Welcome to my world,Im 유나ArataJJ admin @KBPKfamily ,author &a someone who likes to fantasize.. Thank for visit ^^

Tampilkan postingan dengan label novel ku ^^. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel ku ^^. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Januari 2011

Love Story In The Women's Dorm~ chap.2

love story in the women's dorm
chap.2
Awal smester merupakan awal baru bagi anak-anak smu Lucia baik kelas pertama,dan kedua, untuk mendaftarkan masing-masing ekskul yang di tuju, pagi itu gedung olahraga penuh dengan antrian anak-anak Lucia yang ingin mendaftar ekskul di bidang olahraga.

“tolong semua untuk mengantri yang tertib…”ucap Pak Jevon seorang guru olahraga yang terbilang paling muda, masih sekitar 20 tahun, dia merupakan salah satu pengurus ekskul dalam bidang olahraga.

“huh enak sekali kamu Lun, nggak perlu daftar lagi karena kamu kapten klub karate…, hufh…”kata Sherry dengan sebal pada rombongan anak-anak cewek kelas satu yang langsung menyerobot antriannya dan menggoda ketua klub Renang yang masuk dalam 2 katagori pangeran sekolah.

“kau menyidirku? Kau seharusnya bersyukur karena dia menjadi ketua klubmu…, ku dengar dia juga menjadi wakil di klub seni musik…”kata Luna dengan dingin sambil memperhatikan anak-anak yang mendaftar klub karate.

“yah…yah…, baiklah…, kau jadi mengingatkanku…,ku dengar hari ini ada anak baru…, dan kemungkinan besar akan satu asrama dengan kita…” kata Sherry yang mengalihkan pandangan kea rah Karina yang datang kea rah Luna dan Sherry.

“hai Lun…, Sherr…, ku dengar kita akan kedatangan anak baru ya…??” Tanya Karina sambil menatap kearah antrian klub karate. “tahun ini sungguh mengherankan, klub olahraga tiba-tiba menjadi tenar…”

“yak au betul…, itu semua berkat Luna yang memenangkan kejuaran karate tingkat nasional bulan lalu kan…” ingat Sherry.

Karina tersenyum cerah sambil berkata,”semua aku duluan ya…”Karina langsung melesat pergi dan hilang diarah kerumunan orang-orang yang lalu lalang.

“ada apa sih???” Tanya Sherry bingung.

“entahlah…, kata Luna yang tak perduli lalu hendak pergi ketika Sherry menariknya, “Sherr…,aku harus pergi…”

Tidak Luna…, kau harus ikut denganku…”Sherry manarik Luna yang berusaha menolak.

“Sherr…, aku tak ingin ikut dalam ide gilamu…”Luna tau apa yang akan di fikirkan sahabatnya akan berdampak lain baginya.

“ini bukan ide gila Lun…, kita di beri kebebasan ekskul kan…, dank au membuatku sadar tadi…, kita akan ke ruang kesenian…”Sherry terus menarik Luna kea rah ruang kesenian tanpa komentar lagi.

**************************************

“hai Rev…, Jul…kalian daftar klub seni lagi tahun ini?”Tanya Sherry saat berpapasan dengan teman-temannya.

“iya…, kamu sendiri? Tumben k klub seni…, jangan-jangan mau ngedaftar ya?”tebak Reva setengah bertanya.

Sherry tersenyum malu lalu mengangguk dan menjawab dengan bangga,”ya aku akan ikut klub seni musik…, biarpun begini suaraku kan bagus juga…”

“cih…” kata Luna dengan wajah kesal.

“oh…, tumben kamu berminat dengan klub seni? Kamu nggak ikut klub renang lagi Sherr??” Tanya Reva dengan senyum manisnya.

“hehehe…, kau tau aku ingin mengembangkan bakatku…, aku tetap ikut klub renang kok…, kita kan sudah naik tingkat dan boleh memilih ekskul 2…, jadi kenapa nggak di manfaatin…”senyum Sherry dengan penuh maksud lain,”lalu Julia…, kamu masih ikut klun nari?”.

“ya…, tentu saja…, aku masih ingin meneruskan cita-citaku…, Luna ?? kamu…” Julia menatap Luna yang dengan raut sebal dan berdiri menyandar ke tembok.

“oh…, Luna…, dia Cuma nemenin aku kok…, kayaknya dia nggak berminat dalam klub seni…” ralat Sherry,”baiklah sekarang aku daftar dulu ya sebelum tutup…”Sherry kemudian pergi dan melesat kearah tempat pendaftaran.

Setelah menyapa Luna sesaat Reva dan Julia kemudian pergi.

“kau tak akan bisa mengelak dariku…, sudah ku bilang agar kau ikut klub Lukis saja…” ucap seseorang yang mendekat pada Luna yang menatapnya dengan sebal.

“aku sudah bilang berkali-kali bahwa aku tak berminat sedikitpun pada klub mu…”kata Luna dengan galaknya.

“kau menyia-nyiakan bakat mu…”

“aku tak perduli…, pergi dariku atau aku akan membantingmu seperti tahun lalu…” ancam Luna yang bersiap mengambil ancang-ancang.

Laki-laki itu tersenyum pada Luna,” aku Dean pasti akan membuatmu masuk ke klubku…” janji laki-laki bernama Dean itu.

“tak akan pernah…”tantang Luna dengan dingin.

“hai Lun…, eh…m...kak Dean…, mau mengajak Luna lagi??” Tanya Sherry sambil menunduk sopan pada Dean.

“sudahlah…, kau terlalu lama…, ayo Sherr…” Luna menarik Sherry menjauh saat Dean berteriak ke arahnya.

“aku pasti membuatmu masuk ke klubku…” teriak Dean.

Luna berjalan dengan cepat sambil menarik Sherry,”menyebalkan…” ucap Luna. Keduanya tiba di depan kelas masing-masing.

“Lun…, kenapa sih kamu gitu sama kak Dean??” Tanya Sherry sambil menahan langkah Luna yang akan memasuki kelasnya di sebelah kelas Sherry.

“karena aku tak bisa melukis…” jawab Luna cepat.

“jangan bohong Lun…” bisik Sherry saat siswa lain datang dan masuk ke kelas masing-masing.

“sudahlah…, aku tak ingin berdebat dengan mu…, sudah bel…, aku mau masuk…”tanpa menjawab Luna masuk ke dalam kelasnya dan membuat Sherry mendesah sesaat sebelum akhirnya masuk ke kelasnya sendiri.

**************************************

“sore Lun…Sherr…” sapa Raina yang baru datang dengat wajah yang letih.

“m…” jawab Luna tanpa respon yang sedang membaca buku di beranda.

“Sore ra…, kamu keliatan capek sekali?” Tanya Sherry sambil membalik majalah yang sedang dia baca.

“begitulah…” kata Raina yang langsung masuk kamar mandi dan berganti pakaian, “kalian tau murid batu yang akan sekamar dengan kita itu??” Tanya Raina setelah keluar dari kamar mandi sambil nyalain komputernya. Dan gentian Sherry yang ke kamar mandi sambil ngejawab pertanyaan Raina dari dalam.

“katanya sih anak donator sekolah Ra…”

“oh….” Kata Raina, saat itu ada yang mengetuk pintu kamar mereka.

“ya…” jawab Raina yang beranjak dari kursinya dan membukakan pintu. Sejenak Raina tampak berbincang-bincang dengan tamunya dan tak lama kemudian, Raina memperkenalkan seseorang pada teman-temannya.

“semua…,kenalin dia murid baru dan akan tinggal satu asrama dengan kita….,namanya Olivia…” ucap Raina sambil tersenyum cerah.

“oh…, hai Oliv…, senang berkenalan denganmu…” ucap Sherry yang akan bersalaman namun Olivia menatap kearah lain dengan pandangan aneh.

“huh…, apa nggak ada kamar yang lain?” Tanya Olovia sedikit mencibir.

Sherry dan Raina saling bertatapan.

“huh…, menyebalkan…, aku ingin pindah saja…” kata Olivia dengan ketidak sukaan.

“tap…tapi…”Raina ingin bersuara namun Luna memotong.

“pindah saja, tak ada yang melarangmu pergi dari sini…”kata Luna dengan dingiinnya sambil menutup bukunya.

“ka…kau…”geram Olivia.

“h….hai…lama tak berjumpa O…”

“baiklah cukup…,okey tak perlu kau ungkit lagi…, yang mana tempat tidurku??” Tanya Olivia dengan ketus pada Raina yang langsung nunjuk tempat tidur di tengah antara tempat tidur Sherry dan Raina. Dengan tatapan sinis Olivia langsung menuju tempatnya.

Sherry dan Raina saling tatap kembali lalu menatap Luna yang bersiap mengambil jaketnya.

“jangan Tanya padaku…, Tanya saja pada dia…, aku pergi untuk latihan akan lewat beranda…”kata Luna dengan datarnya kemudian pergi.

Raina dan Sherry hanya dapat mendesah tertahan lalu melanjutkan aktivitas masing-masing dan membiarkan Olivia dengan kesibukannya sendiri.

**************************

Seperti biasa Luna pulang menjelang petang setelah sift malam, bekerja di sebuah kedai coffe. Setiap malam Luna pulang lewat beranda dengan memanjat pohon di sebelah beranda asramanya. Tapi sial malam itu karena Luna hampir ketahuan oleh penjaga sekolah baru yang terkenal galak. Saat itu Luna yang terburu-buru tak memperhatikan sekitar dan langsung memanjat ke beranda ketika dia mencoba membuka berandanya yang terkunci.

“sial…” kutuknya dalam hati. Luna mengintip dari jendela ketika di sadarinya sesuatu yang salah…

“hei siapa kamu?”pekik seseorang dengan suara berat dari dalam.

“akh…, benar-benar sial…” Luna tak bisa mengelak lagi dan tanpa fakir panjang dia langsung melompat ke bawah.

“hei…”seru orang itu sambil menyalakan lampu dan memastikan tempat Luna menghilang tadi.

“siapa De?”Tanya seorang yang lain.

“entahlah…, tak ada siapa-siap…, mungkin hanya kucing…”katanya lalu menutup kembali pintu berandanya…

“hei Ry…, kamu mau kemana?”sapa Karina yang baru akan bermain basket.

“mau ke kelas…”jawab Sherry,”kamu sendiri kar?”Tanya Sherry balik.

“aku mau latihan basket…,eh…aku pergi dulu ya…ada panggilan dari anak-anak…bye Sher…”salam Karinalalu pergi.

“bye…”

Sherry meneruskan perjalanannya karena kurang hati-hati Sherry bertabrakan dengan seseorang yang membuat Sherry terdiam sesaat.

“maafkan aku…”ucap orang itu sambil bangkit lalu mengulurkan tangannya pada Sherry.

“emh…, tidak apa-apa kak…”kata Sherry malu-malusambil menerima bantuan dari orang yang dia tabrak itu.

“Yon….cepetan”pekik seseorang dengan terburu-buru,”kita ketinggalan nih…”

“oh iya sekali lagi maafkan aku…, bukan kah kau satu club denganku? Jika ada apa-apa kau dapat menemuiku…”katanya lagi dengan penuh perhatian.

“ma…makasih kak…”ucap Sherry sambil menunduk menyembunyikan wajahnya yang merah padam. Setelah orang itu pergi sery menatap selembar sapu tangan yang terjatuh di sebelah kakinya. Sherry segera memungutnya dan akan bertanya namun laki-laki itu pergi. “kak Yondi…”ucap Sherry perlahan sambil menggenggam sapu tangan itu.

..............................................

“APA! Bener ini saputangan kak Yondi?”seru Paulina histeris.

“iya…”kata Sherry serius sambil mandangin sapu tangan di tangannya.

“terus sekarang…apa yang akan kamu lakukan dengan sapu tangan itu?” Tanya Raina yang dari tadi hanya diam.

“ya sebaiknya kamu kembalikan saja…, biar nggak ada korban lagi…”kata Reva sambil memakan cemilannya.

“korban? Maksudmu?” Tanya Sherry polos.

“tentu saja Jesicca, Sherry….”jawab Reva dengan serius.

“kak Jesicca?” Tanya Sherry,”ada apa dengan dia? Ku dengar dia baru pindah tahun lalu? Aku tak pernah bertemu dengannya…”

“masa kamu nggak tau Sherr…, Jesicca itu mantannya kak Yondi. Waktu itu kak Jessica pindah dan baru kembali setahun yang lalu dank u dengar 2 minggu lalu keduanya baru putus…, tapi kak Jes tak ingin putus dan masih mengejar kak Yondi…”jelas Paulina panjang lebar.

“a…aku…”kata Sherry ragu.

“kau tau Sher…,jesicca tipikal wanita yang nekat melakukan apa saja demi keiinginannya…,Lia teman sekamarmu itu prtnah kena dampaknya dan kamu taukan dia langsung pindah gara-gara itu….”kata Paulina menakut-nakuti.

“bukankah…si Lia saja yang penakut? Kenapa dia tidak melapor pada guru?”

Tanya Sherry dengan heran.

“kau tau Sher…,Lia sudah melapor pada guru, dan Lia malah tambah di ganggu…apa kau tak tau keadaan teman sekamarmu sendiri?”Tanya Paulina dengan heran.

Sherry menggeleng kuat,”aku tak tau…”

“Jes memperlakukan Lia dengan sadis, dia nggak akan segan2 memakai cara anarkis…”Paulina menakuti Sherry yang bergidig ngeri sementara yang lain tersenyum melihat kepolosan Sherry.

“la….lalu aku harus bagaimana?”Tanya Sherry bingung.

“cepat kamu kembalikan sebelum ketahuan oleh Jes…”saran Reva.

“m…”angguk Sherry,”sesegera mungkin…” tambahnya sambil memandangi saputangan itu.

.............................................................

TENG….TENG….TENG…., bunyi lonceng istirahat siang akhirnya berdentang juga.

“Eh…udah waktunya makan siang…,ke kantin yuk…”ajak Sherry pada Paulina yang sedang menggeliat meregangkan ototnya.

“aku juga sudah mulai lapar…”ucap Raina sambil mengemasi bukunya.

“iya…”sahut Reva setuju.

Mereka kemudian menuju kantin, yang mulai di penuhi anak-anak yang sedang kelaparan. Saat tiba di kantin…

“yaampun…penuh…”ucap Sherry adak kecewa.

“selalukan…”sahut Karina yang baru datang.

“eh itu Luna…”tunjuk Paulina.

“iya…, ayo kita ke sana…”seru Sherry .lalu mereka menuju kea rah Luna.

“hei Lun…”sapa Reva paling awal.

“kita makan di meja mana?”Tanya Raina.

“terserah kalian…”jawab Luna singkat.

“kita ke sana aja yuk…”ajak Paulina sambil menunjuk kearah meja tempat Olivia duduk.

“iya kita ke sana saja…” dukung Sherry.

Tanpa banyak bicara lagi, mereka segera menuju ke meja Olivia.

“hei Liv…, boleh gabung?” Tanya Sherry sambil tersenyum.

“boleh saja, asal orang kasar yang bernama Luna itu nggak duduk di sini”ucap Olivia dengan kasar dan sinis.

“aku juga tak berniat duduk stu meja denganmu gadis sombong…”ucap Luna dingin, lalu pergi ke meja lain yang baru saja kosong dan duduk di sana sendiri.

“Gai, teman-teman…”sapa Julia yang baru saja datang,”mengapa Luna duduk di situ…?bukankah di sini masih ada kursi yang kosong?”Tanya Julia sambil duduk di salah satu kursi.

“eh…lagi bad mood…”jawab Raina singkat sambil melirik Olivia yang sedang memberengut kesal.

“oh…,begitu…”angguk Julia mengerti dengan lirikan Raina tadi.

……………………………...........................

Di meja Luna…

“hai Lun…”sapa Dean sambil menepuk bahu Luna dari belakang.

“jangan ganggu aku…”jawab Luna dengan ketus tanpa menoleh sedikitpun kearah Dean.

“kau terlalu dingin sebagai wanita…,dasar putrid salju…”canda Dean tanpa perduli lalu duduk di depan Luna.

“…”Luna hanya diam dan terus melanjutkan makannya.

“aku hanya datang untuk berbaikan denganmu…”ucap Dean yang membuat Luna marah dan menghentikan makannya.

“aku tak suka saat aku makan ada yang menggangguku…”kata Luna dengan sengit, sambil berdiri dari kursinya,”aku sudah tak bernafsu makan…”

“dengarkan aku dulu…”Dean menarik tangan Luna namun Luna menepisnya.

“lepaskan…”

“rahasiamu ada padaku…”ucap Dean tenang.

“…”Luna diam sambil mengerutkan alisnya.

“aku tak bermaksud mengancam…, tapi kurasa ini satu-satunya cara agar kau mau masuk ke klubku…”ancam Dean dengan raut serius.

“h…,kau bodoh…! Kau bukan siapa-siapa aku dank au jangan pernah coba-coba mengancamku dengan bualanmu itu karma aku tak pernah takut sedikitpun…”ucap Luna dingin sambil mendesah sinis, lalu pergi meninggalkan kantin dengan jalan yang menahan sakit.

“eh…m…Luna kenapa ya? Belakangan ini dia kok jadi pemarah dan aneh?”Tanya Karina dengan penuh curiga.

“aneh bagaimana?” Tanya Reva sambil memperhatikan Dean yang kemudian meninggalkan kantin juga.

“lihatkan jalan Luna tadi? Rada-rada terpincang begitu…, habis jatuh atau apa?”Tanya Karina penuh selidik sambil menatap Raina dan Sherry.

“iya kamu benar juaga…”dukung Julia dan Paulina berbarengan.

“mu…mungkin Luna keseleo waktu olahraga tadi…,iyakan Rain?”Tanya Sherry meminta dukungan Raina.

“i…iya kali…”jawab Raina ragu.

Brak…, dengan marah Olivia menyentak meja dan pergi meninggalkan pandangan kaget dari teman-temannya.



to be Con.......
Read More

Love Story In The Women's Dorm~ chap.1

cerita waktu smp..., bukan cuma aku yang bikin tp my best friend Selvy..., maafin aku....

love story in the women's dorm
chap.1
by_Hermailinda & Shelvy


Di awal musim, semi di asrama LUCIA...

"eh...Raina, selama liburan kamu kemana aja?"sapa Sherry, cewek yang terlihat sangat periang ini.

"m...,aku sih cuma bantuin mamaku di rumah, kalo kamu??"tanya Raina balik.

"kalau aku sih kemaren liburan ke Bali..., terus aku ketemu cowok yang cute banget deh, aduh kok aku jadi malu sendiri ya….” Kata Sherry sambil senyum-senyum sendiri,”tapi kalo cewek satu itu…”Sherry melirik pada seorang cewek berkacamata yang sedang asyik baca di sudut ruangan,”hmmm…”

“udah ah…, kita samperin yuk …”kata Raina sambil tersenyum menatap cewek yang di maksud.

“ok…”kata Sherry. Sherry dan Raina berjalan menuju kea rah cewek yang sedang asyik membaca di sudut ruangan itu.

“hai Lun…, gimana kabarmu? Liburan ini kamu kemana aja??” Tanya Raina tanpa basa-basi pada cewek yang bernama Luna itu.

“m…, aku baik…”jawab Luna dengan datar. “dan…aku…”

“udah deh Ra…, nggak usah di Tanya lagi …pasti liburan ini dia sibuk kerja…kerja…dan kerja lagi…,liburan untuk uang…”sela Sherry yang setengah bercanda.

Luna pun menutup buku yang di bacanya sambil melepas kacamatanya dia berkata,”aku akan melakukan sesuatu yang menurutku lebih penting dari pada hanya menghamburkan uangku untuk hal yang nggak penting…, aku hanya mencoba mengisi hidupku dengan hal yang aku sukai…yaitu bekerja…” kata Luna datar lalu dia beranjak dari tempatnya dan berjalan pergi.

Sherry yang sempat terdiam dengan kata-kata Luna hanya bisa terpaku,”eh…Ra…,Lu…Luna marah ya padaku?”Tanya Sherry gugup akan kata-kata Luna tadi,”aduh Ra…, aku salah ngomong nih…”

“nggak usah di fikirin Sher…, paling dia Cuma bercanda…, lagi pula kita sama-sama taukan sifat Luna yang super cuek dan dingin itu…” Raina menenangkan sahabatnya.

“i…iya deh…”ucap Sherry masih merasa bersalah.

“…”

“hey…, kalian berdua…., sedang apa di situ? Udah laper nih…” pekik Luna sembari berbalik kearah sahabat-sahabatnya.

“tuh kan…”senyum Raina diikuti anggukan Sherry.

“ada apa?...,ayolah…sebelum kantin menjadi sesak…” kata Luna lalu berjalan mendahului.

“m…, ayo deh…”ucap Sherry dan Raina bersamaan. Mereka pun berjalan menuju kantin yang sudah mulai di penuhi anak-anak lain yang sudah kelaperan, dan memang sudah waktunya jam makan siang.

“yaampun…, penuh…,gimana nih??”pekik Sherry kecewa.

“m…Luna melangkah pasti ke senuah meja yang di penuhi cowok berotot yang kelihatan kekar. Sesaat Luna berbicara akrab dengan mereka hingga para cowok itu meninggalkan tempat duduknya dan sempat mengucapkan salam pada Luna sebelum mereka pergi. Luna memberi isyarat pada kedua sahabatnya yang sedikit tercengang.

“wah Lun nggak nyangka…bukannya mereka dari klub tinju…, mereka terkenal seram karena tubuh besar mereka…,wah…Sherry kagum padamu Luna…”seru Sherry yang nggak di perduliin Luna yang langsung duduk di tempatnya.

Raina hanya tersenyum menatap Sherry lalu duduk di sebelah Luna.

“huh…” desah Sherry dengan kesal.

“sudahlah…,cepat pesan makanannya…”perintah Luna cuek, sambil memasang headsetnya.

“baiklah-baiklah…, kalian pesan apa?” Tanya Sherry dengan wajah cemberut, memang kali itu gilirannya mengambil jatah makanan.

“double choco banana chese…minumnya air mineral saja…”kata Luna cepat dan kemudian membuka buku yang di bawanya tadi.

“sama kayak Luna…,tapi aku minumnya teh green ya…”ucap Raina sambil tersenyum,”mau ku temani?” tawar Raina.

“”nggak usah…, hari ini kan memang giliranku ra…”saat Sherry hendak melangkah tiba-tiba Luna berkata.

“hei…, jangan lupa hari ini giliran kamu ngegantiin tugas nyuci piring ku...” ucap Luna dengan entengnya.

Langkah Sherry terhenti sejenak lalu menjawab,”i…iya…iya …aku ingat kok…”kata Sherry setengah hati lalu bergegas pergi memesan makanan.

“Luna…,kau ini…”tegur Raina. Namun Luna tak perduli.

Luna hanya diam dan kembali membaca bukunya.

“Luna…” Raina melepas sebelah headset Luna.

“…”Luna mengerti temannya ingin berbicara serius dengannya dan melepas sebelah headsetnya.

“apa kamu nggak merasa capek Lun?” Tanya Raina mengawali.

“untuk?”

“kamu selalu melakukan hal itu…, terus bekerja…, apa kamu…”Raina setengah berbisik.

“Ra…, aku nggak pernah merasa capek atau apapun yang sudah aku kerjakan ataupun yang aku lakukan…,karena aku akan menerima segala konsekuensinya…, aku hanya ingin menghargai hidupku sendiri dengan caraku karena aku adalah diriku sendiri…” ucap Luna dengan santai dan lugas. Raina mengerti akan sifat sahabatnya itu dan tidak membantah lagi. Tak berapa lama pesanan mereka datang,dan mulai menyantap makanan mereka masing-masing dengan suasana akrab.

“wuahhhh….,akhirnya kita kembali bersama lagi…., tapi aku jadi rindu dengan Lia…sayang dia pindah hanya karena hal sepele itu…, padahalkan kita sudah membelanya aku sedikit kecewa pada Lia…”ucap Sherry lirih sambil duduk di tempat tidurnya.

“sudahlah Sherr…,syukur-syukur kita bisa satu kamar lagi…, karena memang tak ada program acak kamar lagi…,kepala sekolah cukup pusing mendengar tuntutan para murid yang nyaman dengan teman sekamarnya…”putus Raina menerangkan sambil melipat pakaiannya dan memasukkan dalam lemari berukuran sedang di sebelah tempat tidurnya.

“hm…, kamu benar ra…, tapi kayaknya ada yang lagi bosen di kamar…”Sherry melirik Luna yang duduk dip agar beranda.

Raina mengalihkan pandangan matanya ke Luna yang sedang duduk di beranda sambil menatap kosong kea rah sebuah kartu atm.

“ada apa Lun?”Tanya Raina antusias sambil mendekat ke arahnya.

“hm…”desah Luna lalu beranjak dari tempatnya dan mengambil jaketnya di samping tempat tidurnya,”Ra…,Sher…kalian nggak perlu nunggu aku, tapi tolong beranda jangan di kunci…”pesan Luna lalu berjalan kea rah beranda.

“kamu mau kerja lagi Lun? Lun…, apa kamu nggak takut akan ketahuan…, Lun…kami mengkhawatirkan mu Lun…”Sela Sherry yang tau maksud Luna, sambil mencoba mencegah Luna dengan menarik lengannya.

“Sher…”tegur Raina.

“pokoknya nggak boleh…” kata Sherry keras kepala.

Luna tersenyum sesaat lalu melepaskan pegangan tangan Sherry,”aku tak ingin melakukan hal yang tak ingin ku lakukan Sherry…,aku tau kau bisa mengerti aku…”Luna tersenyum sesaat Lalu tanpa perduli lagi Luna bersiap di pinggir beranda.

Raina hanya mendesah ringan menatap Luna.

“Lun…, please untuk kali ini dengerin aku…”pinta Sherry dengan sewot,”kami nggak mau sampai…”

Luna memotong kata-kata Sherry dan mengambil ancang-ancang,”aku tak ingin berdebat denganmu Sher…, sampai jumpa besok…” Luna melompat kesebuah dahan pohon yang cukup tinggi dan tumbuh tepat di samping beranda, hingga dalam sekejap Luna hilang dari pandangan mata.

“LUNNNNN…..”teriak Sherry sambil melongok keluar beranda. Namun tak ada jawaban selain bunyi jangkrik , dan hentakan keras…

‘GUBRAK…’bunyi pintu kamar mereka di dobrak.

“ada apa Sher?”Tanya Karina yang pertama kali muncul, diikuti Julia, Reva,dan Paulina bersamaan dengan panic. Mereka cukup terkejut mendengar teriakan Sherry tadi.

“m…e…”Sherry terdiam kikuk.

“ada apa sih?...kok jadi gugup gitu?Luna kenapa? Ada apa?”Tanya Reva dengan panic.

“itu…si Luna…”ucap Sherry hamper keceplosan, ketika Raina dengan segera membekap mulut Sherry dengan tangannya.

“m…, itu maklum aja! Sherry kan suka nyanyi! Jadi Luna…Luna… gitu…ngetes suara …!” ucap Raina sambil menirukan suara dan gaya Sherry.

“oh…gitu…sukurlah…” kata Julia yang sebenarnya setengah tak percaya.

“ngomong-ngomong kalian kok bawa cemilan?” Raina berusaha mengalihkan pembicaraan.

“loh…,kamu lupa ya…? Sekarangkan waktunya kita ngegosip” jawab Paulina mengingatkan, dia duduk di tempat tidur Luna.

“oh…,iya…”ucap Raina baru ingat.

“lalu…, mana Lunanya?”Tanya Karina penuh selidik.

“itu…,Lunanya kabur gara-gara ngedenger suara Sherry tadi! Dia mungkin mules ngedenger suara Sherry yang menggelegar itu…”hawab Raina asal.

“ih…,kok kamu gitu sih?”ucap Sherry cemberut dan manja. Nah …, kumat lagi tuh sifat kekanak-kanakannya.

“udah deh…, sekarang sebaiknya kita mulai ngegosip…”ucap Paulina dengan cepat,”tapi apa topic yang asyik ya?” kata Reva memulai.

“apa aja deh” kata Sherry masih kesel.

“m…,kalo gitu cowok aja deh…” saran Paulina dengan wajah cerah dan semnagat yang tinggi.

“ra…, kamu nggak mau ikut?”Tanya Julia pelan, pada Raina yang kembali sibuk di depan komputernya (maklum Raina seorang ketua osis jadi khusus ketua osis di beri fasilitas tambahan).

Raina tersenyum perlahan lalu berkata”nggak…, aku lagi banyak kerjaan kalian aja …”tolak Raina halus lalu sibuk ngetik lagi.

“yah nggak seru dong…, padahal kita-kita mau tau soal kedeketan ‘you’ sama Eve…”canda Sherry sambil berkedip jahil menggoda Raina yang wajahnya langsung memerah.

“ah…,ternyata Raina pacaran ya…sama si wakil ketua osis…,m…bakalan seru nih kalo di bahas…,hatuh cinta ama si wakil…”pekik Reva sambil terkikik yang membuat konsentrasi Raina buyar.

“a…apa-apaan sih kalian ini ngaco…, aku sama Eve nggak ada hubungan apa-apa…,titik…dan jelas kan???” elak Raina yang Cuma di tanggapi yang lainnya dengan tersenyum tak acuh.

“ayolah Ra…, ngaku aja…, aku tau si wakilmu itu menyukaimu kan…”kata Sherry dengan menggoda di dukung anggukan yang lain.

“sudahlah…, dia itu hanya temanku nggak lebih…dan nggak kurang …, lagipula kalian ini baru masuk sudah nyebarin gossip yang nggak-enggak aja…” Raina menasehati panjang lebar.

“iya-iya…,memang susah deh ngomong sama orang yang lagi pura-pura nggak suka…”kata Karina sambil memakan cemilannya. Dan berusaha nyudutin Raina.

“eh tapi…, dari tadi aku nggak liat Luna …, kok nggak balik-balik sih?”Tanya Julia yang sadar akan keabsenan Luna.

“em…, eh…tau nggak waktu aku liburan aku ketemu cowok cakep…cute lagi…Cuma saying aku nggak sempat kenalan…” Sherry berusaha mengalihkan pembicaraan mereka yang mulai mencari keabsenan Luna.

“yah sayang banget sih…”kata Paulina yang tertarik, namun agaknya Kara masih curiga sambil nengok kearah beranda.

“yah…, namanya juga gugup…kan…aku…” suara tawa terus terdengar dari kamar itu dengan sesekali pekikan dan tawa ringan hingga waktu menunjukkan jam tidur mereka, dan masing-masing kembali ke kamarnya dengan rasa kantuk yang begitu kuat.

“hoem…Ra…aku tidur duluan ya…”kata Sherry dengan kuap yang lebar.

“ya deh…, tapi beranda jangan di kunci loh…”pesan Raina yang terus sibuk mengetik.

“beres…”

Waktu terus berjalan hingga Raina tak kuasa menahan kantuknya dan tertidur di depan komputernya yang masih menyala.

“waaa….”pagi yang cerah di awaki dengan teriakan Raina.

“hoem…”kuap Sherry yang terbangun oleh teriakan Raina,” ada apa sih Ra…, pagi-pagi udah teriak-teriak…”Sherry bangun sambil merenggangkan ototnya.

“ko…komputernya mati…, padahal filenya belum ku simpan…”pekik Raina histeris,”belum ku Copy lagi…gimana dong??”

“memang apa sih isinya?”kata Sherry dengan cueknya sambil ngiket rambutnya kemudian jalan kearah kamar mandi.

“data-data pengeluaran kas osis yang harus di tanda tangani hari ini…, aduh gimana nih…,hu…hu…hu…”Raina pun mulai menangis saat tiba-tiba Luna muncul dari kamar mandi dengan pakaian seragam lengkapnya.

“ada apa sih?” Tanya Luna sambil duduk di tempat tidurnya.

“Raina kehilangan filenya gara-gara komputernya mati…”jelas Sherry sekilas lalu masuk ke dalam kamar mandi.

“oh…,ini Ra…”kata Luna sambil nyerahin sebuah disket pada Raina,”datamu sudah ku simpan di sini semuanya…”jelas Luna memecah kebingungan Raina menjadi perasaan lega.

“makasih Lun…kamu memang teman terbaikku…” Raina mengusap air matanya dan kemudian sudah kembali sibuk di depan komputernya.

“…”sementara Luna sibuk menyiapkan diri.

“oh iya Lun…, kamu pulang jam berapa?” Tanya Raina yang tatapannya beralih pada Luna yang sedang mengenakan sepatunya.

“seperti biasa…, Ra…aku duluan …, ada yang harus ku kerjakan…” kata Luna sambil mengambil tasnya dan pergi ketika Sherry keluar dari kamar mandi.

“loh Ra…, mana Luna?” Tanya Sherry sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk dan telah berpakaian sekolah lengkap.

“dia pergi duluan…, oh iya Sher…, kamu duluan saja, aku harus menyelesaikan beberapa berkas lagi…, nanti kuncinya aku titip ke pengurus ya…” pesan Raina pada Sherry yang terburu-buru menyisir rambutnya.

“baiklah…baiklah…, aku pergi dulu Ra…dah….wakkkkhhhhh…”

GUBRAK…

Sherry yang kurang antisipasi jatuh dengan posisi tertelungkup, gara-gara keselimpet tali sepatunya yang belum diiket.

“adu Sher…., kamu gimana sih…, kok nggak hati-hati…” Raina membantu Sherry berdiri sambil menahan tawanya.

“huh…sial…” maki Sherry sambil mengusap hidungnya yang sakit, “sudahlah Ra…aku berangkat dulu…”kata Sherry dengan jengkel dan mengikat asal tali sepatunya.

Raina menatap Sherry hingga terdengar gedubrag untuk ke dua kalinya dan lengkingan suara Sherry yang kesal.

“dasar SIAL…..”

_________________________________

to be con....^^
Read More

Story of ~ALONERS ~ Mellody In Summer Chap. 1

All n' Lonery
CHAPTER 1 
~Aloner~
by_Hermailinda
Title : Mellody In Summer.
Genre: Musikal, romance, comedy,sad dramas (INGAT INI NOVEL BUKAN FF)
Penulis : Allicea Sayaka Midori
Susunan Pemain :
~ Lonery Shina Daichi (Hime Shina Daichi / Theresia Santha) = nama panggung “ONERSchan”
~ Allicea Sayaka Midori = nama panggung “ALL”
~ Honda Sagara Kouki
~ Arata Tsukasa Kasuga
~ Ayaka YunaHae Kudo
~ Jun Shin Sakai
~ Makio takizawa

Karakter Pemain :
Lonery Shina Daichi (Hime Shina Daichi / Theresia Santha)
Vokalis dari sebuah girl band di Korea, namun karena mengalami konflik dengan grupnya dia terpaksa mengungsi ke Jepang. Sifatnya humoris, suka akan keheningan, kadang suka serius cuek dan tomboy,dan Shina sama sekali tak suka romantis dan lebih suka menyendiri oleh sebab itu Shina memilih istirahat dari aktivitasnya sebagai vokalis dan berlibur ke Jepang.  Baru di ketahui Shina memiliki darah Jepang, padahal sebelumnya publik hanya tau dia sebagai keturunan Korea Spanyol, sehingga para wartawan gosip selalu mengejarnya dan mengaitkannya ke hal lain.
Suatu hari Shina (namajpg-red) berjalan di sebuah taman di pusat kota Tokyo,dia tertarik pada sebuah alunan lagu yang sangat menyentuh, tanpa sengaja dia bernyanyi dan membuat semua orang berkumpul, di situlah Shina bertemu dengan All seorang penyanyi jalanan. Segala awal karirnya berubah ketika Aloners terbentuk, bahkan dia jatuh cinta pada seorang Gitaris dan komposer lagu yang baru dia ketahui mantan dari All, akan kah semu menjadi kacau?

Allicea Sayaka Midori
Gitaris cewek jalanan, suka berkelahi dan dingin. Blasteran inggris Jepang namun tak jelas asal usulnya. Selalu membawa gitar kesayangannya tanpa seorangpun boleh menyentuhnya. Dia bekerja sebagai penyanyi Bar di klub-klub malam. Saat dia sedang bernyanyi dengan gitarnya di pinggir jalan tiba-tiba Shina datang dan membuat segalanya brubah. Keduanya langsung di tawari untuk rekaman. Awalnya All menolak, namun All yang akan kembali ke apartemennya tiba-tiba di kejar penagih utang. Teman satu apartement ternyata telah berkhianat dan menjamin segala aset terakhir milik All termasuk Gitarnya hingga dia menyetujui untuk memulai debutnya bersama Shina.
Dia bertemu mantannya Sagara, namun dia berusaha tetap bersikap tenang. Hingga Tsukasa, seorang vokalis band BlackL datang di hidupnya dan merubah segalanya.

Honda Sagara Kouki
seorang gitaris dan kompoer lagu yang berbakat. Cinta pertama All hingga ke duanya putus karena kesalah pahaman. Keduanya bertemu kembali setelah All bergabung dengan Shina. Namun perhatian dari Shina yang selalu memberinya semangat membuatnya mulai membuka hatinya untuk Shina. Bersikap keras dan selalu melakukan segala sesuatu dengan cepat. Sagara termasuk cowok dalam kategori yang paling diinginkan di Jepang. Hanya sayang sikapnya sangat susah di dekati bagi wanita yang ingin mengenalnya.

Arata Tsukasa Kasuga
 Seorang vokalis band BlackL di jepang. Ketenarannya hingga ke asia. Hitsnya menjadi andalan. Sifat Arata playboy dan di gandrungi para wanita baik muda hingga tua. Bersikap lembut di depan publik namun menyimpan rahasia di belakang panggung. Menyukai wanita berkarisma seperti All. Jika dia bersungguh-sungguh menginginkannya dia akan terus mengejar hingga dapat.


Ayaka YunaHae Kudo
Produser misterius yang sangat jenius. Di kabarkan telah menikah namun tak seorangpun yang dapat membuktikannya. Dia yang menyatukan All dan Shina hingga Aloners terbentuk. Tipe wanita berkarisma cinta pertama Arata.

Jun Shin Sakai
Salah seorang personil BlackL yang ambisius dan menyukai All sejak pertama kali bertemu di tempat audisi, seseorang yang ambisius dan tak perduli pada orang di sekitarnya.

Makio takizawa
Anak dari pemilik JS company tempat Alloners bergabung, dia menyukai Arata namun setelah melihat performance Sagara dia langsung jatuh hati padanya. Tipe wanita egois dan mudah menipu.

Sinopsis
Aloners girl band Jepang yang berisikan 2 orang wanita blasteran bertalenta. Mereka sanggup mengguncang seantero Jepang dengan performance mereka. Bermula dari ketidak sengajaan, keduanya di pertemukan dan di tuntut untuk selalu bersatu. Kisah cinta, persahabatan dan keluarga menjadi pokok utama story ini.
Santha yang bosan dan memiliki guncangan dalam grupnya memilih untuk berlibur ke Jepang, kebetulan dia memiliki job untuk pemotretan sampul majalah Jstars di Jepang, saat sedang berjalan di Tokyo tanpa sengaja dia bertemu dengan All yang sedang bermain gitar di sebuah taman yang menggugah hatinya, karakter keduanya yang hampir sama membuat ke duanya susah untuk bersatu hingga pihak managemen menyatukan tempat tinggal keduanya.
Saat merilis Singel pertama, seorang komponis muda membuat Santha jatuh cinta, awalnya dia tak tau bahwa Sagara dan All sempat pacaran namun kemudian putus hingga tak sengaja ia mendengar keduanya berbicara. Konflik yang terjadi tak hanya itu saja, masih ada masalah dengan penarikan masa kerjanya hingga masalah besar hadir di hidup mereka.

CHAPTER 1 
~Aloner~
by_Hermailinda
Seoul, Musim panas di bulan Mei...

~Lonery story~

”Santha..., apa kau ingin ikut bersama kami? Kami akan ke pantai akhir pekan ini...”pekik seorang wanita pada temannya yang akan turun dari sebuah mobil.

”Tidak..., tidak perlu... silahkan kalian bersenang-senang bersama kekasih kalian...”ucapnya santai,”manager..., apakah besok ada acara?”

Seorang wanita membuka catatannya,”tidak..., akhir pekan ini kalian libur..., aku rasa kau perlu ikut dengan kami...”tawarnya.

”tidak sudah ku bilang tidak..., aku ingin menggunakan tempat latihan...”tolak Shanta.

”mengapa kau tak ingin ikut?” tanya yang lain.

”itu hari bahagia milik kalian..., aku tak ingin mengganggu..., aku masuk dulu...”ucap Shanta kemudian berjalan pergi meninggalkan mobil itu.

Di apartement lantai 5..., Shanta menghentakkan tubuhnya di pintu setelah menutupnya, dia mendesah berat lalu meremas rambut panjangnya.

”kalian tak akan pernah mengingatnya....”ucap Shanta. Dia mulai menegakkan kaki lalu berjalan ke arah dapur ketika menatap lingkaran merah di kalender,”dan lagi-lagi..., kalian meninggalkan ku sendiri...”. katanya dengan kecewa. Shanta menghentak ,marah ke arah meja hingga sebuah bingkai foto jatuh dan kacanya pecah.

Shanta menunduk dan memungut pecahan kaca itu.

”au...”rintih Santa ketika tangannya tak sengaja tertusuk, air matanya langsung mengalir. Dia meletakkan bingkai foto itu di meja dan berjalan ke arah Jendela.

Air matanya mengalir sambil bersandar menatap ke arah lampu-lampu kota yang bersinar indah seperti lautan bintang.

”apa kalian ingat...,apa kalian merasakan yang aku rasakan? Aku tak akan menuntut banyak dari kalian..., apakah kalian mengingatku? Apakah kalian....”Blugh..., Shanta duduk bersandar pada jendelanya sambil menangis,”jangan lupakan aku...”ratap Shanta sambil menutup wajahnya dengan ke dua tangannya,”aku tak ingin sendiri..., aku tak ingin sendiri...”ucapnya berulang kali dengan kepedihan. Suara denting jam yang menunjukkan pergantian waktu sekaligus pergantian hari menggugah Shanta dan menatap jam dinding klasiknya.

”selamat ulang tahun Shanta....”ucapnya pada dirinya sendiri, dan kembali menangis.


Tokyo,Musim semi di bulan Mei...

~All story~

“....Love...for me...”suara lembutnya terdengar indah mengalun, seindah nada gitar yang ia mainkan. Serentak semua yang mendengar bertepuk tangan. Wanita itu turun dari panggung dengan tatapan dingin.

“kau luar biasa....”pekik seorang laki-laki tengah baya sambil menyalaminya,”selamat ulang tahun nak...ini tambahan untuk kau...”ucap laki-laki itu menyerahkan sebuah amplop.

“arigatou...tuan...”ucapnya datar sambil menunduk lalu pergi. Dia meletakkan gitarnya di belakang punggungnya lalu berjalan pergi.

“all..., jangan lupa besok ada pekerjaan untukmu...”pekik laki-laki itu di ikuti anggukan singkat dari wanita itu.

Langkahnya tegak menatap kedepan, tak lama dia berhenti di bawah pohon sakura yang sedang berbunga dengan indahnya.

“h...”desahnya berat. Matanya menatap nanar ke arah pohon itu. Setetes air matanya mengalir diiringi jatuhnya beberapa kelopak bunga sakura.

”bu..., sampai saat ini aku sudah bertahan..., apakah aku bisa sekuat dirimu? Aku belum menemukan ayah bu..., tapi aku pasti akan bertemu dengannya dan membalaskan dendam kita bu...”ucap All dengan tekat yang kuat.

”all...”ucap seorang pria.

”untuk apa kau ke sini?”tanya All dengan dingin sambil menatap tak suka pada orang itu.

”selamat ulang tahun...”ucapnya sambil mendekat.

All mundur menolak,”jangan dekati aku...”

”maafkan aku...”ucapnya.

All menatap sinis sambil tertawa,”kau kira mudah..., kau kira segampang itu..., DASAR PEMBOHONG!!!”.

Laki-laki itu memegang lengan All kuat,”aku tak bermaksud..., aku hanya ingin agar kau...”.

”cukup!! aku tak butuh penjelasan darimu...”setetes air mata All jatuh dan dengan sekuat tenaga All menahannya lalu berkata,”kita sudah tak ada hubungan apa-apa lagi..., ku mohon...pergi dari hidupku...”All melepaskan genggaman laki-laki itu lalu berbalik pergi.

”all...”

All mengangkat sebelah tangannya sebagai tanda ucapan selamat tinggal, laki-laki itu hanya diam dan mendesah kesal.

All terus berjalan dengan tegap, hingga tiba di sebuah jembatn dengan pemandangan tokyo yang menawan.

All mengeluarkan sesuatu dari kantung jaketnya, sebuah kalung dengan mata 2 cincin yang menyatu, All menatapnya sesaat lalu di genggamnya dengan keras,”Argh...., selamat tinggal...”teriaknya sambil melemparkan kalung itu ke arah sungai.

All menatap dingin lalu tertunduk, air mata terkhirnya di seka dengan sekuat tenaga lalu menatap ke arah lampu-lampu gedung yang bersinar,”aku tak akan pernah mengharapkanmu lagi...,happy berthday all yang selalu di tinggalkan....”ucap All. Segera setelahnya All segera meninggalkan tempat itu.


~Lonery story~

Ruang latiha dance...

”shanta.....”ucap seorang wanita sambil memeluk Shanta yang langsung menampiknya dengan kasar,”Shanta ada apa?”

”Shanta..., lihat kami membawakan mu oleh-oleh...”ucap seorang lagi sambil memberikan liontin dengan bentuk bintang laut.

”seandainya kau ikut...”ucap seorang wanita lagi.

”memang ada gunanya aku ikut?”tanya Shanta dengan dingin.

”kenapa ada apa? Kau marah dengan kami?”ucap sang manager.

Shanta mendesah dan tertawa sinis,”marah…? Apa gunanya aku marah pada kalian?”ucap Shanta dengan nada tinggi.

“Shanta…”ucap wanita yang akan memeluk Shanta dengan kaget.

”APA”

Tok...tok...tok...

”Shanta..., ini ada hadiah dari produser...”ucap seorang penata make up sambil menyerahkan buket bunga pada Shanta,”selamat ulang tahun...” ucapnya lalu pergi.

”Shanta..., m...maafkan kami...”ucap wanita itu sambil mendekat.

”Shanta..., kami tidak bermaksud...”kata sang manager merasa bersalah.

Shanta tersenyum sinis,”kalian fikir aku akan sedih kalian melupakan ulang tahunku?”

”tapi kami tidak bermaksud....”

”cukup!!! Aku tak butuh penjelasan kalian..., apa ini yang kalian maksud dengan persahabatan? Kalian benar-benar jahat!” pekik Shanta.

PLAK...., seseorang memukul pipi Shanta hingga santa terkejut dan memegang pipinya.

”kami tidak bermaksud melupakanmu..., kau kira kami jahat..., itu fikirmu...kalau begitu kau egois....”ucap wanita itu tajam.

Yang lain menatap diam.

”salahkah aku ketika aku hanya ingin kalian mengingatku bukan karena aku yang mengingatkan? Pernah tidak kalian fikirkan aku ingin kalian bersamaku di saat terpentingku..., bukan bersama orang lain ataupun bersama pacar-pacar kalian? Egoiskah aku? Egois?”tanya Shanta dengan tajam.

”kau tidak...” ”aku tidak ingin kalian mengingatku karena orang lain mengingatkan!!! Jika kalian menganggapku ada aku hanya ingin saat berhargaku bersama kalian..., mengertikah kalian akan hal itu?” tanya Shanta dengan nada tinggi.

”Shanta maafkan kami...”ucap yang lain merasa bersalah.

Shanta meneteskan air matanya dan berkata,”aku akan pergi..., jangan pernah mencariku...aku akan kembali jika aku mau..., selamat tinggal...” ucap Shanta langsung keluar dari ruangan itu dan yang lain hanya terdiam syok.

Shanta membanting pintu apartemennya dan sambil menahan tangis dia membuka lemaranya dan mengambil dengan asal pakaiannya. Setelah semua pakaiannya di jejalkan masuk ke dalam Shanta dengan cepat menaiki Taxi menuju bandara ketika teman-temannya datang menyusulnya.

”Shanta..., maafkan kami...”pinta yang lain.

”untuk apa kalian menyusulku?”kata Shanta dengan dingin.

”maafkan kami..., kami mohon...” pinta sang manager.

Shanta perlahan melepaskan genggaman tangan managernya lalu menyeka air matanya,”aku akan pergi untuk menenangkan diriku..., jadi kumohon...biarkan aku pergi...”Shanta kembali menarik kopernya dan masuk ke terminal keberangkatan ketika semua orang menatap mereka dan mulai mengelilingi mereka dan membuyarkan pandangan dari Shanta yang langsung mengambil kesempatan itu dan pergi.

Di dalam pesawat air mata Shanta tak bisa berhenti, kekecewaan itu masih terasa dan tak dapat dia elakkan hatinya masih tak sanggup meninggalkan semua itu.

**********************************************************************************

Shanta tiba di bandara Narita tokyo, dia melepaskan Headsetnya dan menarik kopernya pada sebuah taxi yang langsung mengantarnya ke hotel.

Shanta menghentakkan tubuhnya di atas tempat tidur tanpa berniat sama sekali. Dia mulai menyalakan ponselnya dan menerima banyak pesan masuk yang berasal dari teman-temannya yang meminta maaf.

Shanta langsung melempar ponselnya begitusaja dan mulai tertidur pulas melepas bebannya.

~All story~

Kala itu matahari senja menyelimutinya yang sedang mematung di pinggir sungai. Tatapan matanya kosong dan tak bercahaya. Ketika dia beranjak dari tempatnya dia sempat memungut sebuah selebaran audisi hingga kemudian membuangnya begitu saja.

Malam itu All hanya melakukan rutinitas seperti biasanya tak ada yang spesial kecuali tepuk tangan dari seorang wanita yang tersenyum padanya.

All menghentakkan tubuhnya ke kasur lipatnya dan menghela nafas berat. Dia menatap langit-langit kontrakannya yang terkesan kurang terawat. All mengeluarkan sebuah liontin pemberian ibunya yang terdapat gambar ia dan ibunya. Dia terus menatap liontin itu lekat.

“aku telah menemukan ayah...,bu...”ucap All perlahan,”dia tertawa senang sekarang bersama keluarga barunya...,aku akan menghancurkan mereka bu...”tekadnya kuat.


To Be Con.....
Read More

“SPRING IN LOVE” (FF )Chap. 15

Chap. 15

“haha…, dasar bodoh…hanya karena actor itu mereka semua mau bersusah payah ingin masuk club…, huh mengesalkan…”ucap Linda sambil menopang dagu di dalam kelas.
Hyu Gie yang menatap dari balik bukunya hanya mendesah ringan sambil menggeleng.
“hey Hyu Gie…., apa aku terlalu kejam?”Tanya Linda setengah termenung.
Hyu Gie meletakkan bukunya lalu menatap Linda lekat,”bisa di bilang…, iya…”
“Hyu Gie…” rengek Linda.
“aku jujur Linda…, kau terlalu kaku dan bisa di bilang kau terlalu tinggi hati…”kata Hyu Gie lagi. Linda terdiam sejenak sambil memikirkan kata-kata Hyu Gie.
Linda mendesah pendek,”ya…ku kira kau benar…”.
“Linda makan siang yuk…”ucap Dhicca yang telah datang dengan sekantong roti di tangannya.
“Dhicca…”pekik Linda dengan bersemangat.
Ketiganya mengelilingi meja segi empat dan siap akan makan ketika seseorang datang,”boleh aku ikut makan siang bersama kalian?”tanyanya.
“Kim Auley…, kau kemana saja?”Dhicca menggeser kursinya. Kim Auley duduk di sebelah Dhicca dan keempatnya segera membaur.
“kulihat kau tadi berbicara dengan Dong Wook…”ucap Kim Auley sambil memakan bekalnya.
“benarkah? Laki-laki kasar itu?”pekik Linda sambil menatap Dhicca.
Dhicca mengangguk sambil memandang Dong Wook yang sedang ngobrol dengan temannya,”ya…aku mengembalikan jaketnya…”ucap Dhicca lalu kembali memandang rotinya.
“kau menyukai tipe seperti Dong Wook ya?”Tanya Hyu Gie tiba-tiba.
Dhicca terdiam.
Linda tertawa singkat,”kau salah Hyu Gie…, Dhicca menyukai pak Ji Hoon, kakaknya Dong Wook bukan Dong Wook…”jelas Linda. Dhicca semakin terdiam,”waktu itu Dhicca sempat tak sadarkan diri di stasiun dan kau tau…, Dhicca mengira pangeran yang mengangkat dia adalah pak Ji Hoon…, dan kuharap memang dia…”Linda berkedip pada Dhicca yang langsung berpaling menatap Dong Wook.
“Linda…sudahlah jangan bicarakan itu lagi…”ucap Dhicca.
“ya…, aku tau itu…cinta tak berbalas selama 2 tahun…, tapi ku dengar pak Ji Hoon sudah memiliki pacar…”ucap Kim Auley mendukung.
“oh…”ucap Hyu Gie singkat.
BRAK…, kursi Dong Wook berderak kuat,Dong Wook meninggalkan kursinya dengan ekspresi aneh.
“kau kenapa Dong Wook? Hei…kau mau kemana?”Tanya salah satu temannya namun dia tak menjawab dan terus pergi.
“kenapa dia?”Tanya Linda sambil memperhatikan,”dasar aneh…”
Dhicca terus memperhatikan Dong Wook hingga langkahnya menghilang.
“itu karena kau berisik…”ucap Hyu Gie pada Linda yang langsung mengerutkan alisnya.
“aku? Selalu saja aku…”ucap Linda sambil berpura-pura marah.
“haha…lucu…”cibir Hyu Gie lagi, diikuti tawa Kim Auley. Sementara tak ada yang memperhatikan Dhicca yang diam tertunduk.

“melelahkan…”desah Frans kesal sambil duduk bersandar di sofa di ruang latihan para artisnya. Saat itu dia mengurus jadwal latihan vocal mereka. Frans melirik jamnya dan langsung bangkit,”m…maaf aku harus meninggalkan mereka…, aku ada kuliah…”ucap Frans pada seorang produser.
“ya…, silahkan…setelah ini mereka tak ada jadwal…”ucapnya.
“kamsahamnida…”Frans menunduk lalu berlari pergi dengan cepat hingga tiba di lift.
Seseorang keluar dari lift dan membuat Frans sempat bergeser kikuk.
“Frans…”ucap Hee Chul yang tiba-tiba menyusul.
“Hee Chul…”pekik Frans bingung.
“Si Woon, kemana saja kau?”Tanya Hee Chul pada laki-laki yang baru keluar dari lift itu.
“maafkan aku…, kau tau aku sedang mengurus ibuku…”ucapnya
“m…, baiklah… cepat segera latihan…yang lain telah menunggu…, oh iya…dia manager baru kita…”ucap Hee Chul memperkenalkan Frans yang langsung tertunduk.
“oh…, baiklah aku akan ke sana…”Si Woon segera pergi.
Frans memperhatikan Si Woon hingga Hee Chul menegurnya,”kau mau kuliah kan?”Tanya Hee chul,”aku akan mengantarmu…”
“tap…tapi....”Frans berusaha menahannya. Namun, Hee Chul tetap bersikeras untuk mengantarnya.

Tsatsa terbaring di tempat tidurnya sambil mendengarkan music dari i-podnya. Dia setengah kesal menatap layar ponselnya lalu kemudian beranjak dan menatap kotak biru marun yang dia pungut semalam. Perlahan Tsatsa membuka bungkusan itu.
“indah…”ucap Tsatsa pada sebuah gambar yang di bingkai manis, gambar seorang wanita yang sangat mengagumkan bagi Tsatsa, Tsatsa mengambil sebuah gelang perak dari dalamnya,”beruntung sekali wanita itu…, dia mendapat 2 sekaligus dari seorang pria…”desah Tsatsa berkata pendek.
Tak lama Kim Bum datang dan membuat Tsatsa dengan cepat menyembunyikan gambar beserta gelang itu di kolong tempat tidurnya.
“kau sudah sembuh?”Tanya Kim Bum sambil memegang kening Tsatsa.
“m…, kurasa…”jawab Tsatsa mengangguk gugup.
“m…, aku membawakan cake kesukaanmu…, dari ibuku…”kata Kim bum lalu meletakkan bungkusan kuenya.
“sepertinya enak…”jawab Tsatsa berpura-pura antusias.
“ibuku yang membuatnya khusus…, oh ya…di mana bibi?”Tanya Kim Bum lalu duduk di sebelah tempat tidur Tsatsa.
“sepertinya sedang ke mini market…dan apotik…tadi ahjumma mengalami kecelakaan kecil”jawab Tsatsa mematikan i-podnya.
“ada apa? Ahjumma Rindi tidak parah kan?”Tanya Kim Bum berusaha membuat suasana seperti biasanya.
“ya…hanya wajahnya yang tergores…”jawab Rindi dan keduanya kembali terdiam.
“kau sudah tak memikirkannya kan?”Tanya Kim Bum dengan wajah tertunduk.
“maksudmu?” Tanya Tsatsa tak mengerti.
“jangan memikirkannya lagi…”tambah Kim Bum dan membuat Tsatsa semakin bingung.
Di luar terdengar suara hujan yang turun dengan derasnya.
“aku…suka…ka….”ucap Kim Bum namun seseorang yang masuk tiba-tiba memutus pembicaraan mereka kali itu.
“Tsatsa…ku dengar kau sakit…”ucap Nam Gil yang tiba-tiba datang.
“paman…”ucap Tsatsa yang langsung bangun dari tempat tidurnya.
Kim Bum menatap kesal kea rah Nam Gil lalu menatap Nam Gil dengan garang.
“aku hanya ingin meminta maaf dan menjengukmu…”ucap Nam Gil lalu bertatapan dengan Kim Bum yang menatapnya dengan tatapan marah.

“awas…”ucap Dong Wook saat sebuah pot jatuh hampir menimpa Dhicca dan Kim Auley yang sedang berjalan di bawahnya.
Dhicca sempat menghindar sementara Kim Auley terjatuh dan kakinya tergores pecahan pot.
“kau taka pa?”Tanya Dong Wook pada Dhicca.
“ya…., tapi Kim…”ucap Dhicca menghampiri temannya,”kau taka pa?”
“hanya terkilir…”ucap Kim Auley sambil memegang kakinya yang berdenyut. Murid yang tak sengaja menjatuhkan pot tadi meminta maaf pada ke duanya.
”akan ku gendong hingga ruang kesehatan…”ucap Dong Wook sambil merunduk,”Dhicca kau bisa jalan sendiri kan?”Tanya nya.
Dhicca mengangguk kuat lalu membantu Kim Auley naik ke punggung Dong Wook.
“maaf aku agak berat…”ucap Kim Auley.
“tidak apa-apa…”kata Dong Wook lalu menggendong Kim Auley hingga ke ruang kesehatan di ikuti Dhicca yang berjalan merunduk merasakan dadanya yang berdebar saat Dong Wook menatapnya dengan penuh kekhawatiran.
“yukurlah hanya terkilir saja…aku akan memperban lukamu…”ucap Ji Hoon yang bertugas di ruang kesehatan saat itu.
“Dong Wook…, kau pasti capek…”ucap Kim Auley.
Dong Wook hanya memukul punggungnya pelan,”sedikit…, aku akan kembali kekelas…”ucap Dong Wook sambil beranjak pergi setelah menatap kakaknya sekilas.
“Gomawo…”ucap Dhicca dan Kim Auley berbarengan.
“aku sudah selesai memperbannya…, ku rasa sebentar lagi guru pengganti di klinik akan tiba…, kalian tak apa ku tinggal kan?”Tanya Ji Hoon sambil menyalakan rokoknya.
“ya….sensanim…”Dhicca menunduk,”syukurlah Kim Auley ada yang menggendongmu kemari…”ucap Dhicca lalu menatap Kim Auley yang wajahnya bersemu merah. Deg…, jantung Dhicca berdetak kuat hingga dia memageng dadanya.
“a…, ada apa Dhicca?”Tanya Kim Auley yang baru sadar.
“ti…tidak…”ucap Dhicca menahan sesuatu yang bergemuruh di dadanya.
“ternyata Dong Wook baik ya…”ucap Kim Auley sambil tersenyum.

“kau kira aku pelayanmu…”ucap Linda setelah berlari ke kantin membeli pesanan Jun Ki.
“sesuai perjanjian…, kau yang telah menyetujuinya…”ucap Jun Ki tanpa perduli dan meminum sodanya.
Linda hanya mendesah kesal lalu duduk di sebelah Jun Ki.
“aku masih tak mengerti mengapa kau mau aku yang mengajarimu…”ucap Linda ikut meminum air mineralnya.
Jun Ki hanya tersenyum sinis,”hanya sudah bosan dengan pelatih terkenal…, dan kurasa teknikmu cukup bagus…”jawab Jun Ki.
Linda mengerutkan alisnya,”hanya itu?...huh…lucu…”
“memang kau berharap lebih?”Tanya Jun Ki menyudutkan.
CTAR….kilat menyambar dengan keras hingga Linda berteriak dan menutup kedua telinganya.
“kau masih saja takut pada petir…”ucap Jun Ki.
Linda menatap Jun Ki dan tanpa sadar melepaskan kedua tangannya dari telinganya. Namun Jun Ki langsung menutup telinga Linda hingga Linda hanya melihat sinar kilat yang menyambar.
Linda menatap Jun Ki dengan sedikit takjub hingga Jun Ki memandangnya pula.

“kak…apa kau tau bagaimana aku kehilanganmu…”ucap Bella di tengah derasnya hujan sambil memegang batang pohon maple di halaman belakang sekolah,”aku merindukanmu…kak…, kau tau entah mengapa…sepertinya aku mulai menyadari hal lain…., aku tak mengerti apa ini…, kau yang membuatku seperti ini…”ucap Bella sambil terduduk seluruh pakaiannya basah hingga Hyun Min datang dengan payung dan meneduhkan Bella.
“kau sedang apa?”tanyanya dengan penuh perhatian.
“…”Bella menyeka air matanya lalu bangkit,”senior…”
“jangan melakukan hal yang dapat membuat tubuhmu lemah…, kau akan bertanding minggu depan…”ucap Hyun Min lalu menarik Bella untuk berteduh,”kau sudah mendengar masalahmu dengan mereka…, jangan khawatir karena aku sudah menyelesaikannya…”saat melewati sebuah ruangan Bella melihat Hong Ki sedang mencium Dy Ah. Saat itu entah mengapa, hati Bella terasa sakit dan jantungnya berdetak tak karuan.
“kurasa mereka berdua cocok…, kau tau sejak dulu Hong Ki menyukainya…, dia bahkan berjanji pada adikku akan membawanya ke Amerika untuk melihatnya bertanding…, saat itu Dy Ah mengalami patah tulang…”jelas Hyun Min, jelas lah sudah semua alasan selama ini Hong Ki memintanya untuk mengajarinya bermain basket.
“bodoh…”maki Bella entah mengapa air matanya kali itu tak dapat di bendung lagi…, dia menyadari dia telah menyukai Hong Ki, secepat itu hatinya terisi secepat itu pula hatinya hancur,”maaf senior…”Bella menarik tangannya dari genggaman Hyun Min dan berlari pergi kea rah lapangan basket.
“AKU MEMANG BODOH….BODOH….BODOH…”teriak Bella marah dan terduduk di tengah lapangan, tak ada yang bisa mengobati rasa sakitnya. Bella menatap ke arah ring basket lalu mengambil bola yang tertinggal di pinggir lapangan lalu bermain dengan penuh amarah hingga tak menyadari seseorang mendekat ke arahnya.
Bella terus bermain hingga tangannya terkilir dan dia jatuh terduduk di tengah lapangan sambil menangis.
“Bodoh…bodoh…bodoh…”makinya dan terus menangis.
“mengapa kau suka menyiksa dirimu sendiri Bella?”ucap Suara yang terasa tak asing di telinga Bella,”apa kau tak mengerti yang ku ajarkan dulu?”
Bella berpaling menatap orang itu yang perlahan-lahan mulai mendekat, Bella menajamkan pandangannya,”kakak…kak Ji Young…”
“aku kembali…Bella…”
Bella berdiri mendekat ke arah Ji Young dan mulai memukul dadanya,”bodoh…bodoh…, sekian lama kau menghilang…, kau seenaknya saja datang lagi kau fikir aku apa? Tanpa pesan kau meninggalkanku…, kau kira aku apa?”teriak Bella di tengah hujan.
“jangan memaksakan diri…, tanganmu terkilir…”Ji Young menangkap tangan Bella yang langsung menangis di dadanya.
“bodoh…, kakak memang bodoh…, aku merindukanmu kak…aku merindukanmu…”ucap Bella yang menangis di dada Ji Young. Ji Young hanya diam dan membelai kepala Bella, keduanya berdiri di tengah lapangan, sementara Hyun Min menatap keduanya di balik pohon dengan tatapan tajam.

Rindi terus menangis di kamarnya ketika Jong Hun datang dan baru mengetahui tentang kecelakaan Rindi dari Taemin.
“Rindi…”ucap Jong Hun.
Rindi menatap Jong Hun terkejut lalu menutupi bekas lukanya,”kenapa kau datang sudah ku bilang aku tak akan pergi…, pergilah…kau…pergi…”ucap Rindi sambil mengusir Jong Hun yang terus mendekat.
“aku tau…, taka pa Rindi…”ucap Jong Hun.
“tidak…, aku…wajahku penuh luka…pergilah…pergi…”teriak Rindi terus mengusir.
“aku tak perduli Rindi aku tak perduli…”ucap Jong Hun bersungguh-sungguh.
Rindi berlari melewati Jong Hun dan melesat keluar.
“Rindi dengarkan aku…”Jong Hun terus mengejar Rindi yang berlari keluar.
“jangan mendekat…aku malu padamu…pergi…, jangan dekati aku…”teriak Rindi tanpa perduli dia langsung berlari keluar yang sedang hujan deras.
Taemin dan Ochy menatap ke duanya dan hanya terdiam.
Jong Hun berusaha mengejar Rindi di tengah hujan. Hingga Jong Hun berhasil meraih tangan Rindi dan memeluk Rindi erat.
“jangan menghindariku lagi…, aku mencintaimu…aku mencintaimu…”ucap Jong Hun.
Rindi diam terkejut antara bahagian dan cemas Rindi berhenti memberontak.
“aku tak perduli…, sekarang aku akan mengatakannya padamu…, malam ini aku mengajakmu makan malam adalah untuk mengatakan bahwa aku menyukaimu Rindi…, entahlah aku tak mengerti bagaimana, aku sangat takut untuk kehilanganmu lebih jauh…, aku akan mengucapkannya sekali lagi…”ucap Jong Hun melepas pelukannya lalu menatap Rindi.
“kau jangan membohongiku…”kata Rindi lemah.
“tidak…, tatap aku apakah aku berbohong atau tidak…”kata Jong Hun meyakinkan.
Rindi menatap mata Jong Hun lembut,”tapi aku…”
“aku tak perduli Rindi…, aku akan katakana sekali lagi…, aku mencintaimu…”ucap Jong Hun lalu mencium bibir Rindi lembut.
“aish…lihat Taemin…mereka romantis sekali…”ucap Ochy sambil menatap iri pada Rindi.
“mengapa tak kau cari pacar saja…”kata Taemin dengan cueknya lalu kembali bekerja.
“itupun sedang aku fikirkan Taemin…, itu pun jika orangnya mau…”sindir Ochy sambil menatap punggung Taemin,”itu jika aku mau menerimaku…”tambah Ochy dan membuat Taemin berhenti melangkah.


“biar aku yang membuang sampah…”ucap Dhicca sambil mengajukan diri menggantikan tugas Kim Auley.
“jangan lupa bawa payung Dhicca…”pesan Nam Soun.
“ya…”
“Gomawo Dhicca…”ucap Kim Auley.
Dhicca hanya mengangguk lalu membawa tong sampah. Dengan lemas Dhicca berjalan gontai menuju tempat pembakaran di belakang.
“huh…kok aku jadi lemah begini sih…”ucap Dhicca berhenti di tangga sambil mencubit pipinya sendiri.
“kau sedang apa?”tanya Dong Wook dari bawah tangga sambil membawa payung,”oh…, sini ku bawakan…”
“ti…tidak usah…biar ku bawa sendiri…”tolak Dhicca sambil memalingkan wajahnya.
Tanpa di sengaja serombongan anak lewat dan menabrak Dhicca yang jatuh ke depan.
Dong Wook yang terkejut berusaha menyelamatkan Dhicca sebelum jatuh ketanah, namun ke duanya terjatuh dengan tubuh Dhicca berada di atas Dong Wook dan tanpa di sengaja bibir Dhicca menyentuh bibir Dong Wook hingga keduanya terdiam.

“Frans…, aku tau mungkin kau menganggapku gila…, aku hanya tak ingin kau di dekati laki-laki lain makanya aku ingin kau berada di dekatku…”ucap Hee Chul sambil terus focus menyetir setelah menjemput Frans dan akan mengantarkannya pulang.
“ya…, kau memang gila…”ucap Frans sebal.
Hee Chul tersenyum lalu menghentikan mobilnya di dekat jembatan dan menatap sungai yang di guyur hujan,”bahkan hingga saat ini pun kau tak mengingatku Frans chan…”ucap Hee Chul berbalik menatap Frans.
“aku benar-benar tak mengerti kata-katamu…, kau kira aku cinta pertamamu? Aku tak ingin begini terus…, aku tak ingin kau terlalu berharap padaku…”kata Frans dengan nada emosi yang di tahan.
“meski aku telah berbuat seperti ini…, kau masih saja menyangkalnya…”ucap Hee Chul lalu mendekat ke arah wajah Frans.
“hentikan Hee Chul…, aku tegaskan sekali lagi aku bukan wanita yang kau maksud dan berhentilah memaksaku…”kata Frans yang menghindari wajahnya dari Hee Chul.
“aku tak akan melepaskanmu Frans…tak akan…”ucap Hee Chul lalu menarik wajah Frans mendekati wajahnya.

“huh…kenapa hujannya tak berhenti juga?”ucap Lina kesal sambil membawa tas belanjanya,”aish aku lupa membeli obat untuk Rindi…”ucap Lina lalu kembali masuk ke dalam mini market bagian obat-obatan.
Saat akan mengambil obat Lina merasakan sesuatu yang lain, sesuatu yang dia rindukan. Lina terdiam dan mematung.
“Hyun…, kau tak perlu membelikaku itu…, kau jahat tak mengatakan kau akan datang hari ini…”ucap seorang wanita.
Lina ingin berbalik tapi dia takut salah dan malah akan menyakiti dirinya sendiri.
“maaf…,berapa?”ucapnya.
kata-kata itu, dan suaranya membuat Lina meneteskan air matanya.
“Nie Sha…, berhentilah untuk menempel padaku…, ayo pergi…”ucapnya.
Lina berbalik dengan cepat, dia sudah tak perduli lagi dengan barang yang akan di belinya, Lina berlari ke luar ke asal suara yang sangat dia rindukan. Lina nekat menerobos hujan dan melihat sosok itu,Lina berusaha mengejar namun dia telah meninggalkannya dengan cepat dengan mobilnya, Lina terduduk dengan tubuh basahnya menyesali pandangannya.
“Hyun…Hyun Joong ku…”tangis Lina di tengah hujan saat itu.

To Be Con ...
Read More

“SPRING IN LOVE” (FF )Chap. 14

Chap. 14

“rentangkan tanganmu…,tatapanmu harus lurus…”ucap Linda mengkomando Dong Wook dan Jun Ki yang sedang berlatih panah,”tak bisakah kau sedikit melenturkan tanganmu tuan Jun Ki?”.
“aish…, kau cerewet sekali…”kata Jun Ki dengan sebal.
“apa?”dengan mata melotot Linda menatap Jun Ki yang langsung memalingkan wajahnya,”dasar menyebalkan…”ungkit Linda kemudian kembali mengarahkan.
“kau sudah sehat?”Tanya Hyu Gie pada Dhicca yang sedang membersihkan busurnya.
“ya…, berkat kalian…”kata Dhicca sambil tersenyum manis.
“tak kusangka dia akan bisa melakukannya.., padahal harga dirinya cukup tinggi..”cibir Hyu Gie pada Linda.
Dhicca tersenyum lalu menatap Linda sekilas,”dia akan melakukan sesuatu dan terkadang nekat terhadap segala yang dia cintai, termasuk club panah ini…”.
“kau benar…”ucap Hyu Gi tertawa sinis,dia kemudian menatap serombongan wanita yang memaksa masuk dengan di halangi Joana.
“ada apa?”Tanya Linda menghampiri.
“mereka memaksa masuk…, mereka memaksa mendaftar club ini…”kata Joana kerepotan menghalangi.
Linda melotot dan menatap rombongan itu yang sebagian besar merupakan antifansnya dan pernah mengerjai dirinya,”kalian ingin masuk?”Tanya Linda mempermainkan.
“ya!!”ucap seorang wanita dengan nada jengkel.
“tidak semudah itu…, ada tes yang harus kalian lakukan…, dan… kalian harus membersihkan nama baikku…”kata Linda bersyarat.
“apa-apaan itu…”protes yang lain dengan berang.
“kalian tak mau? Baiklah…, jangan harap kalian akan masuk club ini…”cibir Linda berpura-pura pergi.
“kapten…” rengek Joana yang masih menahan.
“baiklah…baiklah…akan kami turuti…”kata salah seorang dengan tampang kesal.
Dhicca tersenyum, sementara Hyu Gie menggeleng tak mengerti,”heran saudaramu itu apa tak pernah jera memaksakan kehendaknya…”.
“itulah dia…”Dhicca beranjak dan bersiap memanah di sebelah Dong Wook yang diam-diam memperhatikannya.
“BAIKLAH…”pekik Linda setengah berteriak,”pertama yang harus kalian lakukan adalah…”

“mencuci…”pekik Frans,”kau kira aku pembantu?”.
“hanya jika kau tak ingin kau tak usah berteriak manager…, jika kau mau kau bisa membawanya ke binatu…”kata Donghae dengan cuek.
“ugh…”Frans membawa sekeranjang cucian penuh ke belakang lalu mulai memasak.
“sepertinya enak…”ucap Shin Dong melahap sepotong ayam yang baru di masak hingga dia agak berjengit kepanasan ketika mulai menggigit.
Frans menggeleng,”bodoh…”
“manager…, kau bisa menjahitkan ini?”Tanya Lee Teuk sambil menyerahkan selembar pakaian yang lengannya sobek beberapa inchi.
“tak bisakah kau lihat apa yang sedang ku lakukan?”Tanya Frans mulai jengkel dan terus memasak omelet.
“kau kan bisa menjahitnya nanti…”kata Lee Teuk cuek kemudian pergi.
“manager kau…”kata Yesung.
Frans yang sedang memotong kentang menghentakkan pisaunya lalu berkata tegang,“stop…berhenti okey…, aku akan melakukan semuanya…, letakkan dan catat saja apa yang harus aku kerjakan…sekarang biarkan aku…”
“maksudku…, apa kau tak mencium bau hangus?”potong Yesung cepat dan membuat Frans setengah sadar berbalik dan terpekik kaget.
Hee Chul yang dari tadi menatap Frans tertawa terpingkal-pingkal,”apa yang kau tertawakan?”Tanya Sung Min lalu menatap ke arah Frans yang masih saja panic,”oh…”Sung Min kemudian duduk di sofa sambil membuka laptonya.
“lucu…”ucap Eun Hyuk yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Kehebohan pagi itu selesai dengan sukses, hanya beberapa omelet yang hangus dan itu Frans sisihkan untuk dia makan saat para artisnya telah selesai makan nanti. Frans duduk di dapur sambil menjahit pakaian Lee Teuk ketika Hee Chul datang dan membawakan jatah omeletnya.
“makanlah…”ucap Hee Chul lalu duduk di sebelah Frans.
“tidak perlu…, kau yang perlu makan…, aku sudah makan…”ucap Frans menolak dan terus sibuk menjahit.
“aku sudah menjemputmu pagi sekali…, aku tak yakin kau sudah makan…”saat Hee Chul berbicara, tak sengaja perut Frans berbunyi,”hm…, sudah parah ya…”
Frans dengan wajah memerah meletakkan pekerjaannya lalu mengambil piring yang berisi omelete yang telah hangus,”aku bisa memakan ini…”.
Hee Chul mengambil piring Frans lalu membuang omelete itu ke tempat sampah.
“kau gila?”pekik Frans.
Hee Chul meletakkan bekas piring ke tempat pencucian,”kau yang gila…, mau memakan itu…, cepat makan kami akan siap dalam 1 jam dan kita harus pergi…”
Frans menatap mata Hee Chul yang kuat lalu dengan enggan memakan omeletnya,”mengapa kau selalu memaksaku?”Tanya Frans sebelum Hee Chul masuk ke kamarnya.
“karena aku ingin kau mengingatku…”ucap Hee Chul singkat.
“dia gila…”maki Frans.
“kau berfikir sama denganku manager…”ucap Ryeo Wook sambil mengambil air di kulkas dan duduk di sebelah Frans.
“maksudmu?”
“berfikir bahwa dia gila…, well…teman masa kecil Hee Chul?”Tanya Ryeo Wook pelan dan seperti brerbisik.
“tidak…, bukan…”bantah Frans,”dari awal aku tak mengenalnya…”
“hm…, tapi dia begitu ingin selalu bersamamu…”
“maksudmu?”Tanya Frans tak mengerti. Namun belum sempet Ryeo Wook berbicara Yesung telah memanggilnya.
“kau akan tau nanti…, kau akan merasakannya manager…”ucap Ryeo Wook sambil tersenyum pernuh arti pada Frans yang masih diam memikirkan.

“pagi Bella…”sapa Kim Bum ketika mereka berpapasan di depan gerbang,”mana Tsatsa?”Tanyanya lagi.
“dia ada di rumah…, terbaring sakit…”jawab Bella singkat.
“apa? Kenapa…”
“semalaman dia berendam…, dan itulah akibatnya…”kata Bella cepat,”aku yakin kau tak akan melewatkan kesempatan ini…”
Kim Bum terdiam,”aku tak menegrti…”.
“huh…”desah Bella setengah tertawa sinis,”tak usah di fikirkan…, ini…tolong kau kumpulkan…”Bella meneyerahkan buku tugas Tsatsa pada Kim Bum.
“baiklah…..”Kim Bum menyimpan buku Tsatsa ke dalam tasnya,”aku akan menjenguknya nanti sore…, sampaikan padany…”
“huh…, aku bukan kurir penyampai pesan…, kau bisa mengiriminya pesan ke ponselnya kan…”kata Bella kesal,”aku harus masuk…”
“oh…oh ya…, maafkan aku…”ucap Kim Bum merasa bersalah.
Bella menganggkat sebelah tangannya dan berjalan meninggalkan Kim Bum.
Bella melepas sepatunya di loker ketika Hyun Min datang menyapanya.
“selamat pagi…”ucap Hyun Min dengan formal.
Bella hanya menunduk lalu mengganti sepatunya dan pergi.
Hyun Min mengejarnya dengan cepat,”bagaimana? Masakan ibuku enakkan?”tanyanya berbasa-basi.
“ya…”jawab Bella singkat.
“jika kau mau kau boleh datang lagi…”tawar Hyun Min.
Bella berhenti sejenak lalu menatap Hyun Min,”ya senior…, trims…tapi kurasa senior tak bisa mengikutiku lagi…”Bella mengingatkan mereka yang telah berada di depan toilet wanita.
“oh…eh…ya…maafkan aku…”ucap Hyun Min keki dan langsung berbalik pergi tanpa menatap yang lain sedang mentertawakannya.
“bodoh…”Bella tersenyum lalu masuk ke dalam toilet

“tidurlah…”perintah Lina setelah mengukur suhu tubuh Tsatsa.
“ya Umma…, tapi umma…aku bosan…”kata Tsatsa dengan wajah memelas.
Lina mendesah pelan lalu tersenyum dan membelai kepala anaknya,”jika kau tak ingin terbaring lama…, tidurlah…”ucapnya lembut. Tsatsa diam dan mengangguk.
Lina meninggalkan Tsatsa menuju dapur dan telah sibuk memasakkan sepanci penuh bubur.
“nyonya…”ucap Taemin yang tak sengaja masuk ke dapur untuk mengambil air mineral.
“ada apa? Kau dan Ochy mau bubur?”Tanya Lina berpromosi.
“akan saya panggil Ochy…”ucap Taemin kemudian melesat pergi.
Namun tak lama Taemin kembali,”nyonya ada yang mencarimu…”
“aku? Apa kau tak mengatakan bahwa aku sedang sibuk?”Tanya Lina menghentikan kegiatannya sejenak.
“tapi… dia memaksa…”kata Taemin mencoba memberi pengertian.
Lina menatap wajah Taemin yang tampak tak berbohong,”baiklah…”Lina mengangkat panci buburnya lalu mengikuti Taemin.
Seorang wanita yang tampak lebih muda dari Lina menatap sekeliling dari balik kacamata hitamnya.
“ada apa?”Tanya Lina sambil tersenyum.
Namun wanita itu menatapnya seakan sedang menatap seorang pembantu pada Lina yang masih mengenakan celemek memasak,”aku Hime…, kau tau kan siapa aku?”tanyanya dengan sedikit nada kesombongan.
“ya…, anda artis baru yang berasal dari jepang itukan…, saya Lina…”kata Lina sopan, dan akan mengulurkan tangannya ketika Hime menampiknya.
“aku tak butuh basa-basi…, kau pemilik took bunga ini kan?”tanyanya memeperhatikan sekali lagi penampilan Lina.
“ya…saya pemiliknya…”
“aku ingin memesan bunga kira-kira 30 untuk menyambut tamu penting lusa…, kau bisa?”tanyanya dengan nada mencela.
Lina mengangguk menyanggupi lalu mengambil sebuah catatan dari laci mejanya.
“aku ingin kau mendesain sindah mungkin karena pacarku akan datang…,aku akan mencatat apa saja yang aku inginkan, kau sanggup?”tanyanya lagi.
“ya….”kata Lina yakin.
“baiklah…ini…”dia menyerahkan sebuah catatan,”waktu dan tempat ada di situ…, aku ingin segalanya tampil sempurna karena dia special…”kata Hime lagi, kemudian mengeluarkan sejumlah uang sebagai uang muka.
“ya…, kau tenang saja…, terimakasih…”kata Lina lalu menunduk dan mengantarkan Hime hingga pelataran di mana banyak orang yang berkumpul untuk melihat Hime.
“ada apa ini?”Tanya Linda bingung mencari celah untuk melewati jalan ke rumahnya hingga dia berhasil mencapai rumahnya dan dengan cepat berlari. Namun langkahnya berhenti ketika menatap wanita itu,”kau!!!”
Hime mentap Linda dan kemudian terpekik,”kau wanita yang menyelinap itu kan?”
“ah…, wanita sombong yang dengan teganya melaporkan aku pada penjagamu…, untuk apa kau ke sini?”Tanya Linda dengan jengah.
“dia memesan bunga Linda…”jawab Lina yang tau suasana akan bertambah parah jika Linda tidak di hentikan.
“ya…, dia benar aku memesan bunga wanita serampangan…”cibirnya lalu tanpa perduli naik ke mobilnya.
“ap…apa!!!”emosi Linda kembali naik dan akan meledak marah ketika Lina menahannya.
“jangan…”
Linda menahan amarahnya dan urung marah hingga dia hanya menjulurkan lidahnya kea rah Hime yang telah meninggalkan halaman rumah mereka, dan orang-orang yang berkumpul langsung bubar begitu saja.
“kenapa kau pulang?”Tanya Lina tiba-tiba dan membuat Linda berjengit kaget.
“gawat umma aku pulang untuk mengambil tugasku…,KYAAAAAAAAAA….”Linda langsung berlari ke dalam rumah dengan cepat mengambil tugasnya kemudian dengan cepat naik ke sepedanya yang telah stand bye me, di halaman.
Taemin dan Ochy yang mengintip langsung terkikik dari dalam toko dan Lina hanya menggeleng heran pada Linda yang telah menjauh dengan sepedanya.

Usai jam pelajaran ke dua Dhicca berjalan pelan ke arah lorong di mana Dong Wook sedang berbincang dengan teman-temannya.
“em…Dong Wook…aku ingin…”ucap Dhicca dengan ragu.
“hei Dong Wook…, lihat itu cewekmu kan…”cibir salah seorang di antaranya.
“wah…dia manis…”komentar yang lain.
Namun Dong Wook segera bangkit dan menarik Dhicca menjauh,”kau ini…, sedang apa kau ke sana?”ucap Dong Wook dengan nada keras.
“a…aku Cuma ingin mengembalikan jaketmu yang kemaren kok…” Dhicca menyerahkan bungkusan yang tadi di bawanya.
“itukan bisa di kelas…”ucap Dong Wook,”gara-gara kau tadi temanku…”Air mata Dhicca tiba-tiba mengalir dan membuat Dong Wook panic dan langsung memeluk Dhicca,”maaf…aku yang salah…”kata Dong Wook,”bicaraku keterlaluan…, maaf ya…”.
Wajah Dhicca langsung memerah hingga hatinya menjadi takkaruan di peluk oleh seorang laki-laki ini pertama kalinya bagi Dhicca.
“eh…m…”
Dong Wook yang baru saja menyadari sikapnya langsung melepas pelukannya,”ma…maaf…tapi karena kau tadi temanku meledek kita…”.
Dhicca langsung menatap Dong Wook yang langsung menunduk padanya.
“aku mohon…tolong berhenti menangis…”ucap Dong Wook.
Dhicca menggeleng,”ti…tidak kok…aku juga bersalah padamu…maaf ya…”pinta Dhicca kemudian berbalik pergi dengan wajah memerah.

“oper…oper…”pekik Hye Nie, senior Bella di club basket.
Bella dengan cekatan langsung melompat dan mengoper tepat kea rah Hye Nie.
BRAK…, Hye Nie terjatuh karena operan kuat Bella, dan kekurang siapannya.
“senior kau taka pa?”ucap pemain lain sambil membantunya berdiri.
“ya…” Hye Nie berdiri lalu menghampiri Bella,”kau terlalu kuat…, apa kau ingin meremukkan tulangku?”ucapnya.
Bella hanya menghela sesaat,”senior yang menyuruhku mengoper…, apa senior terlalu kikuk hingga operanku tak bisa kau tangkap?”Tanyanya dengan nada santai.
“ap…apa? Hei… jangan berlagak karena kau masuk tim inti ya…”katanya dengan sinis.
“aku tak pernah berlagak…, apa senior yang tak berlagak?”Tanya Bella membalik.
PLAK…,Hye Nie memukul telak pipi Bella hingga ujung bibirnya berdarah.
“kau melawanku hah? Kau kira kau siapa?”bentak Hye Nie dan mendorong Bella hingga terjatuh,”jangan kira kau di perhatikan senior Hyun Min kau jadi sombong…, kau hanya mengganggu…, pemain terbaik…huh…hanya karena permainanmu di puji pelatih bukan berarti kau boleh berlagak!!!”Hye Nie dengan emosi mengangkat tangannya lalu akan memukul, namun Hong Ki langsung menahannya.
“senior seharusnya jangan melakukan hal yang mempersulit diri sendiri…”ucap Hong Ki datar.
“kau….”kata Hye Nie yang langsung menarik tangannya.
“ada apa ini?”Tanya Cheon Min Nam pelatih club basket putri,”apa yang kau lakukan Hye Nie? Kau memukul Junior mu? Ikut aku…”ucap Cheon Min Nam dengan nada agak marah.
“ugh…”Hye Nie mengikuti pelatihnya.
Hong Ki mengulurkan tangannya membantu Bella bangkit.
“kau taka pa Bella?”tanyanya dengan penuh perhatian.
Bella hanya menggeleng lalu berjalan kea rah tasnya yang ada di pinggir lapangan diikuti Hong Ki,”Gomawo…”kata Bella.
“Chon Maneyo Bella…”ucap Hong Ki lalu menyentuh ujung bibir Bella, membersihkan darah yang ada di ujung bibirnya.
Bella hanya terdiam tak mengerti apa yang dia lakukan.
“aku akan mengobatimu…”ucap Hong Ki lalu menarik Bella ke arah ruang kesehatan.
“aku tak apa…”ucap Bella sambil menarik diri dari Hong Ki. Hong Ki diam dan terus mengobati luka di bibir Bella.
“cah…, sudah selesai…, ku harap kau tak akan mendapat masalah dari senior…”kata Hong Ki sambil beranjak dan sempat mengusap kepala Bella lembut,”aku kembali dulu…, mungkin senior Hyun Min akan memarahiku…, sampai jumpa besok…”Hong Ki melangkah keluar klinik setengah berlari.
Sementara Bella terdiam tanpa di sadarinya wajahnya memerah.

Rindi menatap dirinya di depan cermin dengan mengenakan gaunnya. Wajahnya bersemu merah menantikan makan malamnya nanti. Tak lama seorang wanita datang dan memaksa bertemu Rindi.
“kau…, mengapa ke sini?”Tanya Rindi jengah saat mengetahui tamunya adalah Rierie.
“huh…, hanya ingin memberimu peringatan…”kata Rierie dengan nada mengancam.
Rindi menatapnya dengan berani,”aku tau yang kau maksud…”
“baguslah…dan sekarang….ku peringatkan padamu untuk menjauhi Jong Hun…”
Rindi tertawa sinis,”bukankah kau tak ada hubungan apa-apa dengannya…, bahkan Jong Hun mengakui itu…”
“a…apa…, aish…kau tak tahu diri…”maki Rierie.
“siapa yang tak tahu diri kau atau aku? Kau tiba-tiba datang dengan mengancam…, bahkan aku bisa melaporkanmu jika aku ingin…, sayang aku tak tega dengan para fansmu…”kata Rindi dengan berani.
Rierie mengepalkan tangannya dengan kesal,”kau berani denganku? Kau berani membentakku…!!! Rasakan ini…”Rierie melemparkan sebuah vas bunga yang ada di sebelahnya pada Rindi yang mencoba menghindar.
Lina segera keluar melihat kegaduhan yang terjadi,”a…apa yang….”
“awas kak…!!!”pekik Rindi yang langsung melindungi Lina dari lemparan Vas Rierie selanjutnya.
Taemin segera menahan tangan Rierie yang siap akan melempar lagi hingga keduanya terjatuh.
“Rindi…rindi…”ucap Lina pada adiknya yang tak sadarkan diri dengan wajahnya yang tergores pecahan Vas,”Ochy cepat Bantu aku mengangkat Rindi…cepat…”perintah Lina yang langsung panic,Tsatsa yang mendengar kegaduhan segera turun dan membantu ibunya dan Ochy.
“lepaskan aku…”pekik Rierie dengan marah namun Taemin tak ingin melepasnya dan terus menahan Rierie yang masih memberontak.
Tak lama manager Rierie datang,”Rierie…, apa yang kau lakukan?”ucap sang manager yang langsung menggantikan Taemin memegang Rierie.
“gara-gara wanita itu…gara-gara dia…”ucap Rierie marah.
“bodoh kau…, apa dengan menyakitinya kau belum puas juga…, apa kau pantas di sebut idola?”ucap Taemin dengan dingin hingga Rierie terdiam dan menatap Taemin,”kau bisa menghancurkan harapan fansmu…, jika kau ingin begitu pantaslah senior tak mencintaimu…”Taemin kemudian pergi kebelakang untuk mengambil alat pembersih di belakang.
“ayo Rierie…kau akan mengecewakanku…ayo cepat….”sang manager menarik Rierie pergi dari tempat itu. Para tetangga yang mendengar hanya menatap aneh dan berbisik, sambil menatap aneh pada Rierie.
Di dalam kamarnya Lina dengan sibuk segera membersihkan darah dari wajah Rindi yang sempat tergores.
“kakak…”ucap Rindi setengah sadar.
“tak apa Rindi…tak parah…”ucap Lina menenangkan,”Tsatsa kau kembali saja ketempat tidurmu…”perintah Lina yang langsung di turuti Tsatsa. “Ochy…tolong kau ambilkan air…”.
“baik…”jawab Ochy yang segera pergi.
“tapi wajahku…”air mata Rindi keluar.
“taka pa…akan cepat sembuh Rindi…tak parah…”kata Lina menenangkan.
“hari ini aku ada janji dengannya…, aku tak ingin…aku tak ingin…”Rindi tak sanggup meneruskan kata-katanya dan menangis.
Lina hanya terdiam tak mampu menjawab tangisan Rindi.

To Be Con...
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

© Yuna World 유나, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena