila?”teriak Yong Bin panik.
“jika kau ingin pulang carilah...” dengan cueknya Young Min melepas sepatunya dan berjalan ke arah pantai.
“ya....ya....”dengan jengkel Yong Bin melepas sepatu boots nya dan mengikuti Yong Min berjalan ke pantai,”kau gila atau apa..., baiklah kau berbeda dengan Kwang Min...”
“memang..., kau baru sadar..., pabo...”Young Min menjitak kepala Yong Bin yang langsung terasa berdenyut.
“ya..., apa mau mu hah? Tak puaskah kau mengerjaiku? Kwang Min memang lebih baik...”teriak Young Min yang langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menatap marah Yong Bin.
“kau kira..., apa alasan Kwang Min memutuskanmu? Kau tak lebih baik dari pada aku..., kau hanya bisa menangisinya tanpa bisa berkata jujur..., bahkan kau menipu dirimu sendiri...” ucap Young Min dengan nada agak keras.
PLAK..., Yong Bin memukul pipi kiri Young Min yang langsung tersenyum sinis.
“kau..., kau tak tau apa-apa tentang hubunganku kau tak akan mengerti..., ya... aku membohongi diriku sendiri kau puas? Bahkan teman terbaikku meninggalkan ku karena kebodohanku karena aku yang bodoh...”teriak Young Bin di tengah deru pantai, kemudian dia terduduk lemah dihadapan Young Min,”kau benar aku yang salah..., aku telah berjanji, tapi ketika melihatnya aku melihatnya lagi...., hatiku terasa sakit..., sangat menyakitkan bagiku...”
“tak cukupkah kau tadi menangis?”tanya Young Min dengan nada jengkel. Kemudian Young Min menarik Yong Bin untuk bangkit dan menariknya.
“kau mau membawaku ke mana lagi? Heii..., kau gila heiii...”
BRUSH... Young Min mendorong Yong Bin ke pantai.
“yaaaaaaaaaa...., kauu... kauuu gilaa...”pekik Yong Bin dengan kesal, pakaian yang dia kenakan basah dan Young Min hanya mentertawakannya. Dengan cepat Yong Bin bangkit dan berusaha mengejar Young Min yang berlari menghindarinya. Seakan melupakan apa yang terjadi sesaat, tawa di wajah Yong Bin begitu lepas. Di balik tangisannya selama ini tawa itu sungguh menawan Young Min yang tak berhenti untuk menatap Yong Bin.

“apa yang harus aku lakukan sekarang? Pakaianku basah gara-gara kau...”sungut Yong Bin sambil memeras rambutnya.
“ya..., kau kira pakaian ku tidak basah? Aish...”ucap Young Min sebal.
“lalu...”
“diam dan ikuti aku...” Young Min menggenggam tangan Yong Bin dan menariknya ke sebuah rumah di tepi pantai. Dengan perlahan Young Min mengetuk rumah itu.
Seorang wanita tengah baya keluar dengan senyum lebar pada keduanya.
“Young Min..., akhirnya kau datang dengan ke kasihmu...”pekiknya dengan penuh minat pada Yong Bin.
“ya..., dia bukan kekasihku...”ucap Young Min jengah lalu masuk ke dalam rumah itu.
“mengapa kau tak mengatakannya pada bibimu ini? Ah..., kau manis sekali... di mana kalian bertemu?” tanya sang bibi tanpa henti-hentinya menatap Yong Bin.
“ti...tidak kami hanya...” ucap Yong Bin menggigil kedinginan.
“pakai ini...” Young Min melemparkan handuk pada Yong Bin, yang langsung menangkapnya,”tangkapan hebat..., gerakanmu masih sama seperti turnamen itu...”ucap Young Min yang langsung menuju dapur,”bi..., bisakah kau meminjamkannya pakaian...,dan jangan menggodanya lagi....”ucap Young Min dari arah dapur.
“ya baiklah..., dasar dingin sekali kau dengan bibimu..., ayo nona ikuti aku...” ucap sang bibi. Yong Bin yang sempat terdiam berfikir agak terkejut hingga akhirnya dia bisa mengikuti langkah wanita itu,”akan manis untukmu mengenakan pakaian ini...”ucapnya dengan senang. Sang bibi telah mengeluarkan 5 pasang pakaian yang berserakan di tempat tidur.
“bi..., bisakah aku mendapatkan pakaian yang biasa saja?” tanya Yong Bin dengan dahi berkerut melihat pakaian itu.
“sudahlah..., kau mandi saja..., soal pakaian biarkan aku yang mengurus...”ucap sang bibi sambil mendorong pelan Yong Bin ke arah kamar mandi.
Tak lama Yong Bin selesai dan sang bibi menyerahkan pakaian yang telah di pilihnya. Dres dengan pita di dada kanannya dangan terlihat sangat girly.
Yong Bin menatap tak enak pakaian itu namun pada akhirnya dia memakainya dan menatap dirinya di kaca.
“sangat manis..., benarkan kataku..., ah andai aku memiliki anak sepertimu...”kenangnya dan sedikit meneteskan air matanya,”ish... sudahlah..., aku akan merapikan rambutmu...” Yong Bin yang sempat merasa risih hanya diam menurut pada wanita itu.

“ayo...” ucap wanita itu sambil menarik yong Bin turun.
“aku... aku...” ucap Yong Bin ragu.
“ayo..., kurasa suamiku telah datang...”dengan tarikan kuat sang bibi akhirnya Yong Bin keluar dan Yong Min yang sedang berbincang dengan seorang pria terdiam menatap Yong Bin.
“wow..., jadi dia..., dia cantik menurutku...”ucap laki-laki itu sambil berkedip pada wanita di sebelah Yong Bin. Yong Bin terus menunduk malu hingga makan malam selesai dan keduanya terpaksa bermalam di rumah itu.
Yong Bin duduk di teras atas dengan tatapan sayu menatap ke arah pantai. Mengingat peristiwa tadi membuat wajahnya memerah dan merasakan degupan lain.
“a...ani...”Yong Bin berusaha menghilangkan perasaan itu, ketika sesuatu yang keras mengena kepalanya.
“apa yang kau fikirkan?” ucap Young Min yang datang dengan kotak p3k.
“kau ini..., hentikan kebiasaanmu memukulkan sesuatu di kepalaku...”dengan jengkel Yong Bin berusaha membalas namun Young Min lebih cepat dan menariknya untuk duduk. Young Min berlutut dan memegang perlahan lutut Yong Bin yang terluka,”a...apa yang kau lakukan?”wajah Yong Bin bersemu merah dan berusaha menyingkirkan tangan Young Min.
“aku hanya ingin mengobati lukamu...”jawab Young Min lalu mengeluarkan pembersih luka dan mulai mengobatinya.
Yong Bin terdiam malu dan menatap Young Min yang sedang serius mengobati lututnya. Perlahan Yong Bin mengamati seluruh wajah Young Min. Menelusuri setiap wajahnya membuatnya mengerti ada sesuatu yang membuat perasaannya berdebar. Yong Bin berusaha menghilangkan perasaan itu, dia mengulang di dalam hati bahwa dia hanya mencintai Kwang Min. Namun semakin Yong Bin menatap mata Young Min, semakin hebat debaran yang di rasakannya.
“ku mohon..., biarkan aku sendiri yang mengobatinya...”ucap Yong Bin berusaha mengambil obat dari tangan Young Min.
“apa yang kau lakukan? Kau tak akan bisa...” Young Min menapik tangan Yong Bin, lalu beralih mengusapkan obat luka itu di sepanjang telapak kaki Yong Bin yang terkena pecahan kerang,”setidaknya kau harus merawat dirimu sendiri sekeras apapun kau berlatih basket...”.
“dari mana kau...”Yong Bin merasa heran dan ingatan itu terlintas sesaat dan membuat Yong Bin sempat terdiam.
“ada apa?” tanya Young Min agak khawatir.
“tidak..., aku... aku hanya merasa lelah...”ucap Yong Bin berusaha mengalihkan.
“baiklah...”Young Min melekatkan plester luka di kaki Yong Bin kemudian beranjak sambil merapikan obat luka di tangannya,”aku akan mengantarmu ke kamar..., ayo...” lagi-lagi Young Min menggenggam tangan Yong Bin dan membuat wajahnya semerah tomat. Young Min mengantarnya ke sebuah kamar dengan pemandangan ke arah laut dan sangat cantik,”aku ada di kamar sebelah jika kau ingin meminta bantuan...”Young Min akan menutup pintu ketika Yong Bin sedikit menahan pintunya dan menatap ragu pada Young Min,”ada apa?”
“kau..., saat itu..., saat aku melihatmu bersama...”Yong Bin berusaha meneruskan kata-katanya namun Young Min hanya tersenyum miring,”apa yang kau tertawakan?”tanya Yong Bin kesal.
“kau terlihat seperti cemburu? Aku hanya bermain-main dengan wanita itu..., kau tau aku sangat populer di kalangan gadis-gadis...” jawab Young Min dengan cueknya dan membuat Yong Bin jengah.
“hah..., kau terlalu percaya diri..., sudahlah...”Yong Bin menutup pintu dengan sedikit keras dan bersandar sambil menahan rasa malunya,”dasar pabo..., apa yang aku lakukan?”Yong Bin memukul kepalanya dengan pelan kemudian menutup wajahnya dengan kesal.

Malam itu tangis Yong Bin terdengar sangat memilukan, tanpa di sadari dirinya sendiri, dia menangis dalam tidurnya. Dengan perlahan Young Min masuk ke kamar itu dan mengusap air mata Yong Bin perlahan,”jangan menangis lagi, atau aku akan merasa semakin terluka...”ucap Young Min matanya mengarah pada tangan Yong Bin dan menggenggam sambil mengecup tangan itu sangat lama,”selama tiga tahun aku lari dari kenyataan aku lari sebagai pengecut, aku merindukanmu setelah kecelakaan itu..., aku ingin mencoba kembali, tapi yang aku lihat kau bersama Kwang Min, mencintainya dan melupakanku...,salahku..., salahku membuat mu..., tak mengingatku lagi..., maafkan aku... aku tak ingin melihat kau menderita lagi..., aku tak ingin kau menangis lagi..., kali ini... kau mencintai Kwang Min..., aku akan membantumu... untuk bersamanya...”sekali lagi Young Min mencium tangan Yong Bin sepanjang malam itu.

“apa harus?”tanya Yong Bin menatap ke motor Young Min dengan sedikit keengganan.
“ashh..., kau ini..., semalam kau tak keberatan, ada apa? Kau takut terlihat pacarmu?” tanya Young Min dengan menggoda.
“a...apa..”
“kau ada janji bukan? Cepatlah... aku akan mengantarmu..., setelah itu... ikut aku... aku akan mengantarmu pada seseorang...”ucap Young Min dengan nada sedikit merendah,”ayo cepat...” Young Min menarik Yong Bin dan mengenakan helm di kepalanya. Dengan berat hati Yong Bin naik ke motor itu dan keduanya pergi di ikuti lambaian manis bibi Young Min.
“kau kira aku akan kemana? Antarkan aku pulang...” teriak Yong Bin di balik deru angin.
“aku akan mengantarmu ke cafe itu...”sahut Young Min.
“dari mana kau tau?” tanya Yong Bin heran,”kau membaca pesan di handphoneku?”
“ya..., tak ada waktu..., sebelum orang yang menunggumu pergi...” jawab Young Min. Yong Bin hanya diam sambil memegang jaket Young Min dengan kuat.

“kau datang?”ucap Yong Bin dengan terengah.
Dong Hyun menatap tak suka di balik kaca pada Young Min yang menunggu Yong Bin di motornya.
“ada yang ingin ku katakan...”ucap Yong Bin kemudian.
“tunggu...”ucap Dong Hyun. Seseorang datang dan membawa sesuatu.
“ya... Dong Hyun..., jadi ini wanitamu? Dia cantik... aku tak menyangka kau akan mendapatkannya..., aku kalah darimu... aku membayarnya... kau memang hebat...”ucapnya dengan nada sinis memandang Yong Bin.
Yong Bin menatap tak percaya pada Dong Hyun.
“ya...Lee Jung Min...”ucap Dong Hyun berusaha menahan.
“nona...”ucap Jung Min,”kau tau.. Dong Hyun bertaruh untuk mendapatkanmu..., aku tak menyangka dia akan sukses mendapatkanmu... aku dengar kau... kapten basket?”
Dengan menahan gemetar Yong Bin hanya diam tertunduk.
“diam kau Jung Min...” Dong Hyun menarik kerah Jung Min,”apa yang kau katakan hah? Apa maumu?”tanya Dong Hyun marah.
“hei boy..., apa aku salah? Seperti perjanjian..., mobilku... milikmu...”ucap Jung Min dengan nada sinis lalu mengeluarkan sebuah kunci.
“tak perlu...”BUGH..., Dong Hyun memukul Jung Min dengan keras.
“hentikan...”ucap Yong Bin menahan geraman di hatinya,”hentikan senior...”
“Yong Bin..., jangan dengarkan dia aku sungguh-sungguh menyukaimu...” ucap Dong Hyun berusaha meyakinkan Yong Bin.
Yong Bin berusah tenang dan menatap mata Dong Hyun dengan kegetaran,”aku tak tau apa yang harus aku katakan senior..., aku tak tau aku harus bagaimana..., hari ini aku ingin berbicara padamu..., aku ingin mengatakan..., maafkan aku...”ucap Yong Bin sambil menunduk,”aku tak bisa meneruskan hubungan ini senior..., aku tak ingin membuat senior terluka..., maafkan aku senior...” Yong Bin terus menunduk pada Dong Hyun.
“apa kau bilang? Tidak..., tak akan..., kau... aku benar-benar menyukaimu Yong Bin...”Dong Hyun memegang kedua pundak Yong Bin dengan kuat,”tidak..., lupakan kata-katanya...”
“jangan membohongi dirimu Dong Hyun...”ucap Jung Min,”kau masih menyukai adikku kan? Kau menyukainya...”
“apa maksudmu...” ucap Dong Hyun marah.
“Hyo Ra..., kau menganggap wanita ini sebagai penggantinya, setelah kematian Hyo Ra..., aku hanya ingin melihatmu bangkit dengan taruhan itu..., cukup sampai di sini Dong Hyun...”jawab Jung Min dengan tenang.
“pengganti ataupun barang taruhan..., maafkan aku senior aku tak bisa meneruskannya..., karena aku... sudah menyukai orang lain..., mianhe...mian...mian...”ucap Yong Bin yang sempat terdiam, walaupun rasa sakit di hatinya semakin menjadi, tapi dia berusaha untuk tidak membuat dirinya terluka lagi.
“tidak...”teriak Dong Hyun. Seisi cafe yang menatap ke arah mereka hanya terdiam menyaksikan perdebatan itu,”dan kau Jung Min, ya... Hyo Ra...aku memang menganggap dia sebagai Hyo Ra...,jika aku menyakiti diriku sendiri..., apa pentingnya bagimu?”
“Dong Hyun...”
“diam kau..., Yong Bin..., aku tak ingin melepaskanmu... meskipun kau menyukai orang lain..., meskipun aku harus berbuat kasar padamu..., aku tak akan melepaskanmu...”tekad Dong Hyun, kemudian dia menarik Yong Bin pergi.
“senior lepaskan aku...”Yong Bin berusaha memberontak namun Dong Hyun yang tak perduli hanya diam dan mengarah ke mobilnya.
“masuk...”
“tidak...”Yong Bin berusaha kabur namun Dong Hyun menariknya.
Young Min datang dan memukul Dong Hyun dengan keras hingga Dong Hyun jatuh ke sisi mobilnya.
“apa yang kau lakukan hah?” ucap Young Min dengan sangat marah. Yong Bin berlindung di belakang tubuh Young Min dengan gemetar.
“kau..., sudah kukatakan Yong Bin tak pantas untuk pria penyakitan sepertimu...”Dong Hyun menyeka darah di sisi bibirnya dan bangkit sambil menatap Young Min marah.
“jadi karenamu..., kau kira hati seseorang dapat kau pengaruhi hanya dengan seperti itu?” tantang Young Min.
“ya..., lalu..., kau ingin kembali? Yong Bin adalah milikku...” ucap Dong Hyun dengan cepat dia mengepalkan tangannya dan akan memukul Young Min ketika Yong Bin melesat menamengi Young Min sambil merentangkan kedua tangannya.
BUGH..., pelipis Yong Bin terkena pukulan Dong Hyun dan membuatnya mengeluarkan darah.
“Dong Hyun hentikan...”ucap Jung Min yang mencoba menarik Dong Hyun namun terlambat,”Hyo Ra..., tak ingin kau seperti ini..., kau mengerti tidak betapa adikku mencintaimu..., hingga saat terakhirnya hanya kau yang dia ingat...”
Dong Hyun terdiam kaku sambil menatap Yong Bin yang terluka.
“Ya..., Yong Bin..., hei... apa yang kau...” Young Min akan membalas pukulan Dong Hyun namun Yong Bin memeluknya dari belakang berusaha menahan Young Min.
“jangan...”bisik Yong Bin tertahan menahan rasa perih di pelipisnya.
Young Min terdiam tak jadi membalas. Yong Bin maju kehadapan Dong Hyun dan sekali lagi menunduk,”Mianhamnida...Mianhamnida...,senior...maafkan aku..., seberapa kalipun senior memukulku... aku tetap tak bisa mencintai senior...”Yong Bin mengangkat tubuhnya dan menggenggam tangan Dong Hyun yang terkepal,”aku bukan pilihan terbaik bagi senior...,memaksakan cinta yang bukan pada tempatnya akan lebih menyakitkan senior..., Mianhe... maafkan aku...maafkan aku....”pinta Yong Bin berulang.
Dong Hyun terdiam cukup lama dan menggeram sedikit,”baiklah jika itu maumu..., aku tau siapa yang kau cintai..., kata-kataku aku menyukaimu bukanlah kebohongan..., aku sungguh-sungguh menyukaimu..., kau benar memaksa itu menyakitkan... walaupun aku tau saat kau menerimaku kau menatap Kwang Min..., akupun bersalah padamu..., pergilah...aku tak akan pernah mengganggumu lagi...”ucap Dong Hyun lalu melepaskan tangan Yong Bin dari tangannya.
Yong Bin mengangguk lalu sekali lagi menunduk pada Dong Hyun dan berkata,”Gomawo...” dengan cepat Young Min menariknya pergi, meninggalkan Dong Hyun bersama Jung Min.
“kau gila...”ucap Young Min,”tunggu di sini aku akan segera kembali...”Young Min berlari ke sebuah toko. Sementara Yong Bin menunggu di bawah bangku taman sambil menyeka darah dari pelipis kepalanya. Tak lama dong Hyun Kembali dengan pembersih luka dan perban,”baru semalam aku mengobatimu dan sekarang aku harus mengobatimu lagi..., kau pabo...”maki Young Min khawatir.
Yong Bin hanya tersenyum senang dengan perhatian Young Min yang membuatnya semakin berdebar,”aku tau aku memang pabo..., aku bukan gadis yang memiliki keanggunan..., tapi setidaknya aku wanita yang bisa menyelesaikan masalahku sendiri...”ucap Yong Bin sambil berekerut saat Young Min menyeka luka di pelipisnya.
“kau ini..., benar-benar...”keduanya saling berpandangan dan terdiam lama,”sudahlah...”ucap Young min lalu memperban luka Yong Bin. Walaupun sedikit kecewa Yong Bin bersyukur itu tidak terjadi,”ayo..., aku telah berjanji padamu...”
“kemana?” tanya Yong Bin penasaran.
“ikuti aku...”jawab Young Min dengan penuh misteri. Yong Bin hanya diam menurut.

Setibanya di rumah sakit, di depan kamar rawat pribadi...
Yong Bin terdiam menatap tubuh lemah sedang tertidur di depannya.
“apa yang terjadi?”tanya Yong Bin kaku.
“Kwang Min menderita kelainan sel darah dan membuatnya lemah..., ku rasa dia tak menceritakan padamu tentang penyakitnya ini...”ucap Young Min menatap miris ke arah saudara kembarnya.
Yong Bin mendekat dan menggenggam tangan Kwang Min, hingga Kwang Min terbangun dengan isakan Yong Bin.
“kau...”ucap Kwang Min menatap Yong Bin lalu Young Min,”kau berjanji tak akan mengatakan padanya...”protes Kwang Min tak suka.
“bodoh..., cepat atau lambat dia akan mengetahuinya..., aku akan meninggalkan kalian berdua...”ucap Young Min lalu pergi dari ruangan itu.
“Yong Bin...”
“kau mengatakan kau menyukai orang lain...”
“Yong Bin...”
“kau meninggalkanku membuatku berfikir kau adalah orang yang sangat jahat...”ucap Yong Bin lagi.
“Yong Bin..., tenanglah...” Kwang Min berusaha menenangkan.
“mengapa? Mengapa kau tak mengatakannya Kwang Min?”tanya Yong Bin menahan ledakan di dadanya.
“aku tak ingin kau melihatku seperti ini...”jawab Kwang Min sambil tersenyum.
“kau bahkan membiarkanku menerima orang lain..., kau... kau bodoh...” maki Yong Bin yang tak dapat menahan air matanya lagi. Yong Bin akan pergi ketika Kwang Min menahannya.
“aku memang bodoh...,saat aku melihat kau yang terluka aku tak ingin kau lebih terluka lagi..., aku menahan perasaanku... tapi aku tak bisa...aku tak kuat lagi menahan perasaanku...sekarang saat kau ada di depanku... maafkan aku Yong Bin...” Kwang Min menarik Yong Bin ke pelukannya. Yong Bin terisak bergetar di pelukan Kwang min yang terus membelai rambut Yong Bin dengan lembut.
Sementara di luar Young Min hanya diam tersenyum ke arah pintu dan pergi.

Kwang Min menyelimuti Yong Bin yang tertidur di sebelahnya. Saat akan mengecup kening Yong Bin Kwang Min mendengar sebuah nama dari mulut Yong bin,”Young Min...” Kwang Min terdiam aneh.

Setiap hari Yong Bin datang menjenguk Kwang Min yang berangsur membaik.
“aku datang...”ucap Yong Bin tersenyum, lalu rautnya berubah menjadi gugup saat Young Min berada di ruangan itu setelah berminggu-minggu tak terlihat.
“Yong Bin...”ucap Kwang Min membalas senyum Yong Bin.
“m..., aku membawakanmu apel...”ucap Yong Bin dengan gugup.
“bisakah kau..., membelikanku kue kering?” pinta Kwang Min yang tau kegugupan Yong Bin.
“ya..., tentu...”ucap Yong Bin yang langsung beranjak pergi setelah meletakkan apel di meja dan sempat menatap Young Min sebelum menutup pintu.
“ashhh...ada apa denganku...pabo...”ucap Yong Bin memukul kepalanya dan berkerut kesakitan.
“Kau... Yong Bin...”ucap seorang pria menghentikan langkah Yong Bin.
Yong Bin mengerutkan alisnya menatap pria itu,”kau siapa?” tanya Yong Bin yang tak mengingat orang itu sama sekali.
“kau tak mengenali ku? Aku Min Woo..., kau ingat?” tanya Min Woo.
Yong Bin menggeleng kuat pada Min Woo,”aku tak tau...”
“ash..., aku anggota club basket pria saat kita berada di sekolah menengah pertama..., kau tak ingat? Setelah kecelakaan itu kau memang langsung pindah keluar kota....” ingat Min Woo.
“kecelakaan?” Yong Bin bertanya balik tak mengerti.
“ya..., saat itu... kita sedang ada pertandingan dan kau ingat Young Min? Dia bertengkar dengan salah senor basket, dia keluar begitu saja dan kau berusaha mengejar tapi..., kalian berdua mengalami kecelakaan itu...”jelas Min Woo.
Yong Bin terdiam, sekelebat ingatan membuatnya sedikit pusing,”aku? Kecelakaan?”
“ya..., dan ku dengar saat itu kau menembak Young Min..., bagaimana? Apakah kalian masih bersama? Setelah kejadian itu Young Min ikut pindah entah kemana...” ucap Min Woo lagi,”kau bertambah cantik saja...”
“maaf...”ucap Yong Bin yang langsung berlari pergi meninggalkan Min Woo yang kebingungan.
Yong Bin berusaha menuju kamar Kwang Min namun dia jatuh terduduk sambil memegang kepalanya yang berdenyut.
Ingatan demi ingatan kembali memenuhi fikiran Yong Bin yang terdiam menahan sakit. Ingatan saat dia mengejar Young Min yang akan pergi dan mengatakan cinta pada Young Min namun saat itu ada sebuah mobil akan menabrak Young Min yang terdiam di tengah dan Yong Bin mendorongnya dengan sekuat tenaga. Saat itu dia sempat menatap mata Young Min yang juga menatap dirinya lalu keduanya tak sadarkan diri. Saat sadar Yong Bin tak mengingat satupun, hanya ada dia dan kedua orang tuanya. Ingatan itu membuat Yong Bin menangis tertahan.
“ada apa denganmu? Kenapa kau menangis lagi?” tanya Young Min yang baru saja keluar dari kamar Kwang Min lalu menyeka air mata Yong Bin dan membantunya bangkit,”jika hanya karena terjatuh kau tak usah menangis..., masuklah... Kwang Min menunggumu...”ucapnya lalu berjalan pergi.
“tunggu... Young Min...”ucap Yong Bin menahan langkah Young Min.
“ada apa? Cepat masuk...”
“kau menolongku..., hanya karena kasihan atau karena hal lain? Kau merasa bertanggung jawab padaku?”tanya Yong Bin dengan tenang.
“apa yang kau katakan? Masuklah...”perintah Young Min.
“tolong jawab pertanyaanku...” pinta Yong Bin.
Young Min diam tak menjawab,”aku hanya merasa kau kasihan pada kalian berdua..., aku merasa bertanggung jawab menyatukan kalian kembali..., itu cukup?”tanya Young Min.
“hanya itu?” tanya Yong Bin memastikan.
“apa yang kau harap? Aku merasa bertanggung jawab pada setiap tindakan yang aku lakukan...”ucap Young Min dengan pasti.
Yong Bin diam tak menjawab, hingga Young Min mendorongnya masuk ke kamar Kwang Min dan tersenyum pada Yong Bin sebelum menutup pintu.
“kau sudah datang?”ucap Kwang Min sambil tersenyum.
“eh...m...”Yong Bin mendekat pada Kwang Min dan teringat apa yang dia lupa bawakan,”mianhe..., aku lupa... akan aku belikan...”
“tak perlu...” ucap Kwang Min sambil menahan tangan Yong Bin,”ada yang ingin ku bicarakan denganmu...” Kwang Min menghela nafas sesaat.
“ada apa?” tanya Yong Bin bingung.
“aku mencintaimu...”ucap Kwang Min perlahan dan menyentuh pipi Yong Bin lembut.
“ada apa Kwang Min?”tanya Yong Bin dengan nada resah.
“kau tau seberapa takutnya aku kehilanganmu saat ini..., seberapa aku menahan perasaanku sendiri..., aku ingin tau... apakah kau masih mencintaiku Yong Bin?” tanya Kwang Min kembali sambil menatap mata Yong Bin yang menunjukkan keengganan menjawab pertanyaan itu.
“aku..., kenapa kau bertanya seperti itu?” tanya Yong Bin gusar.
“jawablah...”
“aku..., aku...”ucap Yong Bin ragu.
“mengapa? Apakah kau...”Kwang Min berusaha membuat Yong Bin berbicara.
Yong Bin berpaling ke arah lain dan menjawab,”kau meragukanku?”
“tidak aku hanya..., tak ingin kehilanganmu lagi..., aku ingin kau hanya mengingatku saja dalam fikiranmu...”ucapan Kwang Min mebuat Yong Bin merasa ada maksud lain di balik itu,”Yong Bin...ikut aku..., ikutlah denganku keluar negri..., orang tuaku telah menemukan rumah sakit yang dapat menyembuhkanku..., selama 5 tahun... aku tak ingin kehilanganmu lagi..., ikutlah denganku...”pinta Kwang Min sambil menggenggam erat tangan Yong Bin yang langsung menatapnya tak percaya.
“apa yang kau katakan?”Yong Bin seakan ragu untuk mengiyakan permintaan Kwang Min.
“ikutlah denganku Yong Bin..., aku akan menyiapkan tiket dan segala yang kau perlukan..., jika kau ragu... kau dapat meninggalkanku sekarang...”kata-kata Kwang Min seakan terasa beban yang membuat mulut Yong Bin kelu untuk mengatakannya.
“kapan?”tanya Yong Bin lambat-lambat.
“minggu depan...,setelah kau mengikuti turnamen final..., kita akan langsung pergi...”ucap Kwang Min penuh harap.
Dengan ragu Yong Bin mengangguk pelan. Kwang Min langsung memeluk Yong Bin dengan penuh suka cita,”gomawo..., gomawo Yong Bin...”
Yong Bin hanya diam dalam pelukan Kwang Min.

Sehari sebelum keberangkatan Yong Bin melakukan pertandingan turnamen final. Sekor berimbang ketat. Yong Bin yang kurang konsentrasi sering melakukan kesalahan.
“ada apa denganmu Yong Bin?”ucap Yong Bin dalam dirinya sendiri.
“ada apa denganmu kapten?” tanya Sang Mi.
“aku merasa..., ash... sudahlah ini masalahku...”ucap Yong Bin dengan rasa bersalah.
“kapten lihat..., ada yang memanggilmu...”ucap Sang Mi sambil menunjuk ke arah Kwang Min yang menonton dari bangku penonton.
“Kwang Min...”setengah terkejut Yong Bin menatap Young Min yang ada di sebelah Kwang Min yang menemaninya.
“Yong Bin..., semangatlah...”teriak Kwang Min kemudian terbatuk.
Yong Bin tersenyum kemudian kembali kelapangan. Permainan kembali memanas ketika sekor berimbang.
“Sang Mi...”teriak Yong Bin mengoper bola pada rekannya. Yong Bin yang di hadang berusaha melewati barikade pemain lain yang menjaga ke arahnya hingga dia terjatuh.
“kapten...”ucap pemain lain. Yong Bin berusaha bangkit dan memulai kembali. Detik terakhir tak ada kesempatan bagi Yong Bin selain menshoot bola di tangannya, dengan sedikit melompat Yong Bin menshoot bolanya ke arah ring. Seperti gerakan lambat bola Yong Bin berputar ke arah ring dan masuk dengan indahnya.
Sorak sorai penonton di lapangan membahana dengan riuhnya menyambut kemenangan tim sekolah mereka. Para pemain melompat senang dan saling berpelukan. Yong Bin menatap ke bangku penonton sambil tersenyum bahagia pada Kwang Min dan balas tersenyum padanya. Kwang Min dengan wajah pucat itu menatap sayu Yong Bin di tengah lapangan dan sunggingan senyum terakhirnya sebelum menutup matanya dan jatuh di bangku penonton.

“apa yang terjadi?”tanya Yong Bin panik.
“Kwang Min memaksakan dirinya..., apa yang kau lakukan hah? Membawa Kwang Min dalam kondisi tak sehat..., kau memang tak pernah berubah sama seperti ayahmu...”maki ibu Kwang Min sambil memukul Young Min berulang.
Young Min hanya diam menerima serangan dari ibunya tanpa sedikitpun melawan. Tanpa di sadarinya Yong Bin kembali menghadang pukulan ibu Kwang Min pada Young Min.
“hentikan bi...”ucap Yong Bin.
“apa yang kau lakukan..., ini bukan urusanmu...” maki ibu Kwang Min dan mendorong Young Bin kebelakang, lalu Young Min dengan sigap menahannya.
“hentikan bu..., hentikan ibu menyalahkan ayah..., yang ibu lakukan akan membuat Kwang Min sedih jika dia tau wanita yang dia cintai ibu perlakukan seperti ini...”ucap Young Min.
“apa kau...”seorang dokter keluar dan sang ibu segera menemuainya sementara Young Min menarik Yong Bin pergi. “apa yang kau lakukan tadi...”tuntut Young Min.
“aku tak melakukan apapun...” ucap Yong Bin.
Keduanya terdiam membisu hingga Young Min kembali berkata,”jadi kau akan pergi besok?”
Yong Bin hanya mengangguk pelan.
“tolong jaga Kwang Min..., sejak kecil dia begitu lemah..., aku harap semua akan berjalan..., jaga dirimu...” ucap Young Min lalu berbalik pergi.
Yong Bin yang akan menahan kepergian Young Min hanya terdiam menatap punggung Young Min yang semakin menjauh.

Yong Bin menekuk lututnya sambil memandang koper di depannya. Hingga Yong Bin tak menyadari Ji Ah masuk ke kamarnya.
“Yong Bin..., apa yang kau lakukan? Kau tak bersiap pergi?”tanya Yong Bin dengan nada canggung.
“Ji Ah...”Yong Bin langsung menghamburkan pelukan pada sahabtnya yang datang kembali,”miahe Ji Ah..., mianhe..., aku tak bermaksud untuk...”
“sudahlah..., aku yang seharusnya meminta maaf padamu Yong Bin..., Young Min telah menceritakan apa yang terjadi..., tak seharusnya aku seperti itu padamu...maafkan aku...”ucap Ji Ah setengah terisak.
“mianhe...mianheeeeee...”keduanya berpelukan begitu lama hingga Ji Ah melepaskannya dan menatap Yong Bin.
“tunggu apa lagi..., pergilah...” ucap Ji Ah.
“ aku tak tau apa yang harus aku lakukan , Ji Ah aku bingung..., aku taku melukai keduanya... aku aku merasa... aku terlalu...”Yong Bin meremas rambutnya dengan kesal.
Ji Ah tersenyum pada sahabatnya,”kau sudah berubah Yong Bin..., ketika menyayangi seorang pria dengan mencintai seorang pria kau akan menemukannya di dalam hatimu...”Ji Ah mengangkat tangan Yong Bin dan meletakkan di dadanya,”rasakan..., apa yang ada di hatimu... dan itulah jawabannya....”
Yong Bin menutup matanya dan berusaha menarik nafas lalu mebuka sekali dan memeluk Ji Ah erat,”gomawo...gomawooo..., aku tau kau akan datang kau lah sahabat terbaikku...” dengan cepat Yong Bin berlari.
Dan Ji Ah tersenyum dengan penuh kebahagian, dan berucap kecil,”aku senang kau masih menerima aku yang egois ini..., kejarlah cintamu Yong Bin...”

Yong Binterus berlari dan menyetop sebuah taksi menuju bandara tempat di mana Kwang Min menunggu di luar terminal keberangkatan bersama ibunya.
“Yong Bin kau datang..., ibu..., ibu masuk saja dulu... kami akan menyusul...”ucap Kwang Min pada sang ibu yang terlihat tak setuju namun luluh dengan permintaan sang anak kemudian masuk ke dalam terminal keberangkatan,”ayo...”
“Mianhe Kwang Min..., maafkan aku... aku tak bisa ikut denganmu..., aku tau aku bersalah tapi aku mohon maafkan aku..., aku mungkin egois..., tapi aku mohon maafkan aku...”Yong Bin menunduk lama hingga Kwang Min menegakkannya lalu tersenyum penuh arti padaYong Bin.
“aku tau pada akhirnya kau akan memilih dia...”senyuman Kwang min membuat Yong Bin tak sanggup memandangnya.
“Kwang Min..., maaf...”
“aku tau..., aku tak akan bisa menahanmu seberapa kuatnya aku menahanmu..., pergilah pada Young Min...” ucap Kwang Min pada akhirnya ada getaran dalam kata-katanya,”pergilah...”Kwang Min mendorong Yong Bin berbalik dan berbalik akan masuk ke dalam terminal ketika Yong Bin menarik dan menciumnya. Lama hingga orang-orang menatap keduanya.
“aku belum menyelesaikan kata-kataku..., aku tak ingin pergi... bukan berarti aku memilih Young Min..., aku mencintaimu...itu yang ingi ku katakan padamu..., tapi aku tak bisa pergi denganmu..., aku tau aku egois..., aku akan nmenunggumu berapa lamapun..., aku akan menunggumu...”senyum Yong Bin terkembang menatap wajah Kwang Min yang diam terkejut.
“kau..., sungguh...sungguh?” yakin Kwang Min tak percaya, Yong Bin mengangguk pasti.dengan cepat Kwang Min memeluk Yong Bin dengan erat.
“aku tak bisa ikut denganmu karena aku..., aku ingin membuktikan bahwa aku akan menjadi wanita yang lebih pantas untukmu..., bukan Yong Bin yang hanya bisa menangis..., aku ingin saat kau pulang aku bisa menyambutmu sebagai seorang Yong Bin yang kuat...”ucap Yong Bin.
Kwang Min melepas pelukannya dan menatap Yong Bin tak percaya,”aku akan merindukanmu...”ucap Kwang Min menatap mata indah Yong Bin yang bersinar.
“aku pun akan merindukanmu..., pergilah..., aku akan selalu menunggumu...”janji Yong Bin lalu mengeluarkan sebuah kalung dari kantonya mirip dengankalung yang pernah Kwang Min berikan pada Yong Bin. Dengan perlahan Yong Bin mengenakannya pada Kwang Min sambil tersenyum,”jangan pernah lepaskan aku lagi..., karena aku tak akan pernah melepaskanmu...”ucap Yong Bin perlahan.
“ya..., tunggulah..., aku akan kembali dan menjadi lebih kuat..., aku akan menjemputmudan menjadikanmu mempelaiku..., maukah saat itu..., kau menikah denganku?” pinta Kwang Min.
Dengan mantap kali ini Yong Bin mengangguk,”aku bersedia...”
Kwang Min tersenyum dan berbisik lembut,”aku mencintaimu Yong Bin...” setelah itu kwang Min mengecup bibir Yong Bin mesra. Bukan perpisahan di tempat mereka sekarang ini..., hanya masalah waktu dan keduanya akan kembali bersama..., seperti janji Yong Bin... dia akan Menunggu Kwang Min kembali dan menjadikannya mempelai seperti yang di janjikan...dengan di saksikan banyak orang di bandara itu...

Young Min tersenyum di motornya sambi menatap pesawat yang meninggalkan bandara saat itu. Dengan senyum bahagia dia mengingat saat bertemu Yong Bin di bandara.
“mianhe..., aku mengingat semuanya..., maafkan aku Young Min..., aku memang masih menyayangimu...,tapi tak lebih sebatas itu..., perasaan yang timbul seketika saat itu karena aku takut..., aku takut bila aku kehilangan orang yang aku cintai..., tapi bagaimanapun..., kau adalah cinta pertamaku..., aku tak akan melupakannya begitu saja...”ucap Yong Bin merasa bersalah.
Kwang Min tersenyum pada Yong Bin lalu berkata,”aku tau..., maafkan aku membuatmu bingung..., bagaimanapun aku juga mencintaimu Yong Bin..., tapi Kwang Min lah yang memenuhi isi hatimu..., kau menangis hanya untuknya..., walaupun tubuhnya lemah tapi dia selalu berusaha untuk menjagamu dan berusaha tak membuatmu khawatir..., kau memang pantas untuknya..., pergi dan katakan...pada Kwang Min...” ucap Young Min.
Yong Bin tersenyum pada Young Min sambil memegang tangan Young Min lama,”Gomawo..., kau adalah cinta pertamaku..., tapi sekarang hatiku di penuhi oleh senyum Kwang Min..., gomawo...”Yong Bin melepas tangan Young Min lalu berlari masuk ke dalam bandara dengan di tatap oleh Young Min yang tersenyum.
Young Min kembali tersadar dari lamunannya dan tersenyum sambil membuat kotak dari tangannya yang menatap pesawat Kwang Min yang menjauh menembus langit kala itu,”kau hebat Kwang Min..., aku mengakuimu..., chukkae...” Young Min kembali menyalakan mesin motornya dan meninggalakan padang rumput itu dengan perasaan lega yang aneh.

8 Tahun kemudian...
“dia bilang hanya 5 tahun..., ya Yong Bin..., apa kau tak curiga?”tanya Ji Ah di sebuah TK tempat Yong Bin bekerja kala itu.
“Ji Ah..., aku percaya pada Kwang Min...”ucap Yong Bin dengan tenang sambil membantu seorang murid kecilnya mengenakan sepatu.
“Yong Bin..”
“apakah ibu sudah memiliki kekasih?”tanya anak itu.
“ya..., kecil-kecil kau sudah tau kekasih...”cibir Ji Ah.
Yong Bin tersenyum dan mengangguk,”apakah dia tampan?”tanya anak itu lagi.
“tentu saja..., bahkan dia sangat baik...”jawab Yong Bin sedikit terkenang,”sudah..., kau ingin menunggu?”tanya Yong Bin lagi.
“ya...”jawab sang anak, tak lama sekumpulan murid Yong Bin datang dan menarik Yong bin.
“hei ada apa ini?” ucap Ji ah heran.
“ayo ibu... keluar keluar...ayo bu...”seru anak-anak dengan ramai. Yong Bin menurut dan menuju ke taman Tk, seseorang menutupi wajanya dengan buket mawar besar dan balon lalu di tangan lain ada kotak kecil dengan pita berwarna pink.
“ya...itu...Kwang Min bukan? Dia kembali...”ucap Ji Ah yang merasa penasaran.
“aku harus memastikan...”ucap Yong Bin yang ikut merasa berdebar.
“ya...aku tau kau jadi guru populer sekarang...”geleng Ji Ah yang langsung diam memperhatikan. Anak-anak itu terus mendorong Yong Bin hingga mendekat pada orang itu.
Laki-laki itu menyerahkan buket bunganya pada Yong Bin yang langsung menerimanya, senyumnya terkembang menatap laki-laki itu.
“aku kembali... Yong Bin...”ucapnya dan membuat Yong Bin tersadar.
Yong Bin tersenyum dan tertawa,”Young Min..., jangan menipuku..., aku tau itu kau...”ucap Yong Bin pada Young Min yang menyamar menjadi Kwang Min.
“ash...sial..., dari mana kau tau?” tanya Young Min penasaran.
“aku menunggunya kau ingat...”Yong Bin mengingatkan.
“lelucon konyol...”maki Ji Ah yang merasa kecewa.
“kau yang konyol..., apa yang kau harapkan? Percintaan romantisme? Menggelikan...”balas Young Min dengan jengah.
“apa maksudmu...”Ji Ah tak ingin kalah,”kau tau kan siapa aku..., aku seorang model..., jangan meremhekanku...”tak ada yang mengalah dan keduanya saling beragumen.
“sudah-sudah..., tak baik dilihat anak-anak...”ucap Yong Bin berusaha menenangkan. Namun pertengkaran terhenti dengan deru motor yang berhenti tepat di depan Yong Bin yang terdiam. Orang itu mengenakan helm tertutup dan berjalan ke arah Yong Bin.
Dia terus mendekat tanpa melepaskan helmnya hingga hanya satu langkah dari Yong Bin,perlahan Yong Bin mendekat dan sebelum dia melepaskan helm itu, Yong Bin tersenyum,”selamat datang Kwang Min...”Yong Bin melepaskan helm Kwang Min dan menatap mata yang telah lama dia tunggu.
“aku kembali Yong Bin...”ucap Kwang Min sambil tersenyum indah.
Air mata bahagia Yong Bin menetes dan mengangguk lalu memeluk Kwang Min,”aku merindukanmu..., aku sangat merindukanmu...”
Kwang Min balas memeluk Yong Bin dan mengecup puncak kepala Yong Bin sambil berkata,”akupun merindukanmu...teramat Yong Bin..., maafkan aku..., aku datang terlambat dan membuatmu menunggu lama. . .”ucap Kwang Min lalu melepas pelukannya dan menatap Yong Bin dengan seksama,”kau cantik...”
“gomawo...,kau aku bahagia... melihat mu..., sangat merindukanmu..., jangan tinggalkan aku lagi...” ucap Yong Bin.
Young Min mendekat dan menyerahkan kotak merah itu pada Kwang Min. Kwang Min tersenyum pada Yong Bin seperti seorang kesatria membuka kotak yang berisi cincin pada Yong Bin,”cara kuno memang..., tapi seperti janjiku..., aku kembali... aku ingin kau mendampingiku dan menjadi mempelaiku..., aku akan mengulanginya..., Han Yong Bin...,marry me...”ucap Kwang Min.
Yong Bin menatap Kwang Min dan cincin di tangannya bergantian, kemudian tersenyum dan mengangguk.
“aku bersedia...”senyum Yong Bin. Kwang Min membalas senyumannya dan mengenakan cincin itu di jari Yong Bin. Anak-anak beserta Ji Ah dan Young Min bertepuk tangan bahagia pada keduanya dan saat itu..., Ji Ah menghalangi pandangan anak-anak saat Kwang Min dan Yong Bin berciuman.
“aish...mereka tak ingat ada anak-anak di sini...”maki Ji Ah terus menghalangi pandangan anak-anak pada adegan itu, tetap saja anak-anak mengintip dan bersorak pada sang guru.
Kwang Min dan Yong Bin terus berciuman melepas masa di mana keduanya terpisah hingga kemudain terikat. Sudah banyak hati yang tersakiti, tawa dan kesedihan. Tak akan ada lagi perpisahan, keduanya berjanji dalam diri masing-masing. Janji akan selalu bersama, janji menjaga pasangan masing-masing, janji indah yang membuat masing-masing diri kuat dan mampu menjalaninya, janji indah yang pada aku
hirnya menyatukan mereka...hingga akhir....

THE END

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.

© Yuna World 유나, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena