Welcome to my world,Im 유나ArataJJ admin @KBPKfamily ,author &a someone who likes to fantasize.. Thank for visit ^^

Tampilkan postingan dengan label Browniss Family sepecial edition. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Browniss Family sepecial edition. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Januari 2011

“BROWN!S$ FAMILY” Special edition *POOR PRINCESS* (chap.4)~Rev

EMPAT

”LUNA........”Cyren terus berteriak berusaha menerobos, namun tak berhasil dan malah jatuh terduduk menatap ke arah kobaran api. ”Luna...”
”cyr...” Kanya berusaha nenangin sahabatnya sambil merangkul Cyrena.
”adik gw Kan..., adik gw....” tangis Cyrena.
”iya...iya Cyr....tenang ya...”Kanya mengusap punggung sahabatnya sampai seseorang berteriak kencang sekencang tong bolong yang gak ada isinya...
”woi..., dia selamat...” serentak tanpa di komando semua menatapnya.
“...” Cyren bangkit dan jalan ke arah yang di maksud. ”Luna...” panggil Cyren pelan pada Lun yang tertelungkup dengan nafas separo hidup separo bengek.
”kak....h...h...kak Cyre....n....” ucap Luna antara sadar dan takut ngedenger suara kakaknya.
”dasar konyol lo Lun..., gila...” maki Cyren dengan sayang pada adiknya sambil ngubantu Luna agar terlentang dengan benar.
”maafin...Luna kak....” kata Luna sebelum dia di angkut ke RS

”mama..., kenapa?” seru Melvina ketika mendengar teriakan sang ibu.
”mama mimpi buruk Mel...” kata Syena sambil mengelus dadanya, ”firasat mama gak enak...,gak tau kenapa...kayaknya hal buruk terjadi sama Cyrena dan Luna..., kakakmu sudah pulang Mel?” tanya Syena cepat secepat turbo ngepot karena masih ngos-ngosan.
”belum ma...., kak Cyr ma kak Luna belum pulang...” kata Melvina sambil mengelus punggung sang ibu. ”mama nggak usah khawatir Mel yakin kak Luna ma kak Cyr gak apa-apa...bentar lagi mereka pasti pulang....”yakin Melvina.
Sambil menutup ke dua wajahnya dan berusaha mencoba untuk tenang Syena berkata dengan berat, ”ya..., mudah-mudahan....”
”Mel ambilin minum ya mah....” Melvina beranjak pergi dari kamar sang ibu untuk mengambilkannya minuman, sementara Syena masih terdiam kaku menatap ke bawah ke arah selimutnya dengan seribu fikiran.

Di Rs....
”dasar gila lo Lun..., nekat...”maki Cyrena pada adiknya yang masih di bersihin luka bakar di tangan dan punggungnya.
“maaf kak..., Luna Cuma...”
“Cuma apa?” sudut Cyrenasambil menatap Luna garang segarang macan kumbang.
“cum…Cuma….aduh…sus…pelan…pelan dong….” Ringis Luna saat si suster yang mengobati lukanya gak sengaja ketekan, “Cuma hobi kak….” Aku Luna berbohong.
“hobi ngebuat badan lo penuh luka? Iya Lun??”kata Cyrena dengan sinis, tidak manis, dan….upz…kepanjangan lagi nih…
Luna Cuma diamtak menjawab sambil menahan sakit saat di obati. Selesai i perban Luna jadi keliatan kayak ikan pepes.
”gimana lo sekarang? Puas?”cerca Cyren.
”ye..., kak Cyr...adiknya baru dapat musibah kok di gituin sih...” kata Luna sambil ngelus perban di tangan kirinya.
”itu salah lo sendiri...., gw gak ngerti lo Lun..., lo itu kenapa sih suka ngebahayain diri lo sendiri kayak gitu hah?”omel Cyrena.
”maaf kak..., Luna itu....” kata Luna gugup. ”kak..., tolong jangan bilang mama ya kalo Luna...”
”nggak...., gue gak maujanji ma lo..., lo tau Lun..., gimana khawatirnya gw td hah? Lo tau nggak lo itu hampir mati Lun...”kali ini Cyren lebih gencar marahin Luna, sampe orang-orang di sekeliling menatap ke arah mereka.
”m..., ayo kak..” Luna yang malu narik kakaknya keluar rumah sakit yang telah menunggu si Kanya di dalam mobilnya. ”kak..., Luna tau Luna salah, tapi Luna mohon jangan bilang mama..., kakak tau kan kalo kita bilang mama akan kepikiran terus sama kayak mama setelah bercerai ma papa?” kali ini nada Luna bener-bener super lembut selembut kain sutra india yang membuat Cyren diam berfikir.
”Cyr...,Lun ayo...gue anter lo pada pulang....”kata Kanya dari dalam mobilnya.
Tanpa banyak bicara lagi Cyren masuk terlebih dahulu dan duduk di depan bareng Kanya sementara Luna di belakang. Perjalanan kali itu terasa sunyi sampi Cyren angkat beban, upz..., angkat suara, ”okey kali ini gw gak akan bilang ke mama tapi kalo terjadi apa-apa lagi sama lo dan lo masih ikut track itu..., gw gak mau tanggung jawab...”
”Luna tau Luna salah karena Luna sudah berbohong pada kakak..., tapi Luna gak akan berhenti dari kerajaan Luna sekarang...” yakin Luna sambil natap kakaknya penuh kenekatan dan keyakinan.
Cyren sempat menatap Luna sekilas lalu berbalik, ”terserah apa mau lo...., gw udah nggak perduli lagi ma elo...” kata Cyren dengan dinginnya sedingin es batu.
”Luna tau..., kakak nggak perlu repot-repot lagi..., aku nggak akan minta kakak untuk khawatir ma aku lagi....” Luna juga nggak kalah dinginnya kayak Cyren sampe Kanya geleng-geleng kepala sama ke dua kakak beradik itu.
Sesampainya di rumah ke duanya telah di sambut oleh Syena yang dari tadi nggak tenang dan milih nunggu ke dua anaknya di teras rumah mereka.
”Cyren..., Luna...., akhirnya kalian pulang juga..., mama khawatir..., kalian dari mana saja? Dan...dan...kenapa tangan mu itu Luna?” seru Syena kaget dengan perban di tangan Luna.
”hehehe...., ini gak sengaja mah..., kena api di rumah temen ma..., waktu Luna naek sepeda nggak sengaja kena batu terus jatoh di pembakaran sampah...hehe....”ringis Luna seperempat berbohong tapi Syena nggak percaya gitu aja.
”Luna..., kamu nggak ngebohongin mama kan?”
”ya nggak lah ma..., apa tampang Luna kayak pembohong?” kata Luna yang langsung masang tampang aneh bin ajaibnya.
Syena mendesah menyerah, ”h..., ya sudah ayo masuk....”
“huh…” Cyren menatap sinis Luna dan menduluinya masuk ke dalam rumah mereka.

* * *
Keesokan paginya . . . ,
“hay…, gue telat…”pekik Luna panik dan langsung masuk ke kamar mandi yang Melvina baru aja keluar.
”ih kakak....” sungut Melvina soanya dia hampir jatoh kesenggol Luna yang pengen cepet-cepet masuk ke kamar mandi.
”sorry..”sahut Luna dari dalam kamar mandi.
”kak Cyr..., kok kak Luna nggak di bangunin sih...?”tanya Melvina sambil ngambil jatah sarapan paginya.
”biarin aja..., toh dia dah gede...” kata Cyren dengan datar sambil minum susu strawberrynya. ”Mel..., lo pergi ke sekolah naik taksi bareng gue ato nggak?”
”loh kak Luna gimana?” tanya Melvina bingung 8 keliling.
”biarin aja..., dia bisa ngurusdirinya sendirikan?”kata Cyrena dengan cueknya. ”yuk ah ..., ntar lo telat...” kata Cyrena lalu beranjak di susul Melvina yang menatap ke kamar mandi.
”kak Luna ..., melvina duluan ya...” teriak Melvina.
”ya...” sahut Luna dari dalam kamar mandi.

Melvina yang ikut kakaknya naik angkot menatap heran pada Cyren. ”kak...kakak lagi marahan ma kak Luna ya?” tanya Melvina langsung.
”ya..., dia ngebohongin gw.., gw paling nggak suka di bohongin...” kata Cyrena dengan berapi-api sampai berkobar hebat.
”ya tapikan... nggak usah sampai ninggalin kak Luna yang lagi sakit kan kak? Dia juga kasihan..., terus gimana kak Luna ke sekolahnya kak?” tanya Melvina yang ngebuat Cyren terdiam memikirkan.
Tiba-tiba aja yang di omongin nongol di sebelah taksi mereka lagi ngepot naik sepedanya dengan tangan satu sambil ngos-ngosan.
”liat kak..., itu kak Luna....” tunjuk Melvina ke arah Luna. Cyren langsung menatap ke arah Luna dengan tatapan iba dan heran.
”kak Luna....”seru Melvina memanggil. Saat Luna nengok tiba-tiba aja oleng dan jatuh di tengah jalan so Luna yang nggak sempat menghindar mendadak diam ketika sebuah mobil hendak menabraknya.
”Luna......” teriak Cyrena.
”kakak...” Melvina nggak kalah histerisnya. Ckitzzzzzzzzzzzz........., tin...tin...
Ketika Luna membuka matanya yang tertutup menahan ngeri, dia merasa melayang dan sudah ada di dekapan seseorang.
”sorry...” kata suara itu yang dapat di kenali dari nadanya berjenis kelamin cowok.
”makanya kalau naiksepeda lagi sakit nggak usah naik sepeda dong..., nyusahin...”omel si empunya mobil.
Sementara Melvina dan Cyrena masih diam terpaku menatap ke arah Luna. Kejadian tadi membuat jalan jadi macet. Melvina dan Cyren langsung berhenti di situ setelah ngebayar angkot lalu mendekat ke arah Luna.
”kak..., kakak nggak apa-apa kan???” tanya Melvina khawatir.
”e...eh...”Luna masih keki karena masih di angkat oleh penyelamatnya, ”maaf...bisa turunkan saya?” kata Luna dengan sopan.
Si cowok langsung menurunkan Luna dan sedikit oleng ketika si cowok dengan sigap menangkapnya. ”kamu tidak apa-apa?”tanyanya dengan intonasi yang agak aneh.
”ya saya tidak apa-apa..., m...terimakasih...” ucap Luna malu lalu berjalan ke arah kakak dan adiknya yang membantu mendirikan sepedanya.
“Luna lo itu emang selalu ngebuat gw khawatir…” omel Cyren dengan penuh kasih sayang.
“maaf kak…” Luna menunduk menurut.
“wah kakak…, yang nyelametin cakep loh…” kata Melvina dengan menggoda.
“apaan sih…, ayo kita berangkat nanti kita telat gimana?” kata Luna mengalihkan pembicaraan mereka.
Cyrena mengangguk setuju dan ke tiganya berjalan bersama di ikuti dengan pandangan dari cowok yang sudah menyelamatkan Luna.

”wah...Syena...selamat ya..., kamu memang cocok sebagai kepala pelayan...” kata Hana sambil menatap sinis Riri.
”huh...”Riri langsung memalingkan wajahnya dan pergi. Tak lama Ferris datang dan mengucapkan selamat pada Syena.
”selamat ya..., ku harap kamu dapat bekerja lebih baik dari pada yang sebelumnya...” kata Ferris sambil tersenyum pada Syena.
Syena membalas senyum Ferriss dan berkata, ”terimakasih bos...”
”m...sama-sama....”
Hari itu Syena memulai hari pertama kerjanya dengan jabatan yang berbeda. Posisinya masih sama memperhatikan pelayan yang lain dan menannyakan kepuasan konsumen dengan pelayanan restoran itu.
Riri masih saja memandang tak suka kepada Syena dan malah seenaknya membentak Syena tanpa sebab, untung Ferris mengetahui kejadian sbenarnya dan menegur Riri.
Saat jam makan siang...
”untung bos tau siapa yang salah Syena..., h..., akan ku balas si Riri itu...” kata Hana dengan marahnya sambil mengepalkan tangannya.
Syena tersenyum menatap tingkah sahabatnya yang kaya monyet lagi ngamuk itu. ”sudahlah Hana aku nggak mau nyari masalah lagi...” kata Syena dengan suara super sopan dan seperempat berbisik.
Hana menatap heran pada kebaikan hati temannya itu, ”Syena..., kamu itu memang terlalu baik ya..., aku jadi khawatir tau nggak...” Hana menatap sahabatnya dengan penuh keprihatinan dan kekhawatiran.
”Hana..., aku Cuma nggak mau nambah masalah lagi kok..., aku lagi bingung dengan anak-anakku...” Jujur Syena dengan tampang sedih bin muran seperti awan mendung di sertai petir dan guntur.
”loh..., memangnya kenapa dengan anak-anakmu Syen?” tanya Hana penasaran dengan masalah temannya itu.
Syena mendesah panjang dan menerawang menatap jau ke arah jalan yang lagi polisi..., ups...polusi-polusinya itu, ”aku nggak tau kenapa tapi sepertinya anak-anakku menyembunyikan sesuatu di belakangku..., mereka entah kenapa...aku aku jadi khawatir terutama Luna..., beberapa minggu terakhir...setiap dia pulang tubuhnya babak belur..., aku nggak tau apa alasan sebenernya tapi dia selalu bilang berkelahi dengan temannya..., dia juga selalu pulang malam..., yah aku bisa memakluminya selama ini...soalnya nilainya bagus-bagus dan dia masih bisa mempertahankan rankingnya..., tapi semalam dia pulang dengan luka bakar..., aku...ngerasa aku itu....” Syena berhenti berbicara dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
”Syen..., apapun alasan anak-anakmu mereka pasti melakukannya untuk kebaikanmu atau yang lain, karena mereka nggak mau kamu khawatir..., kamu ingatkan waktu Luna bohong dia jatuh dari ayunan karena di dorong Melvina dan dia bilang kalau dia jatuh sendiri? Saat itu Luna nggak mau adiknya nangis kan? Syen..., kalo kamu masih khawatir..., kalian bisa membicarakannya bersama kan?” saran Hana dengan bijak pada sang sahabat. ”kamu tau Syen..., anak-anakmu itu anak-anak yang baik..., karena mereka mengerti kamu Syen...”
Syena diam sejenak, memikirkan kata-kata sahabatnya yang ada benernya juga, ”kamu benar Han..., aku harus bicara dengan mereka..., selama ini aku hanya sibuk bekerja..., aku bukan ibu yang baik Han...”
Hana menggelengkan kepala, ”kamu seorang ibu dan kepala rumah tangga yang baik Syena..., kamu yang terbaik...”
”terimakasih Han..., aku berhutang padamu..., makasih...” senyum cerah Syena mulai hadir kembali sambil merangkul sahabatnya itu.
”sama-sama Syen..., selama ini kamu yang selalu membantuku kan..., masalhmu juga masalahku Syena...”
”m...” angguk Syena sambil melepas pelukannya. Syena sekarang tampak lega dengan sejuta rencana yang baru aja di cangkul dan di tanam di fikirannya.

* * *

Di sekolah Luna dan Melvina yang telat dapat hukuman yaitu ngebersihin toilet. Tentu aja bareng anak-anak lain yang juga telat datang ke sekolah. Luna yang sempet-sempetnya ngejahilin Melvina akhirnya kena semprotan air keran dari Melvina.
”sialan lo Mel...” maki Luna, ”kok gw di siram sih?”
Sambil meringis Melvina berkata, ”ya maaf kak..., aku kan nggak sengaja” Melvina beralasan sambil kembali bekerja. ”lagian kakak juga ngejahilin Mel tadi...”
”gw kan Cuma bercanda Mel lagian nggak sampe kena lo kan....” kata Luna sambil meras bajunya yang basah. ”huh....”
”oi..., lo berdua niat kerja nggak sih?” omel Berty seorang murid yang Juga kena hukuman.
Luna yang merasa perkataan tadi sinis mendekat sambil melototin matanya, ”mang kenapa lo..., kok nyolot sih? Kita mau kerja ato nggak kek ya terserah kami dong...”
Dengan tampang marah Berty balas menatap Luna dengan garang, ”oh ya..., emang ini sekolah bapak lo apa? Dasar preman...”balas Berty dengan berani.
”apa lo bilang...” Luna maju namun sempat ke sandung pel lantai walhasil dia akan jatuh dan akan menimpa Berty, tapi di sebabkan tubuh Berty yang bongsor dan lebih berisi dari pada Luna dia ngedorong Luna jauh dari badannya dan itu nyebabpin Luna jatuh ke belakang punggungnya menabrak ember baru nabrak pintu kamar mandi kayak adegan matrix yang di perlambat (wah lebay).
”kak Luna...” seru Melvina, anak-anak lain yang juga lagi kena hukuman langsung kaget. Melvina langsung ngehampirin kakaknya. ”kak...kak Luna nggak apa-apa kan?”
”h...h...h...” Luna megang dadanya kayak orang bengek, wajahnya berubah menjadi seram dengan nafas masih tersengal-sengal.
”kak..., kakak kenapa? Kak...., oi...tolongin kakak gw dong....” teriak Melvina.
Anak-anak lain langsung manggil petugas UKS sekolah, Luna di angkut ke UKS sambil menahan sakitnya. Dokter Risma memeriksa tubuh Luna yang masih penuh luka-luka, sementara rasa sakit Luna nggak kunjung sembuh juga. Dan akhirnya Luna di rujuk ke rumah sakit.
Sementara si Berty sendiri dapat hukuman tambahan dari pihak sekolah dengan menskorsing selama 1 minggu, dan harus ngebiayain pengobatan Luna.

”ya..., gue nggak nyangka kalo dia gitu sih tapi seru juga…” kata Kanya di sela istirahat pergantian jadwal mata kuliah.
”ya lo emang maniak cowok..., heran gue ma elo Kan...” kata Cyrena sambil gelengin kepalanya. ”oh iya lo tau si....” Revel yang tiba-tiba datang mutus acara ngegosip Cyrena.
”ada apa Rev...” kali ini Kanya yang nannya sambil ngelirik Cyrena.
“Cyr…, katanya adik lo kecelakaan ya?” Tanya Revel langsung.
Dengan heran Cyren yang gantian bertanya, “lo tau dari mana?”
“ada deh pokoknya…, dia nggak apa-apa kan?” tanya Revel antusias.
”kenapa lo jadi perhatian ma adiknya Cyren Rev?” Kanya dengan bingung menatap ke arah Cyren yang juga keliatan bingung.
”nggak sih Cuma..., gw kasian aja ma adik lo..., kemaren waktu gue pernah ketemu ma dia di taman, dia lagi di gampar cowok....” jelas Revel menerangkan.
”siapa?” tanya Cyrena dengan cepat secepat kereta api ekspres.
Revel mengangkat bahunya, ” gw juga kurang tau Cyr..., mungkin paarnya...”
Dengan wajah tercengang Kanya berkata, ” masa iya Luna yang kayak gitu punya pacar? Wah lo kalah Cyr...” sindir Kanya.
”maksud lo..., gue juga nggak tau apa Luna punya pacar ato nggak, dia nggak pernah cerita ama gw..., tapi mungkin ini salah satu ke bo’ongan adik gw lagi....” tiba-tiba aja ponsel Cyrena berbunyi dengan cepat raut wajah Cyrena berubah terkejut seperti kesetrum listrik tegangan tinggi. ”i...iya Mel..., gw ke sana sekarang...” telpon di putus dan Cyrena menatap Kanya. ”kan tolong please anterin gw ke rumah sakit sekarang..., please...” pinta Cyrena dengan memelas.
”loh...emang kenapa Cyr?” tanya Kanya ikut panik.
”ada apa Cyr?” tanya Revel juga tak kalah cepat.
”adik gw..., adik gw masuk rumah sakit Kan..., please anterin gue...” pinta Cyrena hampir menangis.
”i...iya Cyr..., ayo...” kata Kanya ke duanya lalu beranjak akan pergi sebelum Kanya sempat berpesan pada Revel, ”Rev..., tolong izinin kita berdua ya...”
”oke...” kata Revel cepat.
Saat Cyrena yang terburu-buru berlari tak sengaja dia menabrak seseorang, ”maaf..., maaf...” kata Cyrena dengan cepat lalu meneruskan langkah cepatnya. Yang di tabrak menatap Cyrena lekat hingga hilang di parkiran.

Di Rumah Sakit, Syena dan Cyrena telah datang, dengan panik mereka Cuma bisa menatap Luna yang sedang di periksa oleh seorang dokter.
”ada apa dengan anak saya dok?”tanya Syena cepat ketika si dokter sudah memberikan obat tidur pada Luna.
”tubuh anak ibu penuh dengan memar dan luka bakar, saya kira yang membuat lukanya parah ada di bagian dadanya, di situ lukanya seperti terkena benda tumpul namun fatal..., bengkaknya memang cukup besar...” jelas si dokter sambil membaca catatan medisnya.
Syena termenung diam lalu berkata kembali, ”lalu bagaimana agar dia sembuh dok?” tanya Syena lagi dengan tampang murung dan kelabu.
”yah sementara ini..., dia harus istirahat dulu sampai luka-lukanya sembuh....” kata si dokter lalu menyerahkan selmbar resep, ”ini obatnya mohon di tebus...”
”ya dok...terimakasih....”
Setelah si dokter pergi kali ini Cyrena angkat suara sambil memandangi sang adik yang sedang tertidur pulas dengan suara ngorok nan fales, ”Lun..., maafin gw...”
”...”semua kembali terdiam sambil sibuk dengan fikiran masing-masing.
”Cyrena...,Melvina..., mama ingin bicara dengan kalian...”kata Syena dengan berwibawa. Cyrena dan Melvina duduk di sebelah ibunya.
”ada apa mah?” tanya Cyrena mendahului.
”mama ingin tanya sesuatu pada kalian....” Syena diam sejenak lalu melanjutkan bicaranya dengan intonasi perlahan dan ketukan standar, ”kalian menyembunyikan sesuatu dari mama tentang Luna?”
Keduanya terdiam tak ada yang menjawab.
”Cyr...” kata Syena sambil memandang anaknya, ”kalian tidak usah takut, mama tak akan marah pada kalian...” janji Syena sambil tersenyum.
”...”
”...”baik Cyrena maupun Melvina hanya diam membisu.
Syena menatap anaknya bergantian lalu mendesah panjang, ”baiklah jika kalian nggak mau bilang mama, mama Cuma mau tau kenapa Luna bisa sampai seperti ini...” Syena berkata dengan lirih.
Cyrena dan Melvina saling tatap lalu Cyren duluan yang buka suara, ” sebenarnya..., Luna kecelakaan waktu balap mobil...ma...” kata Cyrena dengan hati-hati.
”apa? Ba...balap mobil?” tanya Syena dengan bingung.
”iya mah..., selama ini kak Luna kerja paruh waktu di arena balap dan lokasi syuting sebagai pemeran pengganti adegan action ma...”tambah Melvina yang membuat Syena dan Cyrena tercengang kaget.
”Lu...Luna...”
”iya ma..., selama ini kak Luna penuh luka karena pekerjaannya itu ma..., maafkan Melvina ma..., kak...” ucap Melvina sambil menunuduk.
Ketiganya terus diam dantak bersuara lagi.

Luna yang sudah sadar dari masa kritisnya menatap linglung sekelilingnya. Kakak, adik serta ibunya tertidur di kursi di sebelahnya dengan posisi lumayan nggak enak.
”ma..., kak...,Mel...” ucap Luna pelan sambil menggoyang tubuh ibunya.
Otomatis Syena yang terkejut langsung bangkit dari dunia mimpinya.
”Luna..., kamu sudah sadar nak?” ucap Syena sambil mengusap kening anaknya, ”mau minum Lun?”Syena cepat-cepat mengambil sebuah aqua gelas yang langsung di minum Luna sedikit.
”mama sama kakak dan Mel..., pulang aja ma..., kasian kakak dan Mel besok mereka harus sekolah kan? Mama juga besok kerjakan?” kata Luna menyarankan.
”mama akan menjaga Luna..., mama sudah ijin dengan bos mama..., kakak dan adikmu berkeras ingin menunggu Luna bangun..., masih ada yang sakit sayang?” tanya Syena penuh kasih sayang pada Luna.
”mama..., pasti sudah tau semuanya dari kak Cyr dan Melvina...” kata Luna tiba-tiba.
”...”
”ma..., benerkan?” tanya Luna sekali lagi.
”ya..., mama tau dari mereka Luna..., jangan salahkan Cyrena dan Melvina nak karena mama yang memaksa...” aku Syena pada akhirnya.
”mama marah ma Luna?”tanya Luna lagi.
“mama akui mama cukup marah nak, tapi mama tau yang kamu lakukan untuk membantu ekonomi keluarga kita dan kamu sudah berusaha keras nak..., tapi tetap saja Luna..., mama mohon kamu berhenti melakukan pekerjaan-pekerjaan itu..., mama akan berusaha nak...”pinta Syena dengan wajah sendu.
“ma..., Luna tau pada akhirnya mama akan minta ma Luna untuk berhenti..., tapi keputusan Luna, Luna akan tetap ngejalanin apa yang Luna udah kerjain ma..., Luna nggak mau di anggap orang yang nggak bertanggung jawab ma..., jadi maafin Luna ma..., Luna nggak bisa berhenti....” putus Luna dengan yakin.
Syena meneteskan air mata dan ngebuat Luna panik X panik.
Syena mengelap air matanya dengan punggung tangannya, “mama Cuma mau anak-anak mama nggak ada yang terluka..., mama Cuma mau kalian tumbuh sebagai anak lain dengan selayaknya walaupun ayah kalian tak ada...., tapi kenapa Luna kenapa kamu selalu membuat mama khawatir nak..., kenapa? Luna tak sayang mama? Luna tak puas dengan apa yang mama berikan? Iya Luna?” tanya Syena dengan beruntun.
Luna menggeleng keras, ”nggak ma..., Luna sayang mama tapi apa yang Luna kerjakan semata-mata untuk membantu mama Luna nggak berharap yang lain, Luna Cuma mau ngeringanin beban mama...” kata Luna dengan alasannya menatap Syena dengan yakin.
”mama ngerasa ringan kalo kamu berhenti dari pekerjaanmu Luna...” kata Syena kali ini nada tegasnya keluar.
”maaf ma Luna nggak bisa...” Luna nggak kalah tegasnya sambil natap mamanya seakan ingin menebak isi kepala mamanya yang kayaknya berisi jaringan dan otak yang bekerja keras untuk membujuk anaknya supaya berhenti melakukan pekerjaannya.
”kenapa kamu sekeras kepala ini nak?” tanya Syena dengan raut frustasinya.
”maaf ma... tapi itu keputusan Luna yang sudah final...”
Syena menarik nafas dan kembali berkata, ”baik Luna kalau kamu masih keras kepala..., mualai sekarang segala sesuatu kamu tanggung sendiri..., mama nggak tau lagi mau kamu apa nak..., mama rasa kamu sudah nggak perlu mama lagi..., mama harap kamu ngerti mama nggak mau hidup dalam kekhawatiran..., masih ada Cyrena dan Melvina yang sayang mama...” ancam Syena dengan tega hingga Luna terdiam.
”maksud mama apa?” tanya Luna pelan.
”nggak ada maksud Luna..., mama hanya mau kamu berhenti tapi jika kamu masih keras kepala mama menyerah..., silahkan urus segalanya sendiri..., jangan libatkan mama dalam masalahm nak...” jelas Syena.
”mama marah sama Luna?” tanya Luna dengan tatapan sedih.
”nggak..., mama cuma mencoba untuk tidak membuat diri mama sendiri khawatir..., mama menyerah nak..., segalanya urus saja sendiri..., kau sudah bisa membiyayai hidupmu kan?”
Luna hanya diam seribu bahasa dan seribu kata.
”Luna harap mama nggak salah paham dengan maksud Luna..., Luna hanya ingin...”
”itu terserahmu sekarang..., mama tak perduli padamu Luna...” jawab Syena lalu mengambil tasnya, dan membangunkan Cyrena dan Melvina.
”ada apa ma?” tanya Melvina yang masih mengantuk.
”ayo kita pulang Mel...” kata Syena.
”loh..., gimana dengan Luna ma?” tanya Cyrena lalu menatap ke arah Luna, ”Lun..., lo dah sadar?” seru Cyrena kaget.
”ayo cepat kita pulang Cyr..., sudah malam..., Luna bisa menjaga dirinya sendiri...”kata Syena lalu berjalan ke arah pintu. ”Mel..., Cyr..., mama sudah nantuk...”
”kak..., kita pulang dulu ya?, besok Mel kesini lagi habis pulang skul..., kakak hati-hati ya...” pesan Melvina diikuti anggukan Luna yang terlihat lesu dan lunglai.
”Lun..., gw besok datang lagi..., gw nggak tau apa yang terjadi antara lo dan mama tapi gw harap itu bukan hasil dari kekeras kepalaan lo Lun...” kata Cyrena, lalu mengambil tasnya dan mengikuti mamanya keluar.
”kak..., maafin Mel..., aku nggak bisa ngejaga rahasia kakak..., Mel yang salah..., maafin aku kak...” kata Melvina serba salah.
”lo nggak perlu khawatir Mel..., lo nggak salah kok..., gw yang salah udah ngebuat mama marah..., sebaiknya lo pergi aja Mel..., mama lebih butuh lo ma kak Cyr...” ucap Luna sambil senyum sedih.
”iya kak...” angguk Melvina lalu jalan ke arah pintu, ”dah kakak..., Mel pasti balik lagi kok...” janji Melvina sebelum pergi.
Luna Cuma ngangguk kayak burung pelatuk.
Sepeninggalnya Melvina, ruangan tempat Luna terasa sunyi dan menakutkan. Luna sendiri Cuma diam dan memikirkan kata-kata mamanya tadi lalu menangis sesegukan.
Tangisan Luna ngebuat pasien yang lewat di depan kamar Luna langsung ngacir ketakutan.
”maafin Luna ma..., maaf..” tangis Luna sambil menutup matanya dengan sebelah lengan tangannya.
Luna tak menyadari seseorang yang lewat di depan kamarnya berhenti dan mengintip Luna dari celah pintu dengan tatapan sayu.

* * *
Read More

“BROWN!S$ FAMILY” Special edition *POOR PRINCESS* (chap.3)~Rev

TIGA

”gimana Mel kemaren berhasil...” tanya Ria dengan ekspresi cerah secerah bakwan yang baru di goreng (apa hubungannya??).
”kayaknya gue gagal deh..., liat di majalah ini nama gue nggak nyangkut sama sekali...” keluh Melvina dengan kecewa.
”ya sayang banget dong....” tambah Nita.
”tenang aja Mel..., masih banyak kesempatan kok..., oh iya kemaren malem gue liat kakak loe di gampar cowok loh...” cerita Lia dengan mimik susu...ehm...maksudnya dengan ekspresi serius dengan intonasi ganda.
”masa?”
”beneran...,kayaknya kakak loe lagi marah-marah ma tu cowok...eh tapi malah di gampar tuh...” jelas Lia lagi.
”oh...pantes aja muka kakak gue bengep...gue kira gara-gara...”
”eh...tapi tumben juga sih kakak loe nggak ngelawan tu cowok?biasanya ada cowok gitu dia kan brutal...” seru Nita sambil nopang dagunya yang agak lancip.
”enak aja mang kakak gue tampang kriminal?” bela Melvina.
”sori deh...”
”tapi loe bener juga sih..., kakak gue emang aneh...” akhirnya Melvina menyetujui.
”Mel...tau nggak kemaren gue liat Favian lagi nongkrong ma preman di sebelah sekolah kita ini...” kata Nita memberi informasi.
”kayaknya loe harus hati-hati deh Mel...” tambah Lia memperingatkan.
”h...,iya kayaknya gue ada firasat nggak enak...” kata Melvina sendiri.
”kayaknya Favian orang yan bertipe pendendam deh...”tambah Ria berkomentar.
”gue nggak ngerti ma diri gue sendiri kenapa sampe gue bisa pacaran sama dia..., tapi yang jelas selama itu dia selalu baik ma gue..., gara-gara kebaikannya itu yang bikin gue takut takut ntar bakal nyakitin dia...”kata Melvina secara terus terang kayak lampu seribu volt.
”tapi loe sayang kan ma dia?”tanya Ria ngeyakinin sobatnya.
”ya...gue sayang banget..., saking sayangnya gue...gue...”
”udah deh Mel sekarang semua udah jadi keputusan loe...kita-kita Cuma bisa ngedukung lo...ya kan?” Lia minta dukungan yang lain dengan anggukan setuju.
”ya..., thank’s ya sobat-sobatku..., kalian emang yang terbaik…” kata Melvina dengan tulus.
”iya dong...kita kan best friend...” sahut Nita dengan centilnya.
”secara...kita gitu loh...” kelakar Ria sambil ngepalin tangannya diikutin yang lain.
”the moon number one...” teriak keempatnya bersamaan, diikuti dengan tawa mereka.
”berisik banget sih...gue nggak bisa tidur neh...!!!” seru Luna dari balik kamar mandi dengan tampang kusut kayak kain yang nggak pernah di gosok.
”kakak...”
”ups...”
”kalo ngerumpi kira-kira dong...”sungut Luna sambil ngucek matanya kayak ngucek cucian.
”ya sory deh..., eh kakak denger omongan kita-kita ya?” selidik Melvina.
”yang kalian teriak the moen numbre one...”kata Luna yang di pleset plesetin.
”ye...kok di salah salahin sih...”
”ah...udah deh...hoem...tidur lagi ah...”kata Luna tanpa perduli langsung ngeloyor pergi entah kemana sambil berkuap ria.
”dasar kakak loe aneh...”
”udah deh guys..., yuk kita balik...”
”okey...okey...”
* * *
PLAK...
”terserah...loe mau ngehajar gue gimana pun...Rad...gue minta putus...” kata Luna tegas ketika berhadapan dengan cowok yang rada ganteng tapi sayang suka mukul dan pecemburu. Yang membuat rada aneh kali ini Luna kurang segarang macan kumbang seperti biasa yang dia tampilin di sekolahnya. ”semalem..., gue emang diem aja demi loe..., tapi sekarang...gue bener-bener mau putus...”
”apa alasan loe Lun? Gue nggak mau putus...” tolak Radit nggak kalah tegasnya.
”h...kenapa sih Rad...gue udah nggak berhargakan? Itukan kata-kata elo ke cewek-cewek loe yang lain...” tentang Luna dengan marahnya. Kali ini dia udah seperti gunung yang mau ngeluarin magma dengan asap mengepul dari atas.
”da...dari mana...?” tanya Radit agak kikuk, agak bungkuk, jalan meliuk-liuk.
”loe kira gue cewek buta, tolol yang gagu Cuma bisa nurutin kata-kata elo..., lo salah Rad...kalo loe kira gue nggak liat apa yang loe lakuin kemaren berarti loe yang buta Rad bukan gue...” sindir Luna balik, mengoper kata-kata Radit dengan semeshan yang dasyat (emang lagi pertandingan voli? Serius donk!).
”a...apa...dasar loe cewek miskin beraninya ngehina gue...” kata Radit yang naik-naik kepuncak gunung tinggi-tinggi sekali darahnya, siap mau mukul Luna lagi ketika seseorang menahan tangannya. ”siapa lo...”
”apa yang lo lakuin ini tindakan yang pengecut...lo nggak malu apa mukulin cewek di depan umum lagi...” ucap si penyelamat yang membuat Luna agak bengong kayak sapi ompong.
”apa urusan lo...”
”yah...emang nggak ada sih...tapi gue bete aja ngeliat cowok yang beraninya Cuma sama cewek...,sory deh...gue belum ngenalin diri...gue Revel...” kata si penyelamat yang langsung narik Luna untuk pergi.
”eh...” Luna yang masih kaget binti seneng Cuma diem bingung nggak tau harus berbuat apa lagi sambil ngikutin si penyelamatnya.
”ugh...” kata Radit yang kesal sambil ngepalin tangannya dengan kuat.
Luna yang masih nggak bisa berkata apa-apa Cuma diem kaku kayak patung pancoran, sampai di sebuah parkiran taman.
”eh... ma...makasih...” kata Luna dengan gugupnya sampe-sampe dia nggak sadar kalo dari tadi dia masih pake baju syuting untung nggak di sangka maling ma orang-orang.
”iya...sama-sama..., oh iya kamu adiknya Cyren kan?” tanya Revel langsung tanpa tendangan penalti (sepak bola kale...).
”i...iya...”
”oh...syukur deh gu...eh aku kira aku salah tadi...”
”nyantai aja kali...m...”
”panggil aja gue Revel...”
”oh...Rev...sekali lagi thank’s ya...” ucap Luna yang sudah agak tenangan setenang air pegunungan (bukan iklan loh!!!). ”lo...temennya kakak gue ya?” tanya Luna antusias.
”ya...gue satu kampus sama Cyren..., oh iya tuh bibir lo berdarah...lo lap dulu pake ini...” tawar Revel yang langsung nyodorin sapu tangannya.
”thank’s...” tanpa sungkan Luna ngambil lalu ngelapin bibirnya yang penuh ma darah dengan rasa saus tomat dan campuran selai strawberry yang udah kada luarsa.
”m..., sory kalo gue ikut campur tapi cowok tadi...”
”dia cowok...eh...maksud gue mantan...dia emang orang yang agak kasar....tapi dia lumayan baik kok...daripada lu manyun kan?” kenang Luna sambil tersenyum kecil sekecil debu.
”cowok yang gampang main pukul ke cewek lo bilang baik?” tanya Revel dengan nada heran.
”yah...itu dulu...pertama kali gue kenal dia dia...orang yang baik dan supel... ,supelpel...hehehe...semua pasti suka berteman sama dia..., tapi gara-gara hal lain...dia jadi kasar dan arogan...” jelas Luna sedih.
”owh...., tapi gue harap Cyren nggak khawatir dengan hal ini...”
”yah...kakak sih...nggak tau soal dia...,kami backstreet...” bisik Luna.
”oh...”
”ya udah...gue...harus pergi dulu...” kata Luna mengakhiri bincang-bincang talk show mereka.
”loh...nggak mau gue anter?” tawar Revel memberi tumpangan.
“nggak...nggak usah...gue masih ada urusan lain...” tolak Luna, “sekali lagi thank’s ya..., saputangan lo ntar bakal gue balikin deh...” tambah Luna lalu pergi.
“hm..”
* * *
“Cyr...gue bete neh...” keluh Kanya.
“bete kenapa?” tanya Cyrena yang lagi fokus ke kerjaannya sebagai penjaga Warnet tanpa musik klarinet dan net-net.
“ya..., masa sampe sekarang nggak ada cowok satu pun yang ngelirik gue..., kan bete...”
“ya...berarti itu belum jodohkan...”
“masa..., kurang apa sih gue...,kaya iya...,seksi ...ya lumayanlah...cantik...ya ampun cantik banget kale...” puji Kanya pada diri sendiri,sok kepedean.
“ye...,itu sih namanya kepedean kali...”
”senengin temen dikit napa sih Cyr...”
”okey deh..., tapi ngomong-ngomong...ngapain lo ke sini? Mau ngebantu gue kerja?”
”ogah ah..., nona cantik kayak gue nggak bisa kerja berat-berat tuch...” kata Kanya dengan nada di kanak-kanakin bin nggak pantes bint fales.
”ya udah...lo pulang aja dari pada ngerepotin gue mulu...” usir Cyrena dengan cueknya.
”ya Cyr...lo tega amat sih ma temen sendiri...”
”dari pada kinerja gue nggak optimal mending gue ngusir pengganggunya aja kan?”
”hah...maksud loe?”
”udah deh...” Cyren kembali ngerjain ketikan pesenan orang lain.
”hay... pegawai baru ya?” ucap Seorang cowok yang baru dateng dan nongol tiba-tiba kayak hantu bojong kidul.
“astaga…, ngagetin aja…” seru Cyrena yang agak melenceng dari habitatnya.
“wah…, lucu deh kamu…” canda si cowok.
“nggak sopan nih…” komentar Kanya.
”yah sory..., habis seru aja ada pegawai baru siapa namanya?”
”Cyrena...” kata Cyrena dengan agak sebel.
”kenalin gue Deny cowok cakep dari fakultas sanjaya jurusan pertambangan...” kata si cowok dengan pedenya ngejulurin tangannya untuk salaman.
”udah deh...nggak usah tebar pesona deh...”
”hehe...tp...tp dikit kan nggak apa-apa...habis Cyren...manis sih...”ucap Deny dengan senyuman mautnya.
”box 7 kosong silahkan kalau mau ngenet...” potong Cyren yang udah bete abis.
”oh...okey...ntar kita ngobrol lagi ya...”
”ogah...” ucap Cyrena dan Kanya berbarengan.
”hehehehe...” setelah suasana kembali kondusif aman terkendali Cyrena lanjut ngobrol sama Kanya yang udah stand by lagi setelah ngambil minuman dingin...
”oh iya Cyr..., kemaren gue liat adik lo ama cowok deh...”
”masa?” tanya Cyrena nggak percaya.
”iya..., masa gue bo’ong sih..., mana si cowok marah-marah ke Luna lagi...”
”yang bener Kan? Lo nggak salah orangkan?” tanya Cyrena meyakinkan sambil membenarkan tempat duduknya dengan serius menatap tajam setajam silet ke mata Kanya.
”ya ampun Cyr..., lo kok nggak percayaan ama gue sih?” ucap Kanya memastikan. ” gini deh Cyr..., gue juga pernah liat adik lo lagi di arena track-trackan balapan mobil stadion LBM, lo bisa ngebuktiin ntar malem deh...” saran Kanya memberi pilihan.
”h...okey...tapi kalo itu nggak kebukti...”
”gue bakal ngetraktir lo makan sebulan penuh... gimana?” janji Kanya.
”okey...,kita buktiin..., yah walaupun gue nggak yakin...”
”okey..., gue juga ikut...” keduanya lalu berjabat tangan tanda persetujuan.

* * *
”apa Sy... Alvian ngajak kamu balik?” pekik terkejut Hana.
”iya Han....”
”terus...kamu?”
”aku nggak jawab Han...aku takut salah bertindak...”
”gara-gara dia pergi gitu aja kan kamu jadi menderita begini...? Sy...aku saranin kamu jangan terima dia...apapun rayuannya...aku juga yakin kok, anak-anakmu pasti nggak setuju...” saran Hana bijak.
”iya sih...”
”maaf Syen...kalo aku terlalu ikut campur..., tapi aku nggak mau sampai kamu nanggung lagi penderitaan seperti dulu...” kata Hana dengan lembutnya.
”...”
Tiba-tiba saja ada sesosok yang datang tak di jemput pulang tak di antar dari arah depan dengan masang tampang bete bin ngeselin.
”heh...kalo kerja yang bener dong...” bentak Riri.
”h...iya-iya...” kata Hana dengan tampang mendung tanda wajah suntuk.
”heh kamu... di panggil bos tuh...” ucap Riri kurang sopan pada Syena.
”aku?” tanya Syena bingung.
”iya kamu siapa lagi? Tembok? Panci?” ucapan Hana nggak ada yang lucu sama sekali.
”...” pelan Syena berjalan ke arah kantor si bos dengan di kawal ajudan dengan tampang bete abis di guyur hujan batu.
”heh...awas kalo macem-macem...” ancam Riri.
“…” Syena langsung masuk ke dalam kantor yang telah menunggu si bos.
“oh…Syena…silahkan duduk…” Ferris mempersilahkan Syena dengan senyum khasnya.
“m…ada apa bos memanggil saya?” tanya Syena agak sungkan. “saya melakukan kesalahan lagi bos?”
”oh..., tidak Syena...”kata Ferris dengan sopan,”silahkan duduk...”
”...” Syena menurut dan duduk di kursi di depan meja bosnya.
“begini…karena kamu sudah bekerja dengan baik dan pelanggan puas saya akan menaikkan jabatan mu menjadi kepala pelayanan begaimana?” jelas Ferris secara langsung dan gamblang suling.
“a…apa? Tapi saya…”
”anggap saja ini upah hasil kerja kerasmu selama ini…” jelas Ferris berbasa-basi, “ bagaimana? Kamu mau?”.
“…”Syena diam berfikir.
“Syena?...jika kamu tak bersedia saya akan mencari orang lain...”
“te…tentu saja…tentu saja saya mau bos…” jawab Syena segera.
“bagus…kebetulan kepala pelayanan yang sebelumnya mengundurkan diri, dari pada aku harus mencari yang lain, lebih baik memilih salah seorang karyawan yang melaksanakan tugasnya dengan baik….” Jelas Ferris panjang X lebar.
“te…terimakasih bos…”
“m…sama-sama…”
”sekarang silahkan melakukan seperti biasa..., besok kamu langsung bekerja menempati posisimu saja....”ucap Ferris lagi.
”baik bos saya akan bekerja dengan baik...., sekali lagi terimakasih bos...”
”m...”
Syena keluar ruangan dengan wajah sumringah, hingga membuat Ririn heran.
”apa kata bos? Kamu di keluarkan?” kata Ririn dengan sinisnya.
”Tidak..., bos hanya memuji hasil kerjaku...” kata Syena sedikit berbohong. ”Rin..., aku harus kembali kerja dulu....”
”heh..., aku belum selesai ngomong...Syena...” panggil Ririn setengah berteriak.
”ada apa ini?” kata Ferris tiba-tiba keluar dari ruangannya.
”bo...bos....” kata Ririn dengan malu lalu pergi mengikuti Syena kebelakang.

”Mel lo tau gak..., kalo di SMP kita mau di adain ultah ke 67...,yah... pake tiket sih...., lo mau datang nggak?” kata Ria sore itu saat di rumah Melvina.
Melvina tampak berfikir layaknya ilmuan Albert einstein (asal nggak jadi setengah botak aja.) ”Boleh sih..., asal gue dapet tiket gratis ya...., lagi bokek nih...” tampang Melvina di buat melas kayak anak-anak yang ada di lampu merah.
”huh...,elo..., gue yang minta traktir kok malah lo yang minta traktir gue sih...”
”gue mau juga dong kalo di traktir...” sahut Nita yang baru dari kamar mandi bareng Lia.
”ah lo...lo pada..., BSS deh....” syarat Ria tanpa Nota.
“aduh…, gue gak punya duit nih…, lo tau ndirikan kalo gue baru kemaren bayar SPP…, buat sehari-hari aja gue harus malak kak Luna…” Melvina berkata dengan sedih dan murung kayak ikan kering aja.
”yah..., gimana dong..., padahal di sana ada si Reza....”
“hah..., cowok yang dulu suka ngejahilin Melvina sampe nangis itu ya?” ingat Lia, ngebuat Nita yang baru makan singkong goreng keselek dan muncrat ke arah Luna yang baru dateng. “ kak..., Maaf....”
“aduh...., padahal gue buru-buru mo pergi kemuncratan lahar jigong..., sial bener gue sih....” omel luna sambil ngeliatin bercak di bajunya.
“udah deh..., sana kakak ganti baju aja..., bau tau g....” omel Melvina galak “eits..., jangan makan puding Melvina di kulkas...!!!” pesan Melvina dengan berteriak kayak di pasar ikan aja. ”kak..., denger g?”
”IYA-TYA....” teriak Luna dengan suara falesnya dari dalam kamar ampe kucing yang lewat dapurnya aja langsung ngacir ketakutan.
”sibuk banget kakak lo...” kata Nita setelah gak keselek lagi.
”ya gitu deh...., gimana yang tadi? Kalo gak ada dana…, gue gak ikut…” putus Melvina dengan cepat kecepatan 80 km/jam.
Yah... inikan reunian kita Mel... ayo donk..., sapa tau di sana lo bakal dapat pacar lagi...” bujuk Ria. ”Mel...”
”gue fikir dulu deh....”
”kalo lo mau gue tombokin dulu..., ngutang gitu...” kata Lia berpromosi layaknya SPG.
”gak..., ntar pake bunga lagi....” tolakMelvina sambil pura-pura mencibir.
”ye... lo kira gue rentenir....” ralat Lia yang juga sambil pura-pura ngambek.
”iya tepatnya, si tukang perhitungan....” jawab Melvina,Ria, dan Nita bersamaan layaknya paduan suara sambil ketawa binti ketiwi.
”ye..., loe pada ya...” Melvina berusaha ngelempar bantal tamunya ke arah teman-temannya yang kayaknya berkomplot untuk ngerjain dia.
Keempatnya tertawa hingga tak menyadari Luna di belakang mereka memandang aneh keempatny. ”lo pada dah gila ya....”
”kakak..., ngagetin aja deh...., cepet banget mo pergi lagi..., kakak nggak mandi dulu apa ?” selidik Melvina,dengan penuh kecurigaan seperti detektive girl.
Dengan santai sambil masang sepatunya Luna ngejewab. ”ntar aja deh..., gue lagi buru-buru nih..., eh Mel..., gue mau ke track..., lo tau kan apa yang harus lo laporin ke mama dan kak Cyrena?”
”okey..., tapi kakak tambahin jatah uang jajan Melvina...” syarat Melvina dengan licik, tanpa kick, tapi bukan di cekik (ngasal banget sih....:P).
”itu sih gampang..., tapi inget kalo lo keceplosan....”
”iya...iya... kakak tenang aja...udah sana pergi....” Melvina bangkit lalu ngedorong kakaknya pergi sebelum Nita berkata,
”kak..., tambain uang jajanku juga dong....” kelakar Nita.
”hah...” Luna belagak blo’on padahal blo’on beneran, ...upz....
”Lia juga kak...”
”aku juga...” Ria ikut-ikutan ngajuin diri.
”enak aja emang lo...lo pade sapanya gue?” kata Luna jengkel. ” udah gue berangkat dulu..., bye....” Luna pergi dengan ngebawa sepedanya lagi.
”wah..., lo...bakal jadi pergi donk...” goda Lia sambil berkedip ma Nita.
”gak tau deh...” Melvina ngangkat bahunya (untung gak ngangkat meja, mang Melvina samson??)
”kalo lo datang Mel...,, gue yakin Reza past malah naksir lo...” kata Lia dengan mulut belepotan minyak, kayak bayi besar yang gak keurus aja.
”duh...Li...mulut lo tuh... bersihin dulu...”omel Ria sambil ngelempar lap ke muka Lia.
”sialan lo....” kata Lia sebel lalu ngelap mulutnya lalu ngelempar balik ke muka Ria.
Lia bales nyerang Ria sambil ngelemparin balik lap itu hingga ghampir terjadi perang lap antara blok Lia vs Blok Ria, ”ye..., sialan lo...”
”udah deh....”lerai Nita. ”menurut gue bener kata Lia tadi deh...”
“apaan..., yang ada paling entar gue di jahilin lagi....” tolak Melvina. “gue udah benci banget ma dia...” putus Melvina sambil menggenggam erat gelas di tangannya, wuih...untung nggak pecah tu gelas, kalo pecah Melvina bakal kayak pendebus provesional, itupun kalo selamat dari luka-luka gores yang di sebabkan kaca yang tak terima di pecahin, wedew...,panjang amat penjelasan ya..., intinya gak pecah.
“hush..., ntarkalo lo bener-bener ketemu dia lo malah jatuh cinta lo...”sambar Ria sambil nyomot singkong yang tinggal satu-satunya dan bersamaan ma Lia yang juga pengen ngambil tu singkong. “Lia..., lo kan dah makan 5....”
“sapa cepat dia dapat...” Lia langsung ngembat tu singkong lalu di makan sambil ngejulurin lidah pada Ria yang langsun manyun sepanjang 5 cm.
”amit-amit deh..., gue benci banget sama dia...” kata Melvina dengan suara sinisnya, sambil memalingkan wajahnya.
”iya waktu lo kelas dua lo pernah di permaluin dia di depan kelas kan?” ingat Ria. “ tapi itu dulukan?... siapa tau dia berubah...” Ria memberikan pendapatnya yang lain.
“nggak mungkin..., mungkin sekarang dia tambah parah...” ungkap Melvina tak percaya.
“tapi... dia sempet minta maaf ke lo pas kelulusan kan Mel...” ingat Ria. ”lo tau..., gue liat waktu itu dia pengen minta maaf bener-bener ke lo Mel...”
“udah deh..., gak usah di bahas..., sebel gue jadinya...” sungut Melvina. “lagi kenapa harus ngomongin dia sih....”
“yah sapa tau lo berdua jadi jodoh kalo ketemu ntar...”sindir Nita.
“betul...betul...betul....” tambah Lia.
“hah?...udah deh...”
Ketiganya tertawa sementara Melvina ngambek sambil manyunin bibirnya sampe 5 cm, untung nggak sampai lepas tu bibir.
Keempatnya ngelanjutin ngobrol tapi selain ngomongin topik yang bikin bibir Melvina maju loh. Sampai sang mama dateng...
“malam tante...” kata Ria dengan sopan.
“malam semua...”kata Syena dengan ramah. ”Mel..., mana kakak-kakak mu?”
”kak Luna pergi ke rumah temennya lagi mah..., katanya mau ngenet gratis...., tapi kalo kak Cyren, Melvina gak tau mah...” lapor Melvina dengan seperempat berbohong.
”oh..., mama kekamar dulu ya...”
”ya mah...”
“maaf merepotkan tante….”tambah Nita.
“ya…” sahut Syena lalu masuk ke kamarnya.
Nita menetap Syena hingga masuk kekamarnya. ”Mel..., nyokap lo umur berapa sih? Perasaan gue dari SMP ampe sekarang tetep muda aja ya..., malah gue rasa nyokap lo tambah muda aja...” tanya Nita dengan heran.
”nyokap gue kira...kira umur 35...”kata Melvina cuek sambil ngerjaing tugasnya.
”muda banget sih Mel...mank nyokap lo nikah umur berapa?”tanya Lia penesaran.
”lo gak tau ya Li...,nyokap Melvina kan nikah muda...,umur 16 kan?”jawab Ria yang emang tau silsilah dinasti keluarga Melvina.
”gue kan baru kenal lo...lo pade kelas 1 smu..., ya mana gue tau...”kilah Lia gak mau kalah.
“gue aja baru tau sekarang..” kata Nita.”gue baru liat nyokap lo kali ini kan...., biasanya nyokap lo pulang malem kan?” Nita juga ngambil tugasnya dan mulai tugasnya untuk nyontek tugasnya Melvina.
”iya....ya..., Nita ma Lia gak pernah liat nyokap gue ya....” ingat Melvina.
”kok bisa kawin muda sih?” tanya Nita penasaran. ”HLN ya Mel?”
”hus...,gak lah...,nyokap gue sebenernya dulu loncat kelas, lulus SMU dapat beasiswa ke universitas nah ketemu ma bokap gue dari pada dosa mereka berdua dinikahkan deh..., jadilah kak Cyren duluan..., gitu loh...” jelas Melvina dengan volume suara kayak kerendem air keran.
”oh.....” ko’or ketiga teman Melvina bareng. Ke tiganya ngelanjutin ngerjain tugas yang dari tadi belum kelar gara-gara acara ngegosip mereka yang amat panjang kayak sinetron aja.

Di tempat lain, di arena track-trackan balapan mobil stadion LBM, Cyrena dan Kanya masuk ke arena yang pertandingannya sebentar lagi bakal di mulai.
”mana kan?” tanya Cyrena sambilcelingukan. ”lo ngeboongin gue ya?”
Kanya yang sibuk celingak-celinguk lalu natap Cyren dengan sebal, “ayo kita ke sana Cyr…”
Ke duanya lalu menuju ke satu tempat yang di penuhi dengan mobil-mobil yang siap untuk di adu.
”nah..., lo liat yang di deket mobil di sana gak Cyr? Itu adek lo kan?” tunjuk Kanya yang emang bener itu adalah Luna tapi dari belakang tentu aja dan bersiap untuk naik ke mobilnya. “ya kan Cyr?...eh Cyr....lo mau kemana woy?”
Cyrena berusaha ngeliat lebih jelas sambil ngedeket ke arahnya namu sayang belum sempat sampai Cyrena nabrak seseorang. “ma...maaf...” kata Cyrena sambil bangkit berdiri.
“kalo jalan liat-liat dong...aduh...” cowok yang di tabrak Cyren lalu menatap Cyren dengan lekat sampe Cyren agak salting di liatin seperti itu.
”e...eh..., sekali lagi maaf....” kata Cyrena lalu menarik Kanya pergi.

”apa lo gak denger kata-kata gue Lun hah?” bentak seorang cowok pada Luna yang sudah tenang duduk di mobil balapnya.
”jangan ganggu gue lagi Rad..., kita udah putus...., lo gak berhak ngatur gue lagi ngerti?” bentak Luna lalu masang sabuk pengamannya. ” dan inget lo Cuma cowok brengsek yang Cuma bisa mainin hati gue..., gue benci lo Rad....” Luna nutup kaca mobilnya tak perduli pada Radit yang terus berusaha ngedobrak kacanya dengan kasar.
”Cyer..., lo liat ndirikan? Itu adik lo kan?” yakin Kanya sambil tetap menatap ke arah mobil Luna yang telah bersiap tuk melaju di arena.
”ya..., lo bener kan...itu adik gue...” kata Cyren dengan lemasnya lalu terduduk dikursi penonton. ”kenapa Luna...”
Kata-kata Cyren kehenti waktu adu balap mobil di mulai. Mobil Luna yang ada di urutan ke 3 dari depan terus maju berusaha ngebalap mobil yang lain tanpa memberi kesempatan di belakangnya, Luna yan sempat melirik ke arah bangku penonton sekilas melihat Cyren yang menatap mobilnya. Luna yang sempat tak berkonsentrasi sempat akan menabrak mobil di sebelahnya. Luna kembali bisa mengendalikan mobilnya. Dia terus melaju dan berusaha untuk membalap mobil lain sambil berharap cemas.
”hufh...., untung adik lo selamat Cyr....”desah Kanya lega sambil mengusap dadanya.
”h....” Cyrena nggak kalah khawatirnya ngeliat adiknya yang keliatan ugal-ugalan.
Mobil Luna terus melaju di antara mobil lainnya dengan kecepatan super tinggi sampe tu mobil agak ngepot keliatannya. Luna nempatin urutan yang paling depan dengan posisi di belakang sebuah mobil berwarna silver yanglebih mewah dari pada yang di naiki Luna yang hanya mobil sport lama yang agak usang di tafsir para ilmuan pemulung mobil bekas umurnya kira-kira sudah seabad.
Sial..., cepet banget sih mobil tu orang..., mentang-mentang orang kaya..., awas lo...”ucap Luna yang betul-betul nggak mau kalah. Dia terus memacu mobilnya mengikuti alur track dan meninggalkan mobil di belakangnya. Luna mencapai garis finish pertama saat tiba-tiba dia oleng dan membanting stir terlalu ke kiri hingga menabrak pembatas arena cukup keras menyebabkan gesekan yang akhirnya menimbulkan percikan api. Luna yang ada di dalam mencoba melepaskan sabuk pengamannya namun tidak berhasil. Api mulai menjalar dengan cepat. Penonton yang panik termasuk Cyren langsung berteriak histeris. Tanpa perduli Cyren maju ke arena lapangan dan mencoba menerobos namun di halangi panitia acara yang takut mobil terbakar itu akan meledak.
”di dalam adik gw..., biarin gw kesana....LUNA....LUNA.....”teriak Cyren.
”Cyr....,cyr...”tahan Kanya sambil menarik sahabatnya untuk menjauh.
Api terus berkobar tiba-tiba terdengar suara aneh, dan seorang laki-laki mengomando agar semua mundur. DHUAR..., mobil itu meledak...
”Tidak...LUNAAAAA......”teriak Cyren lebih histeris lagi.

* * *
Read More

Rabu, 12 Januari 2011

“BROWN!S$ FAMILY” Special edition *POOR PRINCESS* (chap.2)~Rev

Dua

”kakak..., ayo dong...masa gitu aja nggak mau sih?” rajuk Melvina saat lagi berusaha ngebujuk kakaknya.
”kan udah gue bilang..., gue nggak bisa...gue males...” tolak Luna cuek lalu ngeloyor pergi ke dapur. ” mel apaan sih loe nguntitin gue mulu...”
”Melvina bakal bilang sama kakak dan mama kalo kakak nggak mau nganterin Melvina siang ini...” ancem Melvina.
”bilang apaan sih Mel?” kata Cyrena yang nongol tiba-tiba.
”e...eh...kakak...” kata Luna gugup.
”mau bilang kalo kak Luna.... humpz....humpz...” dengan cepat Luna ngebekap mulut adeknya.
”kenapa sih kalian berdua ini..., Lun..., nggak ada yang loe sembunyiin dari gue kan?” selidik Cyrena dengan curiga.
”ya...ya nggak adalah..., Melvina Cuma becanda doang kak...” Luna berkilah.
”masa?”
”iya tanya aja ndiri...,...okey gue anterin elo...” bisik Luna ngalah.
”oke dech..., bener nggak apa-apa kok kak..., Cuma mau bilang kalo di skul kak Luna sering banget molor di kelas...” kata Melvina berbohong.
”ye...sialan loe...”
”bener Cuma itu?” tanya Cyrena lebih dalem.
”bener kok kak...,ya udah yuk mel...kita berangkat ntar telat lagi..., dah kakak” dengan terburu buru Luna narik adiknya ke depan sedangkan Cyrena menatap penuh curiga pada keduanya.
”dasar loe ya..., ampir aja ketahuan...” kata Luna dengan dongkol sambil terus ngegenjot sepedanya. “awas loe kalo sampe lain kali ke tahuan lagi…”
”iya...iya maaf deh kak..., tapi jadi kan kak Luna nganterin aku ke agency model itu?” tagih Melvina yang berpegangan erat di pundak kakaknya.
”iya...iya..., tapi inget...”
”okey...okey..., oh iya kak gimana pacar kakak itu kok nggak ada keliatan lagi sih?”
”nggak tau deh..., sejak kerja keluar kota dia nggak pernah ngehubungin gue lagi...” cerita Luna yang tetep fokus ke jalan.
”oh..., terus...balapan malem kakak itu masih tetep?”
”ya iyalah...kalo gue nggak ngetrack gimana gue mau ngepenuhin kebutuhan gue sendiri..., loe tau kan gimana mahalnya harga pulsa sekarang....”
”oh..., lain kali ajak Melvina kek...,kan bosen juga di rumah...”
”enak aja loe..., bisa di damprat kak Cyren gue kalo ketahuan...”
” yah..., payah neh...”
Nggak lama ke duanya sudah sampai sekolah mereka.
”inget ya kak pulang sekolah jangan kabur...Melvin bakal nunggu di sini...”
”iya...iya...udah sono masuk...”
”oke...”
Sewaktu sedang memarkir sepedanya Luna di peluk dari belakang oleh teman-temannya.
”Luna..., untung loe udah sehat....,gue kira loe udah mokat...”
”enak aja loe lu..., nyumpahin gue ya?”
“sori ya Lun…, gue kekencengan ngelempar ya?” ucap Olivia yang nggak kalah khawatir.
“aduh…sakit neh lengan gue…”rintih Luna yang emang lukanya lagi senat-senut.
“sory deh…”
“gimana loe kemaren? Kok bisa pingsan sih?” kata Olivia yang masih penasaran.
“gue juga nggak tau…, waktu lemparan bola loe kena ke dada gue…, rasanya nyesek banget…ya waktu nge shut bola eh gue udah nggak kuat terus ambruk…” cerita Luna kayak baca cerpen di muka kelas aja.
“tuh kan gara-gara gue…”
”Liv loe nggak salah juga kok..., gue mo tanya ke loe Lun..., loe semalem sebelon tanding jadi stut girl film apaan sih?” ngintrogasi Luna kayak satpol pp aja.
”m...biasa film action...yang biasa di siarin di tv swasta itu...”
“loe pernah kena tonjok di situ ya ?”
“ih parno neh...”
“lun...gue serius...”
“sebenernya sih waktu gue ngegantiin pemain utama yang harus syuting terbang tiba-tiba talinya putus ya gue jatoh gitu...”
“jadi dada loe ngantem tanah langsung?ya ampun Lun coba loe cerita ke gue kalo loe habis kecelakaan...” pekik Olivia ngeri.
“em...sebenernya dada gue sempet ngehantem batu sih...”kata Luna mengakui,” eh plis jangan bilang siapa-siapa ya! Please...please...”
“h..., okey tapi sekarang loe harus di periksa di uks ma dokter Risma...” kata Lulu teges.
”tapikan gu...gue...”
”ayo...nggak ada alesan lain lagi...,Liv seret dia ke UKS”
”roger bos...okey...” bagaikan tawanan Luna kudu di seret nuju uks.

”eh Cyr..., adik loe nggak apa-apa kan?” tanya Kanya setibanya Cyrena di campus.
”iya nggak apa-apa...thank’s ya udah nganterin gue ma adik gue pulang...”
”iya sama-sama kita kan sahabat...,eh tuh si Revel dateng lagi...kayaknya dia lagi nyari perhatian elo deh...” tebak Kanya yang emang tepat banget.
”hai Cyr..., gimana kemaren...”
”tenang aja...kalo soal adeknya baik-baik aja kok...” Kanya yang ngejawab.
”oh...syukur deh...,m...Cyr...loe mau makan siang ma gue nggak? Gue yang neraktir deh...” Revel berpromosi.
”sory ya tuan Revel..., gue udah duluan janji ma Cyren buat ke mall...” serobot Kanya lagi.
”oh..okey..., kalo lain kali gimana?” Revel tetep usaha.
”m...gue fikir-fikir dulu ya...” kali ini Cyrena yang nge jawab, “ sory Rev…gue duluan kekelas ya…, yuk Kan…”
”oke...”
”H...” Revel mandang kecewa ke arah Cyren yang udah menjauh.
Sementara si Cyrennya ndiri lagi ketawa-ketiwi ma Kanya.
”gokil juga loe Cyr...”
”habis dari kemaren gue bete dia nempel-nempel mulu ma gue...” Cyrena berkilah.
”hah...,ih kayak kutil deh...”
”hahaha...” Cyrena yang kurang hati-hati nabrak seseorang di tangga ampe buku tu orang pada berjatuhan nggak karuan.
”aduh...”
”eh...so...sory...”pinta Cyrena bersalah lalu ngebantuin mungut tu buku-buku yang melanglang buana ke sabang sampe merauke di bantu Kanya.
”elo sih Cyr...” sudut Kanya.
”ya...maaf...gue bener-bener nggak sengaja...” kata Cyrena yang sibuk mungutin kertas yang keluar dari peredarannya. Setelah semua ke kumpul.
”sory ya...” pinta Cyren.
”...”
”ayo Cyr kita udah telat nih...” kata Kanya yang langsung panic setelah ngeliat jam, dosky langsung aja narik tangan Cyrena.
”sekali lagi...maaf ya...” tambah Cyrena sambil sedikit ngeberi senyum ke orang yang baru di tabraknya tadi sebelum ngilang di balik tangga.

Saat mata kuliah pertama selesai...
”hufh...untung aja tadi kita nggak telat...” ucap Kanya sambil bernafas lega.
”iya sih tapi kasihan orang tadi tau..., loe langsung narik gue sih...”
”halah...., udah deh yang penting kita selamet..., loe tau sendirikan biar kita anak baru, bu Ana nggak segan-segan ngeberi hukuman kalo kita telat...”
”iya sih...”kata Cyrena akhirnya ngalah.
Untuk ngisi kekosongan selagi nunggu dosen mereka masuk Cyrena ngobrol seru ma Kanya sampe-sampe ada yang dateng mereka nggak ngeh juga sampe di tegur...
”yak..., perkenalkan saya Mario dosen baru di sini...” kata orang itu memperkenalkan diri.
”loh Cyr..., itukan yang loe tabrak tadi pagi...” bisik Kanya pada Cyrena yang juga lagi merhatiin lalu nyembunyiin mukanya di balik batu eh...selimut, eits...salah! maksudnya di balik buku.
”iya Kan..., ya ampun dia dosen kita pantes gue nggak kenal...,Kan gue malu…”
“ye…, elo sih…tadi pagi nggak liat-liat jalan…” Kanya balik nyalahin Cyrena.
“ya maaf…, gue kan nggak sengaja…”
Selama tu dosen ngajar Cyrena yang ngerasa malu udah nggak sopan ma dosennya Cuma bisa sembunyi di balik bukunya, kalo di liat dari radius jauh sih…, dia kayak anak kangguru yang sembunyi di kantung induknya…, hihihi…lucu deh ngeliat Cyrena yang gelagapan waktu tu dosen yang ke bilang masih muda, ganteng lagi nanya kenapa dia sembunyi mulu.
Akhirnya jam bebas buat Cyren yang duduk tenang di pojok kantin bareng Kanya.
“gila…, gue serasa mo kabur aja tadi tau nggak…” kata Cyren sambil minum colanya.
”tapi tu dosen baru ganteng juga ya...” kata Kanya yang ngebuat Cyrena ngerinyitin dahinya kayak kunyit.
”hah..., loe naksir ma dosen muda itu?”
”kayaknya sih gue nggak, nggak ada harapan...maksudnya,soalnya dari tadi yang di liatin loe mulu...” goda Kanya.
”ih...apaan sih...”
”eh tapi kok tumben banget si Revel itu nggak masuk tadi..., jangan-jangan gara-gara loe tolak ajakannya tadi ya...” tambah Kanya memanasi.
”ye..., gue lagi gue lagi..., gue dah tenang sebentar aja loe malah ngebuat gue takut...” sungut Cyrena nggak suka.
“iya-iya sory…”
“eh…, gue mau nyari kerjaan nih…” Cyrena ngalihin pembicaraan.
“hah…,kerja!!!”
“iya loe tau sendiri kan gimana ekonomi keluarga gue…, gue pengen bisa ngebiayain kuliah gue sendiri…, kasian mama gue…” Cyrena beralasan.
“oh…, loe emang orang yang baek ya Cyr…, oke deh gue bantu loe nyari kerja sekalian loe temenin gue belanja ke mall okey?” tawar Kannya.
“okey deh…” setelah kesepakatan itu pesenan siomay mereka dateng, mereka makan dengan lahap tanpa ada yang curiga seseorang sedang mandang ke arah mereka.

“hayo kak Luna mau kabur ya…!!!” seru Melvina saat Luna dengan diem-diem mo kabur.
“eh adikku yang manis…, enggak kok…, gue Cuma mau ngatretin sepeda gue biar kita bisa cepet pergi…” Luna berkilah sambil nyengir.
“huh…alasan…,udah deh kita cepet berangkat aja…ntar keburu kak Cyren pulang…” setelah Melvina siap berdiri di atas sadel sepeda Luna mereka jalan nyisirin pinggiran kota nuju ke suatu tempat. Luna yang emang lagi semangat 45 balapan antara mobil ma sepeda bututnya langsung ngebut gitu aja berusaha ngebalap tu mobil yang tau bakal di kuntitin sepeda aneh langsung tancap gas. Walhasil setibanya mereka di tempat tujuan di sebuah mall, Luna ngos-nosan kayak orang bengek.
“dasar…, keras kepala…kan udah Melvina bilang nggak usah ngebut…, ngepot deh situ…” cibir Melvina yang agak kesel ma kenekatan kakanya yang ngebuat rambutnya berantakan.
“han…hh…hh…loeh…she..ndiri …h..hh…yangh…mintha…chepehet…”kata Luna ngos-ngosan yang udah keringetan sampe bajunya basah semua.
“udah deh…,yuk temenin Melvina masuk…” paksa Melvina sambil narik kakaknya masuk setelah markir dengan rapi sepedanya.
“hila loe Mhel…, hue dah mho pingshan ghini masih loe paksha…” omel Luna yang emang bener-bener kayak orang teler.
“udah deh kakak kan udah janji mau nemenin Melvina…, ayo dong kak…ntar kalo adik tersayang mu ini di apa-apain gimana?” rayu Melvina.
“iya-iya tapi istirahat bentar napa…”
”ntar aja deh di sana ntar aku telat...” bantah Melvina yang dengan perjuangan keras berhasil narik kakaknya ke suatu tempat casting.
”loe bener-bener mau jadi artis ya Mel?” tanya Luna yang udah duduk tenang setelah Melvina ngedaftar and tinggal nunggu giliran.
”iya dong..., emang kakak aja yang mo ngebantuin mama? Melvina juga dong...”
”tapi Mel..., ntar kalo ketahuan kakak ma mama gimana? Loe sendiri tau kan kakak nggak suka kalo adik-adiknya kerja...”
”iya Melvina tau..., tapi kalau melvina keterima...Melvina baru bilang ke mama dan kak Cyrena...”
”terus kalo nggak di terima?” sindir Luna ma kepedean adiknya.
“ya sudah berarti Melvina emang belum beruntung...”
”bener loe nggak bakal kecewa?” tanya Luna hati-hati.
”yah Melvina sih sering kecewa ma kelakuan kakak..., jadi Melvina udah bisa tegar...”
”sialan loe...malah gue jadi kambing putih...”
”yee....”
”kakak tunggu di sini ya... Melvina udah di panggil...”
”iya sono..., berjuang ya...!! jangan sampe malu-maluin gue...” pesan Luna sebelum Melvina masuk ke ruang Casting.
”okey...”
Luna yang suntuk binti betek kayak bebek, langsung ngeloyor ke toko buku and kaset yang nggak jauh dari situ. Niatnya bulet untuk Cuma liat-liat doang, pertama dia ngejelajah ke tumpukan komik, pas udah puas Cuma baca doang dosky langsung transit ke bagian kaset. Yang di tujunya tentu aja di bagian Asia Mofie.
”wah...,bisa batal nih niat gue...” kata Luna pada dirinya sendiri sambil megang 2 kaset film. ”beli nggak ya?” Luna berusaha nimbang-nimbang, waktu lagi bingung milih mata Luna tertuju ke arah seorang cewek yang kayak nya pernah dia liat. ”loh...loh...,itu kan kak Cyren...,waduh gawat...” walhasil Luna nggak jadi beli malah main umpet-umpetan saat si Cyrena ma temennya masuk juga ke toko itu. ”aduh gimana nih...” Luna yang emergency banget ngintip kanan kiri lalu pindah posisi. Hampir aja Luna ke pergok tapi dengan jurus naruto ( hehehe..., maksudnya nyembunyiin muka di balik menu toko) dia berhasil ngabur ke tempat Melvina yang emang di sengaja ato nggak baru keluar dari ruang casting.
”ada apa sih kak?” tanya Melvina bingung ngeliat kakaknya kayak lagi ketakutan.
”ayo kita cepet pergi...”
”loh...emang kenapa kak?”
”di sini udah area nggak aman..., ada-ada...” Luna langsung narik adiknya ke belakang kursi buat sembunyi sampe Cyrena lewat. “hufh...”
“kok...kok...kak Cyren ada di sini sih?” kata Melvina setengah berbisik.
“gue juga nggak tau..., makanya kita harus cepet pergi...”
“iya kak...”
Setelah ngeliat sikon yang keliatan cukup aman Luna ma Melvina langsung ngacir ke parkiran, tapi sayang Kanya sempet ngeliat mereka.
“loh Cyr kayaknya itu adik-adik loe deh...”
“masa sih? Adik gue lagi sekolah tau...”kata Cyrena nggak percaya lalu nengok ke tempat yang di maksud. ” mana? Nggak ada tuh...salah liat kali...”
”iya...ya... kayak nya gue jadi puyeng ngeliat baju mulu...”
”dasar loe maniak shopping...”
”ini kan kebutuhan dasar gue Cyr...”
”iya-iya...suka-suka loe deh...”
Sementara di parkiran...
”huh...untung aja kita nggak ketahuan...” Luna bernafas lega sambil ngelepas gembok sepedanya. ”ayo Mel kita cepet balik...”
”iya kak...”
Pas mo jalan Luna terdiam mandang seseorang yang keluar dari mobil dengan seorang cewek, dengan tatapan marah Luna terus memandang orang itu.
”kak ada apa?” Melvina ikut mandangin ke orang yang ngebuat muka kakaknya murka. ”loh...itukan kak Radit pacar kakak...sama...” Melvina nggak nerusin lagi kata-katanya ketika si obyek udah masuk ke dalam mal. ”kak...”
”ayo kita pulang Mel...” putus Luna tanpa nada keriangan sama sekali dia langsung ngejalanin sepedanya menuju ke rumah.

* * *

Brak..., Luna numpahin kekesalannya dengan ngelempar tas sekolahnya ke arah meja belajar kecilnya.
”kak...” tegur Melvina yang nggak enak hati.
”mel loe kudu jaga rumah...gue mau pergi lagi...” kata Luna yang buru-buru ganti baju lalu pergi tanpa banyak bicara lagi.
”ya...hati-hati kak...” pesan Melvina pelan. Akhirnya dia nyibukin diri dengan belajar di ruang tamu sambil nunggu mama ato kakaknya pulang.
”loh Mel...,yang laen pada belum pulang ya?” ucap Cyrena yang baru dateng. ”nih gue bawain ayam..., di traktir Kanya...makan gih...”
”wah...,thank’s ya kak...” dengan semangat Melvina ngelahap ayamnya. ”tadi kak Luna pergi lagi katanya ke rumah temennya...”
”sisain Luna Mel...”
”tenang kak...”
”oh iya Mel..., loe tadi ada jalan ke mal ya?” tanya Cyrena yang ngebuat Melvina ke selek.
”uhuk...uhuk..., mana Melvina punya uang buat ke mal kak...” kilah Melvina agak gugup.
”oh..., apa si Luna ya?”
”e...enggak mungkin lah...soalnya dari tadi kak Luna nemenin Melvin...” sela Melvina.
”oh...,ya sudah deh...kakak ke kamar dulu ya...”
”ya kak...” Melvina kembali bernafas lega sambil makan jatah ayamnya ketika Cyrena masuk ke dalam kamarnya.

”kayaknya bos suka sama kamu deh Sy...” ucap Hana temen satu kerjaan Syena.
”masa? Ngaco kamu..., udah deh Han aku sama bos nggak ada hubungan apa-apa...”
”tapi Sy..., ini fakta loh...kamu itu cantik suami mu udah nggak ada..., kurangnya apa lagi coba...” sebut Hana dengan lacar.
”kurangnya karena kalian banyak bicara...” pekik Riri dengan pandangan yang nggak suka dengan Syena. ”cepat kalian kerja...,dasar tukang gosip...,kamu juga Syena...nyadar dong...bos nggak mungkin suka ama kamu yang udah punya 3 anak...”
”ye... Ri..., napa sih kamu sinis banget sama Syena...,lagian kita sama-sama pelayan di sini jabatan kita setara...jadi jangan sok berkuasa deh...” kata Hana yang nggak terima di omelin ma Riri.
”apa kamu bilang...,enak aja...heh...aku ini calon pemilik restoran ini juga...jadi jangan sembarangan deh...” kata Riri dengan sombongnya.
”apa kamu bilang? Nggak salah denger aku? Heh...kamu kira bos suka sama kamu? Ngaca dong...kamu itu bakal jadi perawan tua...” sindir Hana nggak terima.
”han...sudah ayo kita balik kerja...”
”huh..., kamu pasti tarik lagi kata-kata kalian itu...awas kalian..” dengan muka merah Riri pergi ngelanjutin tugasnya.
”huh...aku heran Sy...kenapa sih kamu itu nggak pernah ngebela diri dari nenek sihir itu...”
”aku nggak mau cari musuh selagi aku hidup..., udah deh Han...yuk kita balik kerja...” ajak Syena dengan lembut.
”kamu terlalu baik untuk di sakitin Sy...aku harap suatu saat kamu akan nemuin pasangan yang cocok buat kamu...,selain si brengsek Alvian yang udah ninggalin kamu gitu aja demi cewek lain...” harap Hana penuh ketulusan.
Syena hanya mengangguk dan tersenyum seraya mengiyakan doa sahabat yang selalu menemaninya dalam keadaan susah itu. Ke duanya kembali kerja hingga waktu pulang tiba.
”yuk Sy...kita pulang...udah malem...” ajak Hana.
”m...iya..., tapi bukannya kamu di jemput suamimu?” Syena mengingatkan saat seseorang dengan motor berhenti di depan mereka.
”eh...iya...aduh gimana dong...Sy sory ya...” kata Hana yang nggak enak hati.
”nggak apa-apa kamu pulang aja...biar aku naik angkot sendiri...”
”bener?” Hana meyakinkan.
”iya sana pulang....”
”hm...”
Tin...Tin...
Seseorang ngebuka kaca dan berkata, ”Syena..., kamu mau ikut saya?” tawar Ferris bosnya.
”eh...eng...”
”nah...Sy...ikut aja ini kan udah malem..., kalo sama bos aku percaya..., bos tolong anterin Syena ya...” kata Hana memberi pesan seponsor. ”ayo Sy...” Hana ngedorong Syena masuk, dan tanpa bisa menyela lagi Syena masuk ke mobil si bos.
”bos...maaf kalau saya ngerepotin lagi...” kata Syena dengan segan.
”jangan khawatir rumah kita satu jurusan kan...” tanpa banyak bicara lagi Ferris ngelajuin mobilnya, dan Riri yang emang biasa sengaja pulang telat biar di ajak bosnya Cuma bisa memandang dongkol ke arah mobil yang mulai menjauh itu.

”kemana lagi sih si Luna itu?” seru Cyrena di ruang tamu sambil mondar-mandir nggak karuan nungguin adik ma mamanya pulang.
”sabar kak..., paling kak Luna lagi ngerjain tugas di rumah temennya...” Melvina menasehati.
”masa?...akhir-akhir ini dia sering banget pulang telat...Mel...kenapa sih tu anak nggak pernah nurutin nasehat dikit aja...” Kata Cyrena yang marah-marah ndiri.
”kak...udah deh..., namanya juga kak Luna ya orangnya gitu..., eh mobil siapa tuh...” seru Melvina saat sebuah mobil berhenti di depan rumah mereka.
Dengan sangat penasaran keduanya ngintip dari jendela.
”mama kak...”
”ssst...”
”eh mama sama sapa tuh? Wah calon ayah baru nih...” tambah Melvina senyum-senyum sambil ngeliatin ke arah mobil yang terlihat bersinar-sinar di mata Melvina.
”hush..., kita tanya mama! Aku nggak mau sampe mama di sakiti kayak papa yang dulu....” tekat Cyrena.
”iya-iya...”
Saat Syena udah deket ke ruang persidangan Cyrena dan Melvina langsung duduk di kursi jaksa dan hakim.
“hei..., mama kira kalian sudah tidur...” sapa Syena.
“ya sapa yang bisa tidur ma kalo 2 orang anggota keluarga rumah ini belum pada pulang...” kata Cyrena agak sinis.
“iya..., maaf ya sayang....”
“siapa tadi mah mobilnya mewah banget...” kata Melvina dengan semangat.
”oh itu tadi bos mama..., dia Cuma nganterin mama kok...” jelas Syena lalu duduk di sebelah Melvina sambil ngelepas sepatunya.
”bos...apa bos ma?” tanya Cyrena dengan penuh kecurigaan.
”maksud kamu apa sih..., hei jangan-jangan kalian ngira itu tadi pacar mama ya?”
”m...” angguk keduanya bareng.
”tenang sayang ku..., mama sama orang tadi hanya sebatas bos dan karyawan nggak lebih okey..., Cuma tadi kebetulan aja dia ngajak mama pulang bareng... itu doang sayang...”
”masa ma?” tatap Melvina curiga. ” jangan-jangan dia lagi yang suka sama mama?”
”iya..., ma kami takut kalau...” dukung Cyrena.
”Cyrena..., Melvina...mama tau apa yang kalian fikirkan dan apa yang kalian takutkan tapi mama berani ngejamin kalau sampai saat ini mama masih pengen sendiri bersama kalian! Okey sayang?” kata Syena dengan penuh kesabaran.
”ma..., sebenernya kami Cuma mau mama itu bahagia..., Cyren...Melvin ma Luna Cuma pengen mama bener-bener bahagia sama pasangan mama...” ungkap Cyrena jujur. ”jujur ma...Cyren masih trauma sama papa Alvian yang ninggalin kita gitu aja...kita semua nggak mau itu terjadi lagi ma...”
Syena tersenyum kecil pada 2 anaknya. ” mama tau..., tapi seperti yang mama bilang tadi..., mama masih pengen sama kalian..., mama belum mikir untuk nyari pengganti papa kalian, tapi kalaupun suatu saat nanti mama ketemu yang cocok mama janji akan cari yang terbaik buat kalian anak-anak mama yang sangat mama sayangin...” Syena berikrar.
”iya...Melvina percaya sama mama...”
”Cyren juga ma...”
”m...makasih sayang...mama sangat menyayangi kalian...” ucap Syena sambil meluk anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.
”eh ngomong-ngomong Luna mana ya?” tanya Syena yang baru nyadar ada yang kurang.
”nah itu dia mah...dari siang tadi dia udah pergi kata Melvina sih ke rumah temennya...tapi sampe sekarang dia belum pulang juga tuh...” kata Cyrena sambil natap curiga ke arah Melvina. ”loe katain yang sebenernya kemana Luna pergi!” sudut Cyrena.
”bener kok kak, mah..., tadi kak Luna bilang ke rumah temennya..., sumpah deh...”
”ya sudah biar mama yang nunggu Luna pulang..., kalian tidur aja besok harus sekolah kan?” tawar Syena membuat pilihan.
”tapi ma...”
Cklek... , dengan sedikit mengendap-endap layaknya maling profesional kelas dunia Luna masuk sambil ngegeret sepedanya sampai nggak sadar semua pada ngumpul di ruangan itu.
”Luna! Dari mana aja kamu?” bentak Cyrena.
”loh...nak kenapa bibir kamu berdarah gitu nak?”
”...”
”Lun..., loe jujur ke kita..., loe habis berkelahi dengan siapa lagi?” tanya Cyrena dengan amarah di tahan. ”Lun...loe jawab atau nggak?”
”ya..., tadi...tadi Luna...”
”Lun..., nggak usah loe bo’ong lagi pipi loe bengkak bibir loe berdarah...., sebenernya apa yang loe lakuin?”
”iya nak...kamu kenapa?” tanya Syena.
”Lu...luna tadi Cuma sedikit kecelakaan kok...,kakak tenang aja deh...,tadi Luna jatoh dari sepeda waktu mo pulang ke sini...” Luna beralasan sambil tersenyum simpul pramuka.
” masa? Gue nggak percaya...”
”kak kalo kakak nggak percaya kakak liat sepeda Luna yang kebeset-beset gara-gara Luna jatoh tadi...” kata Luna ngeberi bukti akurat, tajam dan terpercaya.
”ya sudah..., sekarang kalian tidur aja biar mama yang ngebersihin luka Luna...” kata Syena.
”m...,biar Melvina aja mah...,mama sama kakak tidur aja...,mama pasti capek kan...”pinta Melvina yang dari tadi diem.
”tapi kamu besok..”
”tenang aja ma...,yuk kak! Melvin obatin...” ajak Melvin lalu membawa Luna ke kamarnya diikuti pandangan yang masih curiga dari Cyrena.
Di dalam kamar Luna...
”au...pelan dong...” Ringis Luna.
”salah kakak nyari perkara aja sukanya...,ini pasti gara-gara kerjaaan kakak itukan?”
”au...ssstt...iya...tapi pelan-pelan dong ntar ketahuan kakak ma mama gimana?”
”sory deh...”
Erangan Luna mengisi malam di rumah kecil itu.

* * * *
Read More

Minggu, 01 Agustus 2010

“BROWN!S$ FAMILY” Special edition *POOR PRINCESS* (chap.1)~Rev

Di pagi hari nan indah burung berkicau dengan cuitan seriosanya dan matahari ogah-ogahan nampakin jati diri sambil bersembunyi di selimut awannya, sayangnya pemandangan aneh bin ajaib itu kudu di nodai oleh teriakan membahana dan bunyi aneh yang keras.
“LUNAAAAA…”
GUBRAK…
“aduh…kakak inih gak tau orang lagi mimpi indah ya!!”sungut seorang cewek di sebuah kamar di rumah kecil di pinggir kota agak ke dalem. Si cewek tadi dengan mata merem melek menatap sosok di depannya yang sedang berkacak pinggang padanya, sambil ngelus pantatnya yang mendarat mulus di lantai.
“salah loe sendiri udah gue bangunin loe gak bangun-bangun terpaksa gue pake cara anarkis… rasain deh loe…” omel si cewek yang baru di informasiin bernama Dwayne Cyrena Neystrawberryna, cukup panggil aja Cyrena (kata Luna sih lebih pantes di sebut teteh-teteh bawel).
“han hashih hantuk hoem….”kata si cewek dengan kuap lebar dan bau naga yang ngebuat lalat yang sebenernya mo masuk kabur gitu aja, cewek imut nan manis ini sebenarnya bernama Himeka Lunachaerim Evelyn, cukup di panggil Luna si pemalas tukang molor ( kata Cyrena loh…).
“makanya cepet bangun dong…, gue bisa kesiangan neh…” Omel Cyrena lagi sambil ngeliat jam tiktok di meja. “tuh kan gue udah telat…” pekik Cyrena yang langsung kayak nenek-nenek kebakaran alis, dan bergegas keluar kamar yang super berantakan itu.
“dasar pagi-pagi udah ngedenger omelan teteh-teteh bawel…” rutuk Luna ngambil gulingnya end siap buat tidur lagi.
“LUNA…KALO LOE TIDUR LAGI GUE SIRAM PAKE AIR NIH…”teriak Cyrena dari dapur.
“IYA-IYA KAK…” balas Luna dengan wajah sebal. “huh dasar bawel…, g’ punya perasaan dasar kayak nenek-nenek…lagi mimpi di korea di ganggu…huh…”dengan omelan nggak karuan Luna langsung ngambil handuknya lalu menuju kamar mandi dengan mata merem melek sampe beberapa kali nabrak pintu, kursi, mamanya, dan kembali lagi nabrak tembok.
“aduh…,sapa sih yang mindah pintu kamar mandi…” pekik Luna blo’on sambil ngusap jidatnya yang mulai merah kayak tomat yang jatoh dari pohon.
“dasar tukang molor…, woy…melek dikit kek dari kita lahir ya pintu kamar mandi ada di situ…” kata Cyrena yang ngerasa geli dengan tingkah adeknya.
“salah kakak neh gak ngasih tau aku jadi salah deh…” omel Luna balik dan mulai bangkit berdiri. “tuh merah jidat Luna kan…”
“yee…, di bilangin malah nyalahin gue lagi…”
“sudah-sudah kalian ini pagi-pagi sudah ribut aja..., mama pusing ngedengernya...” komentar sang mama yang kata orang dan emang kenyataannya di sertai bukti otentik terlihat awet muda seperti anak umur 20 taonan.
“kakak tuh ma...”
“apa loe bilang...”
“Cyrena...Luna....sudah dong....”
“iya ma...”
Setelah damai di luar pengadilan Luna siap untuk kembali mau masuk ke kamar mandi...
“kok nggak bisa di buka sih..., macet ya?” tanya Luna.
Dengan desahan panjang Cyrena berkata di lembutin, “di dalem ada Melvina eneng Luna si tukang molor...”
”buset...dah, yah mending tadi gue bobo aja dulu..., tu enon kan mandi kayak di salon berjam-jam...” kata Luna dengan malas lalu duduk di kursi makan sambil mejemin matanya.
”ya ampun Lun...Lun...umur udah tujuh belas kok kelakuan loe gak ada kemajuan sih...” komentar Cyrena yang nggak di perduliin Luna yang udah di alam mimpi. ”mama...nasehatin Luna dong..., Cyren sebel ma dia...” adu Cyrena.
”iya sayang...nanti mama nasehatin dia..., sekarang mama harus kerja dulu okey...” kata Syena dengan lembutnya.
”ya mah..., hati-hati ya ma...” pesan Cyrena sambil nyium tangan mamanya.
”ya sayang ... Luna mama berangkat dulu ya nak...” kata si mama sambil ngecup jidat jenong Luna, ”Melvina mama berangkat dulu nak....”
”ya ma...” sahut Melvina dari dalem kamar mandi.
Syena kemudian pergi. 5 menit berselang Melvina keluar dari kamar mandi dengan rambut basah terurai.
”ya ampun....,kak Luna....” seru Melvina sambil geleng-geleng kepala ngeliat kakanya molor di kursi meja makan sambil setengah ngigo makan sarapannya.
”dasar tuh kakak loe..., bangunin gih..., capek gue...”
”okey...serahin ma Melvina...”kata Melvina dengan percaya diri lalu nuju rak piring ngambil 2 tutup panci lalu kembali lagi dan ngedeketin ke telinga Luna sambil ngitung mundur. ” 3...2...1...”. PRANG....PRANG...PRANG...
”BANGUN...HOI...HOI...BANGUN!!!!”
GUBRAKKKK...., untuk ke 2 kalinya di pagi itu Luna harus ngelus pantatnya yang udah mendarat lagi di bandara soekarno hatta tanpa gangguan dan super mulus.
”loe tega ya Vin...,aduh sial banget gue pagi ini…loe ma kak Cyren sama aja…ratu-ratu tega..., untung gue gak punya riwayat sakit jantung...” omel Luna panjang lebar.
Dengan kompak ke duanya ngejawab, ”BIARIN....”
”huh...” dengan gontai Luna jalan ke dalem kamar mandi.
Sementara itu Cyrena dan Melvina udah duduk berhadapan di depan meja makannya sambil ngobrol seru.
”jadi ini hari pertama kakak kuliah dong...pasti seru Vina jadi pengen deh...”
”Mel..., pokoknya loe harus berprestasi di sekolah apapun...jangan contoh kakak loe yang satu itu...”tunjuk Cyrena pada Luna yang baru keluar dari kamar mandi.
”kakak mandi apa sih cepet banget...”
”ye emang gw kayak elo mandi kudu berjam-jam!” balas Luna sambil nyomot telur gorengya.
”ih..., mandi ala monyet ya loe...”ejek Cyrena.
“serah deh…” kata Luna cuek lalu masuk ke dalam kamarnya.
Setelah nyelesein sarapan mereka, ke tiganya bergegas ke luar.
“ayo Mel…dah telat neh…” seru Luna yang sudah siap di sepedanya.
“ye…, gara-gara sapa coba…”
“udah…, cepet berangkat ntar kalian telat…” Cyrena ngingetin ke dua adiknya yang siap perang mulut.
”terus kakak?” tanya Melvina.
”kakak bisa naik angkot..., udah..., sana cepet berangkat...”
”kalo gitu kami duluan ya kak...” ucap Melvina sambil naik ke sadel sepeda Luna.
”ya hati-hati ya...., Lun jangan terlalu ngebut...”
”oke..., paling ke cepatan standar 120 km per jam....dah kakak..., Mel...loe pegang yang kenceng ntar loe malah ke bawa angin lagi...” Luna ngeperingatin dan langsung tancap debu dari halaman kecil rumahnya.
Cyrena tersenyum sesaat sebelum akhirnya pergi juga dari situ.

* * *

CKIT...., decitan rem sepeda Luna setibanya di pelataran sekolah.
”kak..., Melvin masuk dulu ya...” ucap Melvina dengan terburu-buru ninggalin Luna gitu aja.
”h...” desahan nafas sesaat Luna, dia lalu memarkir sepedanya di parkiran. Dengan langkah gontai Luna masuk ke kelasnya di kelas 12 ips3.
”Luna..., akhirnya loe dateng juga...”pekik Olivia sahabat Luna.
”iya Lun..., loe siang banget datengnya padahal inikan hari pertama kita di kelas dua belas..., jangan-jangan loe molor lagi ya gara-gara tadi malem?” serobot Lulu panjang lebar.
”udah deh..., gw ngantuk neh...,please ntar malem gue kudu kerja lagi kan...”
”tapi loe beruntung Lun..., guru kita pada belon dateng...”
”iya...iya...please gw pengen bobo nih..., ngantuk berat....” pinta Luna yang langsung ngeloyor nyari tempet duduk yang strategis di pojokan setelah itu dia kembali terlelap.

”Mel...,mel..., kenapa loe minta putus dari gue tanpa sebab gini?” ucap seorang cowok sambil nahan langkah Melvina.
”apaan sih Fav...,lepasin gue nggak...” ronta Melvina.
”nggak akan sampe loe ngejelasin kenapa loe mutusin gue gitu aja...”
”loe mau tau Fav? gue mutusin loe karena gue udah nggak suka lagi ma elo..., puas?” ucap Melvina dengan lantang.
”...”
”puas?”
”oh..., jadi gitu...loe mel, okey...loe bakal nyesel udah mutusin gue..., loe tunggu aja pembalasan dari gue...loe liat aja Mel...” teriak Favian lalu pergi dengan muka masam.
Melvina diemterpaku di tempat sampe temen-temenya datang.
”mel...loe nggak apa-apakan?”tanya Ria sahabat Melvina yang dari tadi nguping.
”g...gue nggak apa-apa kok..., m…Ri…kita balik ke kelas yuk…”
”loe bener-bener nggak mau ngejelasin yang sebenernya ma Favian Mel?” tanya Nita yang ikut gabung.
”ntar kalo loe di apa-apain gimana Mel..., loe denger sendirikan tadi gimana Favian ngancemnya...” tambah Lia.
”gu...gue nggak apa-apa kok..., loe tenang aja ada kakak gw juga kan…, dia pasti kalah ngelawan kakak gw…” kata Melvina sok kuat.
”iya...ya kakak loe kan preman ya...”
”enak aja gue loe bilang preman..., loe juga Mel..., jangan mengatas namakan gue dong..., loe kira gue body guard loe ...” Kata Luna yang tiba-tiba aja muncul.
”loh emang gitu kan? kakak di suruh kak Cyren ngejaga Melvina kan? nah sama aja kan ...” Melvina berkilah.
”ah...alasan loe doang, dasar loe...”
”loh kak bukannya kelas kakak udah masuk?” tanya Lia.
”bolos ya kak?” sudut Nita.
”kakak jangan malu-maluin aku dong...” tambah Melvina.
”enak aja gue di suruh cuci muka kok..., dah sana loe-loe pade masuk ke kelas...” perintah Luna lalu jalan ke arah wc.
”dasar kakak loe Mel...mel...cuek abis...”komentar Ria.
”udah deh..., yuk masuk...” ke empatnya kembali melangkah menuju ke kelas.

* * *

”hai Cyren pakabar loe..., gimana kemaren?” tanya Kanya sahabat deket Cyrena di kampusnya. ”loe tau nggak gue seneng kita bakal satu jurusan..., di tambah lagi kita bakal satu kelas bareng Revel...wah bakal seru neh...”
”Kan..., please deh loe nggak usah seheboh itu kali...”
”ya ampun Cyr..., loe ilfil banget ya ma tu orang? Please deh Cyr liat fakta dong..., dia pernah nembak loe kan orangnya tajir pinter lagi...,jadi untuk sahabatan nggak papakan?”
”iya..., tapi tetep aja gue ngerasa nggak enak ma tu orang kan...,gw udah pernah nolak dia...” kata Cyrena dengan tampang lesu.
”hah...!!! apa terus...terus..., kapan..., aduh Cyr loe gila ya...cowo...se...se...”
”udah deh Kan..., ini keputusan gue..., lagian untuk saat ini gue nggak mau mikirin soal pacar-pacaran..., okey…, dan jangan loe ungkit lagi….” kata Cyrena tegas.
Tiba-tiba aja yang di omongin udah nongol di belakang mereka.
”weis..., lagi ngomongin sapa neh?”
”Revel...”seru Kanya kaget.
”hai..., sori kalau gue ngengganggu...,tapi gue mo ngomong berdua ma Cyren...”
”o...okey...gue...gue kekantin dulu ya...” pamit Kannya lalu pergi ninggalin ke duanya.
”...”
”Cyrena..., sori kalau gue ngeganggu loe tapi gue butuh kejelasan dari loe kenapa loe nolak gue?” tanya Revel dengan seriusnya.
”h..., Rev...gue udah bilang kan kalo gue nggak mau pacaran dulu gue mau fokus ke study gue dulu...” jelas Cyrena dengan sabar. ”please Rev..., loe jangan selalu nuntut gue..., lebih baik kita kayak dulu aja jadi teman...”
”...”
”Rev..., loe nggak marah ma gue kan?” tanya Cyrena dengan mimik wajah memelas.
”ya nggak lah..., ya udah deh..., tapi gue janji suatu saat loe bakal bisa nerima gue…”
”Rev...”
”sory Cyr..., tapi gue bener-bener kok...!” senyum Revel jahil. ”m...sebaiknya kita masuk kelas aja..., yuk bareng...”
”hm...”
Ke duanya melangkah bareng ke dalem campus yang siap nyambut mereka.

”Lun...,loe kudu ikut pertandingan basket sore ini..., kalo nggak ada loe ntar yang jadi play maker tim kita sapa dong?” tuntut Olivia.
”aduh guys gimana dong gue ada kerjaan neh...”
”kerjaan loe tuh yang jadi peran pengganti itu ya Lun? Lun...loe belum ke tahuan ma keluarga loe apa?” tanya Lulu agak emosi.
”sampe saat ini sih aman-aman aja..., kakak gue sih agak curiga tapi paling dia taunya gue lagi maen ma anak jalanan...” Luna beralasan.
”jadi gimana dong..., loe harus ikut pertandingan kali ini nih..., kita bakal sparing ma anak fakultas hukum tempet kakak loe....,please Lun...” pinta Olivia memelas.
”wah gawat dong..., oke deh gue telpon bos gue dulu...” kata Luna menyetujui lalu nelpon bosnya hanya beberapa menit aja Luna udah berkata. ”okey gue ikut..., tapi awas kalo loe nggak ngetraktir baksonya mang mimin...” ancem Luna.
”okey...okey bos..., gue udah mesen 3 porsi...”
”buat gue semuanya ya...? wah thank’s ya loe sobat gue paling baek...” putus Luna sambil meluk Olivia erat.
”aduh...buset dah...loe dasar tenaga kuda! Sesek neh gue..., lagian loe rakus amat sih 3 porsi itu ya buat kita bertiga lah...” jelas Olivia yang ngebuat Luna kecewa berat.
”yah...nggak asyik loe...”
serentak Olivia and Lulu berteriak keras ”DASAR RAKUS...”

PRANG...
”heh kalau kerja yang bener dong...” omel salah seorang karyawan tempat Syena kerja.
”maaf...,tiba-tiba kepala saya sakit...” kata Syena beralasan.
”halah alasan kamu aja...”
”Ririn...Syena ada apa ini?” kata seseorang tiba-tiba.
”bos..., ini...si Syena mecahin gelas dia kerjaannya melamun terus bos...” lapor Riri dengan suara di imut-imutin, padahal sih amit-amitin.
”maaf bos..., saya hanya sedikit kurang enak badan...” kilah Syena.
”bohong bos..., itu Cuma alasan dia aja...”kata Riri dengan liciknya.
”ta...”
”sudah...sudah..., Syena..., kamu ikut saya ke ruangan...” kata si bos dengan tegas.
”rasain loe...”
”baik bos...”
”dan kamu Riri..., kamu jangan seenaknya membentak karyawan lain...”kata si Bos beralih pada pegawainya yang sok tebar pesona itu.
”baik bos...”
”ayo Syena ikut saya...”
”...” tanpa banyak kata-kata lagi Syena ngikutin bosnya ke ruangan yang cukup besar. Syena di persilahkan duduk di kursi depan bosnya.
”Syena..., saya liat akhir-akhir ini kamu selalu saja melakukan kesalahan..., ada apa sebenarnya?” tanya si bos dengan suara pelan dan datar.
”maaf kan saya bos..., saya memang kurang enak badan jadi saya...”
”memang kamu tampak lelah..., tapi tolong bersikap profesional pada pekerjaanmu..., atau kamu mau saya liburkan dulu untuk sementara?” si bos yang berjenis kelamin cowok itu ngeberi pilihan pada Syena yang langsung menggeleng.
”tidak bos..., saya harus bekerja demi anak-anak saya...., saya mohon bos...” pinta Syena dengan perasaan takut. ” saya berjanji akan bekerja sebaik mungkin saya janji bos....”
”h..., baiklah..., saya akan pegang janjimu itu tapi ingat jangan sampai melakukan kesalahan lagi jika itu terulang dengan terpaksa saya harus memecatmu...”
”baik bos..., saya janji akan bekerja dengan baik lagi...” janji Syena dengan penuh harapan dan kepastian.
”baiklah..., sekarang kamu kembali bekerja...”
”baik bos....” saat akan menuju pintu, rasa sakit di kepala Syena tiba-tiba aja menyerang, sampai Syena ambruk pingsan nggak sadarin diri.
”Syena...” pekik si bos dengan nada super khawatir.

* * *

Sorak sorai membahana di gedung basket fakultas hukum yang di penuhi penonton. Pertandingan sudah mulai dari setengah jam tadi dan udah memasuki babak pertengahan dengan skor 28-35.
”aduh mana sih si Luna itu...” pekik Olivia kesal.
”tuh dia dateng Liv...” tunjuk Kina ke seorang cewek yang lagi jalan ke arah mereka yang lagi istirahat.
”LUNA!!! dari mana aja sih loe..., kita udah kalah 7 point neh...” omel Olivia.
”sori..., sori.... tadi gue ada kerjaan..., tapi gue nggak telat-telat banget kan?” kata Luna dengan santainya sambil naruh tas dan ngelepas jaketnya.
”pokoknya loe harus rebut 7 point itu Lun...”tegas Vira temen satu klub Luna.
”tenang...tenang...”
”eh...kenapa lengan loe di balut gitu..., loe luka ya Lun?” tanya Olivia khawatir sambil melototin lengan Luna yang di balut perban.
”biasa...biasa..., udah deh yang penting gue bisa ikut kan...”
”iya tapi...”
PRIT...
Pertandingan kembali di mulai. Dengan tatapan khawatir Olivia terus memantau Luna.
Nggak jauh dari situ Cyren yang di kabarin bekas smu nya sparing ma anak basket fakultasnya udah stand by duduk di bangku penonton sambil merhatiin luka di lengan Luna.
”itu adek loe kan Cyr? Kenapa dia baru dateng?” tanya Kanya yang juga ikut nonton.
”iya..., gue juga nggak tau...” kata Cyrena yang masih fokus ke adeknya yang maennya endut endutan plus ogah-ogahan, biar pun gitu juga Luna udah masukin 4 point loh...!!!
”liv..., gue pengen pake jurus kayak di basketbal fire..., gimana?”canda Luna di tengah pertandingan.
“ngaco loe... Lun...serius dikit dong...” sungut Olivia.
”ayo dong Liv..., gue ngambek nih...”
”Lun...” pekik Vira yang langsung ngoper bolanya ke Luna.
”huh...kalo gue nggak di bolehin gue ngambek...” kata Luna yang langsung ngebuang bolanya gitu aja, untung sempet di tangkap Olivia.
”Lun..., loe lama-lama ngeselin deh..., oke suka-suka loe deh...” kata Olivia yang nyerah dan ngoperin lagi tu bola yang mendarat dengan anggun ke muka Luna sebelum akhirnya berada di tangan Luna. ”sory Lun...,nggak sengaja...”
”huahahahahaha...” tawa Kanya dari bangku penonton, penonton yang laen juga pada ketawa kecuali Cyrena. ”gokil..., adik loe emang gokil abis...”
”Kan..., gue nggak suka loe ngetawain adik gue...” tegur Cyrena di sopan-sopanin walaupun dia juga pengen ketawa.
”ups...sory...”
”hei..., ada apa sih kok kayaknya seru?” tanya Revel yang baru nongol. ”eh..., itu dari smu kita kan? Itu adik loe kan Cyr?”
”iya , loe telat Rev...tadi...”
”Kan...” potong Cyrena.
”okey...okey...”
”ada apa sih?”
Kanya Cuma senyum-senyum doang habis di pelototin Cyrena sih...
Skor sekarang udah seimbang sementara Luna beraksi sok eksis waktu ada kamera lagi motret pertandingan itu.
”Vis...”
”Luna!!!!” teriak Olivia emosi sambil nyeret kerah baju Luna kembali ke posisinya.
”eksisis dikit napa?”
”kita kritis nih..., liat waktunya tinggal 30 detik lagi...”
”iya...iya...” bola berhasil di ambil alih SMU 2 dan di giring menuju ring lawan.
”Lun...”
Bhuk..., bola di oper tepat ke dada Luna yang sempet mengerinyit kayak kunyit kesakitan, tapi gara-gara teriakan Olivia tadi Luna langsung nembak bola ke ring lawan and masuk bertepatan dengan habisnya waktu and bertepatan waktu Luna ambruk pingsan.

”Syena kamu nggak apa-apa kan?” tanya si Bos dengan raut khawatir.
”mh..., di... di...mana saya?”
”di klinik..., dekat restoran...kamu nggak apa-apa kan?” tanya si bos sekali lagi.
”maaf...,maaf saya ngerepotin bos lagi...” pinta Syena khawatir langsung duduk dari tempet tidur. ”bos..., maafkan saya...”tunduk Syena penuh sesal.
”sudah...sudah...,yang penting kamu nggak apa-apa...”
”maaf nak Ferris...ini resepnya..., tenang saja dia hanya kelelahan...” jelas seorang dokter yang nongol tiba-tiba dari lampu ajaib (jin kale...).
”makasih dok...”
”biar saya yang menebus sendiri bos...” pinta Syena dengan lemah.
“biar kita sama-sama saja…,toh apotik di depan juga sekalian aku akan mengantarmu pulang…” Ferris ngeberi tawaran pada Syena.
“tapi bos…, nanti saya ngerepotin…, lagi pula tas saya…”
“sudah lah…, aku merasa tanggung jawab dengan keluargamu sebagai bos mu…, oh iya tadi aku sudah membawa tas mu…,nih…” bantah Ferris sambil nyerahin tas Syena.
“m…makasih bos…” kata Syena dengan wajah memerah tanpa banyak bantahan lagi setelah nebus obat ke apotik Syena di anter Ferris ke rumahnya.
“m…,terimaksih bos…, saya berhutang banyak pada bos…”
“m…, jika kamu sehat dan bisa bekerja dengan bagus itu sudah cukup membayar hutangmu…” kata Ferris yang ngebuat muka Syena tambah merah kayak tomat.
“m…,sekali lagi terimakasih bos…, bos mau mampir dulu?”
”sepertinya nggak usah..., lagi pula ini sudah malam...”
“oh...baiklah...sekali lagi terimakasih...”
“ya...”
Saat Syena turun dari mobil bosnya, Cyrena dateng sambil ngegotong Luna yang keliatan lemes banget.
“Cyrena..., Luna...ke...kenapa...?”
“tadi tiba-tiba aja Luna pingsan ma...duh...berat mah...”
Dengan sigap Syena ngebantu Cyrena ngegotong Luna ke dalam rumah.
”loh...loh...ada apa nih?” seru Melvina khawatir.
”cepet bukain kamar Luna...” perintah Cyrena.
”i...iya kak...”
setelah Luna di rebahin ke tempet tidurnya ...
”ada apa sih sebenarnya ini...,kenapa Luna jadi gini?” tanya Syena mengulang sambil megang kening anaknya dengan lembut.
“tadi waktu maen basket habis pertandingan tiba-tiba aja Luna pingsan nggak tau kenapa mah...Cyrena juga bingung...” jelas Cyrena agak ngos-ngosan.
“loh terus kenapa lengan kak Luna di buntel gitu?” tanya Melvina lagi.
“itu juga aku nggak tau...”
Tiba-tiba aja Luna nyadar and langsung bangkit...
”Luna... loe ngagetin aja deh...” pekik Cyrena.
”kok gue udah di rumah sih? Bukannya tadi gue ada di pantai?” kata Luna setengah becanda tentu aja ngebuat Melvina ketawa di tahan.
“dasar loe ini bikin gue ma mama khawatir aja..., kenapa sih loe tadi?” omel Cyrena.
“iya nak...kenapa kamu sampe pingsan? Kamu sakit apa sih? Terus kenapa lengan kamu itu Luna?” tanya Syena secara beruntun.
”mama nggak usah khawatir Luna nggak apa-apa kok..., tenang aja kan tadi Luna udah bilang mungkin ini gara-gara Luna bejemur di pantai..., soal luka ini..., ini Cuma boongan kok..., biar keliatan keren aja tuh di pegang juga nggak apa-apa...” Luna memberikan alasan sambil mencet-mencet perbannya.
”dasar loe nih ye..., gimana orang nggak khawatir tadi loe tiba-tiba aja nggak sadarin diri...”
”Cyrena...udah..., kita biarin Luna istirahat...,Luna kalau kamu memang nggak mau cerita soal kenapa kamu pingsan mama nggak papa..., tapi kamu harus istirahat okey?” ucap Syena dengan bijak.
”okey mom...”
”huh...”
”udah udah..., ayo Cyrena Melvina kita biarin Luna istirahat dulu...”
”ya ma...” kata Cyrena ngalah lalu keluar duluan di ikuti Syena.
”dasar kakak..., jujur dikit napa..., sial mulu kan jadinya...”
”iya neh..., hari ini nggak hoki banget buat gue...,sial mulu..., eh... jangan-jangan ini gara-gara loe sumpahin gue kemaren ya...” inget Luna.
”ye..., enak aja emang nasib kakak aja tuh yang sial ...dah selamat menikmati hari-hari sial kakak...” kata Melvina dengan jahil lalu keluar dari kamar kakaknya diikuti dengan lemparan guling yang meleset dari target.
”sialan...” rutuk Luna sambil megang lengannya.
Di ruang makan Syena,Cyrena dan Melvina duduk berhadapan...
”kayaknya Luna aneh deh mah...” kata Cyrena memulai.
”aneh gimana?” kata Syena sambil ngirup tehnya.
”yah...kakak..., kak Luna mah emang dari dulu aneh kale...”
”hus...Melvina kamu nggak boleh ngomong gitu...” tegur sang mama.
”maaf ma...”
”tapi Luna bener-bener aneh lo mah..., beberapa kali Cyren ngepergok Luna pulang malem...”
“mungkin dari rumah temannya...”
“ato mungkin kak Luna ngigo lagi?..., kan dia sering tuh tidur sambil makan...” Melvina ikut tebak-tebak berhadiah.
“masa sih?” kata Cyrena nggak percaya.
“mungkin juga...”dukung Syena.
“mama ngidam apa sih waktu hamil Luna kelakuan ma namanya beda jauh...” selidik Cyrena.
“apa ya? Mama nggak ingat tuh..., oh iya...waktu itu mama suka sebel sama film-film konyol dari Korea mana lagi waktu itu ada anak tetangga sebelah yang usil banget jadi waktu mo negor eh...,si Luna malah mo lahir...” kenang Syena dengan senyum geli.
”ya’ampun mah...,pantes kelakuannya aneh banget...” komentar Melvina. Ketiganya ketawa bareng sedangkan yang lagi di omongin lagi bersin-bersin, ”hachu...hachu...siapa seh yang ngomongin gue...”

to be continou....
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

© Yuna World 유나, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena