Welcome to my world,Im 유나ArataJJ admin @KBPKfamily ,author &a someone who likes to fantasize.. Thank for visit ^^

Tampilkan postingan dengan label NEVER SAY GOOD BYE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NEVER SAY GOOD BYE. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Januari 2011

“NEVER SAY GOOD BYE” PART 2~A Dream~

PART 2
~A Dream~

Linda mulai membuka matanya, perlahan dia bangun sambil memegangi kepalanya yang terasa dingin. Linda menatap ke sekeliling ruangan itu,”eh..., aku di mana?” tanya Linda bingung menatap sekeliling yang terasa asing baginya.
Linda turun dari tempat dia tidur, dia berjalan ke arah pintu, dia sedikit mengintip keluar ketika dilihatnya dua orang wanita akan masuk ke kamarnya. Linda cepat-cepat kembali ke posisi semula dan berpura-pura tidur.
”dia belum bangun juga...”kata seorang wanita.
”yang penting demamnya sudah turun...”salah seorang memegang kening Linda,”kira-kira apa yang telah tuan Lee lakukan ya hingga dia membawa wanita lusuh ini ke sini?”
Temanya menggeleng sama tak mengertinya,”mungkin dia menabrak anak ini dengan motornya..., eh...kau tau...ku dengar tuan Lee akan di jodohkan...”.
”kau mengada-ada Sang Mi..., mana mau tuan Lee di jodohkan..., paling-paling dia akan menolaknya...” wanita itu tak percaya akan perkataan temannya.
”ckck..., kau tau tidak...yang akan di jodohkan itu kabarnya dari keluarga yang sangat kaya dan pemilik investasi terbesar di keluarga tuan Lee..., dan ku dengar juga...jika tuan Lee menolak perjodohan itu..., maka hak warisnya akan di cabut...”wanita bernama Sang Mi itu menjelaskan sambil mengganti kain kompres di kepala Linda.
”masa? Wah..., kalau begitu tuan Lee tak akan bisa menolak? Hwa....lalu bagaimana hubungannya dengan nona itu?” pembicaraan dua wanita itu terhenti karena yang di bicarakan tiba-tiba masuk.
”bagaimana keadaannya?”
”tuan Lee..., pa...panasnya sudah turun tapi kelihatannya dia belum bangun tuan...” kata Sang Mi dengan gugup.
”jika ia bangun cepat beri tahu aku...” kata Lee dengan dingin, saat akan berbalik pergi dari kamar itu tiba-tiba Linda bersin dengan kencang.
”e...eh...,a...aku...ada di...di mana?”tanya Linda gugup. Wajahnya merah padam menahan malu.
”kau sudah sadar..., kau ada di rumah tuan kami...”
”sepertinya kau sudah sehat hingga dapat menipu pelayan-pelayan itu..., sebaiknya kau cepat pergi dari sini...”kata Lee dengan dinginnya.
”kau..., kau berhutang maaf padaku...” kata Linda dengan berani.
Lee tersenyum sinis,”kau telah mencederai kepalaku..., kau yang berutang padaku...”.
”ta...tapi...itu karena...”
”bisa saja aku meminta ganti rugi padamu...,tapi sepertinya kau tak punya apa-apa...” cibir Lee sambil memandang pakaian yang di kenakan Linda.
Linda merasa kalah langsung terdiam menahan marah,” ya...aku tak punya apa-apa..., aku miskin dan aku tak bisa mengganti rugi padamu...,tapi aku punya perasaan...maaf aku telah mengganggumu...” Linda mengambil biolanya yang ada di meja,dia sempat menatap Lee Jun dengan tatapan marah kemudian mendahului keluar.
Linda memakai sepatunya dengan perasaan marah, dia mengambil sepedanya yang terparkir di dekat pos penjaga. Linda mengayuh kencang sambil menangis sedih, dia menangisi hidupnya yang selalu saja di anggap rendah hingga Linda kurang memperhatikan jalan dan hampir di tabrak sebuah mobil dan membuatnya terjatuh ke samping.
”sial...”rutuk Linda dalam hati sambil mencoba berdiri.
”kau tak apa?”tanya orang itu sambil membantu Linda bangun dan mendudukkannya di pinggir jalan,”maaf...supirku kurang hati-hati...” katanya lagi.
Linda yang hendak marah menatap kagum pada orang itu,”a...aku tak apa...” kata Linda gugup ketika di sadarinya orang itu ganteng dan manis.
”oh syukurlah..., biar aku mengobati lukamu...” seorang laki-laki datang membawa kotak P3K dan mulai mengobati luka di lutut Linda.
”terimakasih...”kata Linda setelah dia memberikan perekat luka.
”ya..., sekali lagi maafkan aku..., oh ya...siapa namamu?”tanyanya lagi.
”Linda...”
”aku Jaejong..., kau tau...apakah kau menggunakan kontak lens?”tanyanya sambil menatap mata Linda lebih dekat dan membuat Linda gugup.
”bu...bukan..., i...ini asli...,dari kecil mataku memang sudah berwarna biru..., kata paman, ibuku juga bermata biru seperti ku...” Linda mengatakannya dengan terbata.
”matamu indah..., oh iya kau bisa bermain biola?”tanya Jaejong sambil menatap biola Linda.
Linda hanya mengangguk malu. Jaejong tersenyum pada Linda hingga terdengar ponselnya berbunyi. Linda menatap wajah Jaejong dengan seksama hingga jaejong menegurnya.
”ada apa di wajahku?” tanya Jaejong.
Linda menggeleng malu dan kemudian mengambil biolanya bersiap hendak pulang.
“aku akan mengantar..., di mana rumahmu...” tawarnya membuat Linda benar-benar terpesona, baru kali ini ada laki-laki yang memperlakukannya sebaik ini.
Linda menggeleng saat ingat akan ancaman ibunya,”ti...tidak perlu, aku..., permisi...” Linda langsung lari menarik sepedanya dan pergi. Hatinya di landa rasa bahagia dan senang,”seperti pangeran...”ucap Linda sambil tersenyum. Frans merasa khawatir ketika Linda datang,dan seakan tau kekhawatiran temannya Linda menceritakan apa yang terjadi padanya. Frans merasa lega ketika tahu ada yang membuat temannya bahagia. Setelah makan sup panas pemberian Frans, Linda langsung pulang ke rumahnya ketika melihat sebuah mobil mewah terpakir di depan gerbang. Linda masuk perlahan dan di sambut oleh senyum aneh bibinya.
“ayo Linda masuk...” kata sang bibi super ramah yang membuat Linda sedikit curiga. Ketika memasuki ruang tamu rumah itu. Linda melihat bapak-bapak dari rumah besar itu.
“ba...bapak..., kenapa bapak ada di sini?”tanya Linda kaget.
Bapak itu tersenyum pada Linda kemudian berbicara,”ya..., memang dia yang kami cari…, kami akan lansung membawanya…”
Linda yang bingung menatap bibinya dan bertanya,”bi..., ada apa ini?”
”Linda..., kami akan membawamu ke tempat nenekmu...”jawab bapak itu dan membuat Linda bertambah bingung.
”ti...tidak..., ma...maksudnya?”
”orang tua dari ayahmu..., kau tau kau cucu orang terkaya di Korea...” ucap sang bibi berbisik.
”a...ayah...,tapi...tapi...” Linda yang masih di landa kebingungan dan di tarik sang bibi ke kamarnya, sementara Rindi menatap iri pada Linda.
”bi..., i...ini aku tak mengerti...”
”cepat bereskan barang-barangmu..., dan ikuti orang itu...” sang bibi langsung melemparkan barang-barang ke dekat Linda.
”tapi bi..., jika itu bohong...” kata Linda ketakutan.
”aku tak perduli nak..., Rindi kau tak perlu iri dengannya..., kau tau sepertinya orang tua itu tertarik dengan mata anak ini...” senyum sinis keluar dari bibir sang bibi.
”tapi bu..., lihat mobil orang tua itu mewah..., dia akan dapat hidup enak dari pada kita...” kata Rindi sambil memberengut dan menatap Linda yang sedang mengemasi barangnya dengan sinis.
Sang ibu membelai kepala anaknya,”Rindi..., setelah ini...kita akan berbelanja ke mall..., kau mau tidak?”
Rindi menatap mamanya terkejut seakan mengerti begitu pula Linda yang tak kalah terkejutnya dan mendekat ke arah bibinya dengan mata yang berkaca-kaca.
”bibi menjualku?” tanya Linda dengan tangis tertahan.
”orang tua itu yang mau menukarmu dengan sejumlah uang...,dari pada kau menyusahkanku...,lebih baik kau ku berikan saja...dan aku serta Rindi akan berfoya-foya...” jawab sang bibi dengan sinis,”cepat bereskan barangmu sekarang...”
”aku tak ingin pergi bi...”ucap Linda dengan keras.
Sang bibi memandang marah pada Linda dan menampar Linda dengan sangat keras mengelurkan darah di ujung bibirnya,”kau membuatku muak nak..., kau tau...selama ini aku menganggapmu beban di keluarga ini..., kau hanya menyusahkan kami saja..., bahkan suamiku mati karena mencari dana sekolah untukmu bukan..., kau benar-benar beban di rumah ini....”.
Linda terdiam dan menangis, dia tak menyangka kehadirannya merupakan beban di keluarga ini, benar-benar menyakitkan bagi Linda. Dia bangkit dan mengambil barangnya yang tersisa termasuk biolanya.
Linda menatap foto pamannya di ruang tamu dan kemudian berjalan gontai menuju orang tua itu yang telah menunggu kali ini dengan seorang laki-laki paruh baya yang lain dan membuat Linda sangat takut.
”dia telah siap...” ucap bibi Linda mendorong Linda untuk mendekat pada bapak itu.
”terimakasih nyonya..., saya harap anda tidak memperlakukannya dengan buruk setelah ini...”kata bapak itu sambil memandang darah di ujung bibir Linda,”ini uangnya...” sebuah koper besar tergeletak di meja yang langsung berderit kecil. Sang bibi memandang koper itu dengan mata berbinar sambil memeluk koper itu.
”ayo nona kita harus cepat pergi...” kata orang tua itu. Linda terdiam terpaku menatap takut pada bapak tua itu,”nona tak perlu takut pada saya...” yakinnya.
Sang bibi mendorong Linda hingga dia mengikuti bapak itu berjalan ke arah mobil yang telah terparkir dengan di pandangi banyak mata oleh tetangga sekitar.
”nona jangan takut..., saya tak akan berbuat jahat pada nona...” bapak itu duduk di depan di sebelah sopir setelah memasukkan tas Linda di bagasi. Linda memeluk biolanya dengan perasaan kacau. Benar-benar membuatnya panik.
Linda menatap ke luar jendela mobil ketika Frans muncul dan menatap Linda. Mobil berjalan pelan di gang sempit itu. Linda menatap sekilas rumah tempat selama ini dia tinggal dan besar hingga tanpa sadar dia menitikan air mata.

Linda tak menikmati perjalanannya saat itu hingga mobil berhenti di tempat tujuan...
”ayo nona...” kata bapak itu sambil membukakan pintu mobil, Linda ragu namun bapak itu tersenyum ramah padanya hingga Linda berani melangkah keluar.
Linda terkejut ketika sederet orang menunduk dan menyambut kedatangannya.
”a...apa maksudnya ini...” kata Linda bingung.
”Dhicca...”panggil bapak itu pada seseorang.
Seorang perempuan yang terlihat sopan dengan pakaian pelayan dan membuat Linda terpana menunduk sopan pada Lindadan bapak di sebelahnya,”ya ayah...”
“bawa nona untuk membersihkan diri dan pakaikan pakaian yang bagus..., setelah itu kau dan nona menemui nyonya besar...” kata bapak itu,”nona...,saya belum memperkenalkan diri saya So Yonggil kepala pelayan di sini..., silahkan nona beristirahat dulu...”
Linda yang masih dalam ke adaan bingung hanya mengikuti perempuan muda yang sepertinya sebaya dengannya itu. Linda memasuki sebuah ruangan seperti aula yang sangat besar dengan diikuti beberapa pelayan wanita. Linda memandang kagum ke sekeliling rumah, benar-benar membuatnya tak habis fikir dengan segala kemewahan yang ada di dalamnya. Bahkan Linda menghitung jika 5 tahun dia bekerja saja tak akan cukup untuk membeli pintunya.
“ma...maaf...ini...ini maksudnya apa ya?” tanya Linda pada gadis di depannya.
“maaf..., apakah anda benar-benar tak tau? Maaf maksud saya apa nona tidak di beri tau ayah saya?” tanya gadis itu.
Linda menggeleng kuat,”aku benar-benar tak tau apa-apa...”
Mereka berhenti di depan pintu yang sangat besar. Gadis bernama Dhicca itu membuka pintu dengan perlahan. Linda menatap takjub ke dalam.
”ayo nona ini kamar anda...” kata Dhicca.
”a...apa...i...ini...kamar ku?” Linda menggeleng dan mencoba mundur ketika 2 pelayan memegang tangannya dan membawanya masuk ke dalam, ”hei...mau apa kalian...”
Linda berteriak keras ketika para pelayan berusaha membersihkan tubuhnya yang memang tak terawat.
Linda mencoba kabur ketika bulu kakinya hendak di cukur hingga terjadi aksi kejar mengejar antara Linda dan para pelayan yang di menangkan oleh 10 pelayan yang berhasil menangkapnya.
Berbagai perawatan tubuh di berikan pada Linda yang kini hanya dapat diam dan pasrah saat rambutnya di lumuri sesuatu.
”kau masih berhutang jawaban padaku...”kata Linda pada Dhicca yang sedang membersihkan kukunya. Dhicca sempat terdiam, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.
”saya tak berhak menjawabnya nona..., anda dapat bertanya langsung pada nyonya besar...” jawab Dhicca dengan tenang.
Linda mendengus kesal. Dia mencoba berfikir ini hanyalah sebuah mimpi hingga membawanya dalam mimpi yang sebenarnya.

Linda terbangun ketika ia dikejutkan oleh bunyi deru motor seoerti sedang dalam arena balap.
”ada apa?” tanya Linda dengan mata yang masih sedikit terpejam hingga dia sedikit merosot dari tempatnya duduk.
”maaf nona..., itu para tamu telah datang...” jawab Dhicca sambil menyisir rambut Linda.
Ketika matanya telah benar-benar terbuka Linda membelalakkan mata melihat sosok lain di cermin, rambut lurus,dan licin dengan sebuah jepit bertengger manis di kepalanya.
”ayo nona, ini pakaian nona...,nyonya besar telah menunggu nona...” Dhicca menyerahkan sebuah gaun satin merah hati yang sangat mahal (menurut Linda). Gaun itu benar-benar pas di tubuh Linda dan membuatnya sedikit kurang enak ketika Dhicca menyuruhnya menggunakan sepatu hak tinggi yang warnanya senada dengan gaunnya.
”nona sangat cantik...”puji Dhicca, merasa puas dengan hasil kerjanya. Linda sempat menatap dirinya sendiri dan merasa bahwa itu bukan dirinya. Namun lamunan itu buyar ketika dia jatuh akibat sepatunya yang lumayan tinggi.
”maafkan saya nona...”
”aku tak apa...” kata Linda di bantu Dhicca dan beberapa pelayan lain berdiri. Linda berjalan dengan sedikit tersendat, high helsnya benar-benar membuat Linda kesemutan tapi rasa ingin taunya mengalahkan rasa di kakinya itu. Linda berjalan tegap ketika tiba di sebuah ruangan. Dhicca membukakan pintu untuknya dan semua orang yang ada di situ menatap ke arahnya....
* * *
Read More

“NEVER SAY GOOD BYE” PART 1 ~litlle hope~

PART 1
~litlle hope~

“ku mohon jangan tinggalkan aku…, kumohon…hanya hingga dia lahir saja…” pinta seorang wanita dengan wajah memelas sambil menarik tangan seorang pria di tengah derasnya hujan.
Laki-laki itu memalingkan wajahnya dan berkata, “maafkan aku Shira…, aku arus pergi…aku tak bisa mengorbankanmu lebih dari ini…aku sangat menyayangimu…tapi aku tak ingin kau menderita…,maafkan aku…” laki-laki itu menarik tangannya dari wanita itu dan naik ke sebuah mobil mewah yang telah menunggu seorang wanita di dalamnya.
“pilihanmu tepat nak…, kau akan ibu jodohkan dengan wanita lain…, jika kau menolak, wanita itu akan ku buat lebih menderita…” kata wanita tua itu dengan senyum sinis sambil memandang wanita hamil yang tengah kehujanan itu.
Laki-laki itu menatap marah,”aku telah menuruti ibu..., dan sekarang jangan pernah mengusiknya lagi…”
“ibu berjanji Yong Hwa…, jalan…” wanita itu menyuruh supirnya menyalakan mesinnya. Wanita yang tengah kehujanan itu mencoba mengejar mobil itu sambil menggedor kuat ke arah kaca.
“jangan tinggalkan aku Yong Hwa …, ku mohon jangan tinggalkan aku…” teriaknya di tengah derasnya hujan. Laki-laki itu menatap miris kemudian berpaling. Mobil itu semakin cepat, dan wanita itu tertinggal di belakang sambil menangis dan meratap, “Yong Hwa …, jangan tinggalkan aku… Yong Hwa …, aku mencintaimu…YONG HWA…”

* * *

Chuncheon School Academy. Sekolah bermutu tinggi yang di buka untuk putra-putri orang top di dunia bisnis. Sedikit dari siswa biasa yang bisa masuk dengan jalur beasiswa (tapi biasanya hanya bertahan hingga tengah semester saja). Sementara itu seorang anak menatap kagum sekolah itu dari luar sambil menempel dekat ke pagar. Tatapan penuh harap terpancar jelas dari matanya.
”aku pasti bisa masuk ke sekolah itu...” tekadnya kuat. Tiba-tiba seorang satpam datang dan mencoba menegur anak itu.
”kau gadis miskin..., jangan menyentuh pagar itu dengan tangan kotormu mengerti...!, bahkan uangmu saja tak akan cukup untuk membersihkan pagar ini..., sana kau pergi...” usir satpam itu dan menarik anak perempuan itu hingga terjatuh.
”au..., paman kasar sekali..., hanya karena paman satpam sekolah ini paman seenaknya saja..., lihat saja jika aku bisa membeli sekolah ini...paman akan ku pecat...” kata gadis itu sambil mengelus bokongnya. Satpam itu tertawa mendengar pernyataan gadis itu.
Satpam itu lalu berkata sinis, ”jika itu benar terjadi..., aku akan langsung menyembahmu.., tapi ku rasa itu akan terjadi sejuta tahun lagi...hahahahahahha...” satpam itu tertawa keras hingga perut besarnya bergoyang.
Gadis itu bangkit dan menatap tajam satpam itu,”paman harus menepati janji paman...,jika aku datang dengan pakaian sekolah ini dan berhasil masuk ke dalam..., paman harus mengakuiku..., aku memang miskin...tapi aku akan berusaha membalikkan kata-kata paman...”dengan senyum separohnya gadis itu jalan dan mengambil plastik botol bekasnya yang sempat terjatuh. ”ah ya paman sebaiknya kau diet..., kau terlalu gemuk dan pendek...”
Wajah satpam itu berubah menjadi merah padam, dia mengambil sebuah tongkat baseball dan mengejar gadis itu yang telah berlari jauh.

Gadis lusuh itu tertawa keras dan masuk ke sebuah gang sempit di pinggir kota. Dia kemudian masuk di sebuah kedai mie kecil.
”aku tak ingin mendengar kau membuat marah orang lain lagi Linda...” ucap seorang wanita.
Gadis yang bernama Linda itu masih tertawa lalu mengangguk, ” ya Frans aku telah membuat masalah di sekolah elit itu..., kau tau satpam gendut itu lari seperti bebek...”
Frans menggeleng heran lalu menyediakan semangkuk mie ramen panas, ” aku tau kau belum makan dari semalam..., makanlah...”. Linda lansung memakannya dengan lahap hingga tak tersisa sedikitpun. ”ternyata benar bibimu parah sekali...”
”entahlah mengapa dia sangat membenciku..., sejak paman meninggal dia semakin ketat memarahiku..., bahkan untuk berbicara pada Rindi saja aku tak bisa..., tapi aku memang tak ingin berbicara dengannya...” Linda mengangkat bahu menceritakan dengan santai tentang kehidupannya. Frans memperhatikan lengan Linda yang penuh luka dan memar.
”kau benar-benar tak apa Linda?” tanya Frans, dia kemudian mengambil kotak P3K dan mengobati luka-luka Linda, ”kenapa kau tak melawan Lin? Bibimu memang keterlaluan..., jika perlu kau tinggal di sini saja...” saran Frans sambil mengomel.
Linda tertawa kecil lalu memandang ke luar, ” aku tak bisa Frans..., kau tau paman sudah terlalu baik mau menampungku dari aku kecil..., aku harus membalas kebaikan paman”
”dengan membiarkan bibimu memukulmu setiap hari?” potong Frans, ”kau tau Linda..., kau bisa bebas jika kau ingin..., tinggalkan rumah itu...”Frans menempelkan perekat luka di lengan Linda.
”kau benar, tapi kau tau Frans aku bermimpi bertemu ibuku..., beliau mengatakan belum saatnya..., aku yakin kata-kata ibuku itu benar...” kata Linda dengan penuh kepercayaan dan mata berbinar.
Frans mendesah menyerah lalu tersenyum,”aku mengerti...,aku akan mendukung keputusanmu...dasar keras kepala...”.
”kau sahabat dan kakak terbaikku Frans...” kata Linda dengan senyum lebarnya, Frans hanya mengacak rambut Linda dan kemudian pergi kebelakang setelah membereskan barangnya,”sebaiknya aku pulang sebelum nenek sihir itu mulai berseriosa padaku...”
”ya..., kau benar..., ku mohon untuk berhati-hati Linda...” pesan Frans pada Linda yang hanya melambaikan tangan kemudian pergi dengan cepat.

Linda berhenti di sebuah gerbang tua yang mulai rusak. Dia menyimpan sesuatu di sepatu tuanya yang mulai sobek lalu mulai membuka pintu pagar dengan hati-hati.
Seorang wanita setengah baya yang sedang menyapu halaman menatap kedatangan Linda dengan tatapan sinis,”jika kau tak menghasilkan lebih banyak dari pada kemarin malam ini kau tak akan makan lagi...”,wanita itu mendekati Linda yang langsung menyerahkan beberapa lembar uang,”hanya ini?” tatapannya tajam pada Linda.
“ya bi..., ha...hanya itu..., sungguh...”
“kau bohong..., kau telah memakai uangnya kan? Kau makan di kedai itu..., iyakan?”selidik sang bibi sambil membalik lengan Linda yang di beri pelester luka,”dan kau menghamburkan uang untuk ini...” si bibi menarik pelester itu hingga Linda menjerit dengan keras.
“au..., sungguh bi..., hanya itu yang ku dapat hari ini..., aku tak pernah menggunakannya sedikitpun...” Linda mengakui dengan tatapan penuh ketakutan. Sang bibi mengambil sapunya dan mulai memeriksa setiap jengkal tubuh Linda dengan tarikan kasar, “bi kumohon sudah...,bi sakit...au...”rintih Linda ketika sang bibi mencubit lengannya.
Dengan tatapan mengerikan sang bibi menarik lengan Linda dan menariknya hingga ke dalam rumah,”aku tak suka pada anak pembohong..., kau memang pembawa sial...masuk kau ke dalam...”teriak wanita tua itu dengan sadisnya memasukkan Luna ke ruangan sempit tempat menyimpan barang-barang.
“bibi..., aku tak berbohong..., tolong maafkan aku..., sungguh aku hanya dapat segitu...bibi...bi...”teriak Linda yang tak di gubris sama sekali oleh wanita itu yang langsung mengunci tempat itu. “bi...buka....”
Hingga malam Luna terus berada di dalam tempat itu tanpa di beri sedikitpun makanan, langit kelihatan semakin gelap saat petir tiba-tiba menyambar. Linda menutup kedua telinganya dan duduk di sudut kamar dengan tubuh gemetaran.

* * *

“bangun..., sudah waktunya kau bekerja...”teriak bibi tua itu pada Linda yang bengun dengan tersentak kaget.
“bi...bibi...”Linda bangun dengan wajah sayu. Tanpa buang waktu sang bibi langsung menarik Linda bangun dan menyeretnya keluar.
“jika kau tak datang dengan hasil yang banyak dari pada kemarin kau tak usah pulang...” sang bibi kemudian melemparkan biola tua milik Linda. Jika kau sudah selesai mengantar pulang kau mengamen seperti yang mereka lakukan...” perintahnya lagi. Sesaat dari dalam rumah terlihat Rindi menatapnya dengan sinis.
“bi..., ka...kapan aku boleh se...sekolah seperti Rindi?”tanya Linda dengan gemetar.
”apa sekolah?” cibir sang bibi,”bahkan memakai seragamnya pun kau tak pantas..., kau hanya pantas membayar utang dari apa yang suamiku berikan padamu..., ku sekolahkan hingga kelas dua sma saja kau harus sudah harus bersyukur..., mengerti...”
”...” Linda hanya diam menunduk lalu bangkit mengambil biolanya.
”sana cepat bekerja..., aku tak mau mendapat hasil yang sedikit mengerti...”.
Tanpa banyak membantah lagi Linda pergi. Langkahnya lunglai dan terduduk di depan pagar rumahnya sambil menangis sedih. Linda mengikat biolanya dengan seutas tali hitam lalu menggunakan nya seperti tas ransel dan berjalan ke arah kedai lagi.
”Linda..., kenapa wajahmu pucat?” tanya Frans yang sedang menyapu halaman kedainya.
”aku tak apa-apa...,Frans aku pinjam sepeda lagi...”
”baiklah tapi...”
Linda pergi tanpa sempat mendengar apa kata Frans yang benar-benar khawatir padanya. Dia mengarahkan sepedanya ke arah agen koran dan mengambil jatah korannya.
”sepertinya kau kurang sehat Linda...” sapa Minki, teman loper koran Linda.
Linda menggeleng,”aku tak apa..., hanya sedikit kurang tidur...” Linda mengambil jatah korannya dan kemudian mulai berkeliling sesuai daftar pelanggan. Linda berhenti di sebuah toko susu dan mengambil beberapa pak botol susu dan mulai mengantarkan pada para pelanggan. Linda mengantarkan jatah koran dan sekeranjang botol susu di sebuah daerah luas dengan ditutupi oleh pagar yang sangat tinggi. Linda sempat kebingungan dan mencari celah untuk memasukan koran dan sekeranjang susu itu.
”permisi nyonya..., aku mengantarkan koran dan sekeranjang susu segar...” ucap Linda di sebuah monitor kecil untuk mengecek tamu. Tiba-tiba pintu terbuka dan sebuah suara menyuruhnya masuk ke dalam. ”permisi...”kata Linda takut-takut lalu masuk ke dalam. Linda terpekik kecil ketika melihat halaman yang sangat luas dan super indah itu. Linda terus jalan dan terkejut ketika melihat seorang bapak-bapak terjatuh di tepi kolam yang di desain seperti danau itu.
”tuan tak apa?”tanya Linda sambil membantu bapak itu berdiri.
”ya..., aku tak apa nak...hanya kurang hati-hati...”jawab bapak itu lalu menatap Linda. ”nyonya Shira...”
”ng? Bapak mengatakan sesuatu?”
”oh...m...tidak...” bapak itu kemudian menatap biola di belakang punggung Linda,”kau bisa bermain biola nak?”.
”saya...bisa pak...tapi tidak terlalu jago...”kata Linda malu-malu.
”kau tidak sekolah nak?”tanya orang tua itu lagi.
”tidak..., saya tidak mempunyai biaya...,saya bekerja saja untuk membalas budi keluarga yang telah membesarkan saya...” aku Linda. Tali biolanya lepas dan hampir jatuh ketika bapak itu sempat menangkapnya. ”terimakasih...”
Bapak itu memperhatikan biola itu dan tertegun.
“ada apa dengan biola saya?” tanya Linda bingung,”bisa saya ambil kembali biola saya?”
Bapak itu menyerahkan kembali biola Linda sambil tersenyum,”maaf nak…, hanya mengingat sesuatu…, kalau boleh saya tau kau tinggal di mana?”
Linda merasa curiga dan memandang aneh orang itu,”eh…m…pak saya harus pergi…maaf mengganggu anda…”Linda meletakkan koran dan keranjang susu itu di dekat sebuah pos penjaga. Kemudian Linda pergi diikuti tatapan bapak itu.

Setelah mengambil honornya siang itu Linda langsung pergi ke arah taman. Dia memegang kepalanya yang terasa berdenyut-denyut. Setelah duduk sebentar Linda kemudian mengambil biolanya dan mulai mengalunkan sebuah lagu. Orang-orang mulai berkumpul dan menikmati musiknya,beberapa recehan berbunyi keras kala orang-orang melemparkannya ke sebuah kaleng yang telah di sediakan Linda. Cukup sore Linda menghentikan permainannya dan mulai menghitung penghasilannya saat itu.
“maaf bi…, tapi aku benar-benar ingin sekolah…”kata Linda menyimpan beberapa lembar uang dan menyimpannya di sepatunya. Linda berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lain, setiap dia berpindah dia menyisikan sebagian dan menyimpannya di tempat yang sama. Begitu malam datang, Linda duduk di sebuah taman. Linda merapatkan jaket tuanya dan menggil kedinginan sambil menatap sayu orang-orang yang lewat.
Saat dia memutuskan akan pulang tiba-tiba ada seseorang yang tak sengaja menabraknya hingga Linda terjatuh.
“hei…”teriak Linda marah di antara kesadarannya yang semakin tipis.
Yang menabraknya sempat berpaling namun kembali tak perduli dan melanjutkan perjalanan.
”HEIIII.....”teriak Linda sambil melempar kaleng miliknya. Dan walla..., alhasil kenalah kepala orang itu yang langsung berbalik dengan marah pada Linda.
”kau...”
Belum sempat orang itu marah Linda malah tak sadarkan diri...

* * *
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

© Yuna World 유나, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena