Welcome to my world,Im 유나ArataJJ admin @KBPKfamily ,author &a someone who likes to fantasize.. Thank for visit ^^

Tampilkan postingan dengan label love story in the women's dorm. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label love story in the women's dorm. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Januari 2011

Love Story In The Women's Dorm~ chap.2

love story in the women's dorm
chap.2
Awal smester merupakan awal baru bagi anak-anak smu Lucia baik kelas pertama,dan kedua, untuk mendaftarkan masing-masing ekskul yang di tuju, pagi itu gedung olahraga penuh dengan antrian anak-anak Lucia yang ingin mendaftar ekskul di bidang olahraga.

“tolong semua untuk mengantri yang tertib…”ucap Pak Jevon seorang guru olahraga yang terbilang paling muda, masih sekitar 20 tahun, dia merupakan salah satu pengurus ekskul dalam bidang olahraga.

“huh enak sekali kamu Lun, nggak perlu daftar lagi karena kamu kapten klub karate…, hufh…”kata Sherry dengan sebal pada rombongan anak-anak cewek kelas satu yang langsung menyerobot antriannya dan menggoda ketua klub Renang yang masuk dalam 2 katagori pangeran sekolah.

“kau menyidirku? Kau seharusnya bersyukur karena dia menjadi ketua klubmu…, ku dengar dia juga menjadi wakil di klub seni musik…”kata Luna dengan dingin sambil memperhatikan anak-anak yang mendaftar klub karate.

“yah…yah…, baiklah…, kau jadi mengingatkanku…,ku dengar hari ini ada anak baru…, dan kemungkinan besar akan satu asrama dengan kita…” kata Sherry yang mengalihkan pandangan kea rah Karina yang datang kea rah Luna dan Sherry.

“hai Lun…, Sherr…, ku dengar kita akan kedatangan anak baru ya…??” Tanya Karina sambil menatap kearah antrian klub karate. “tahun ini sungguh mengherankan, klub olahraga tiba-tiba menjadi tenar…”

“yak au betul…, itu semua berkat Luna yang memenangkan kejuaran karate tingkat nasional bulan lalu kan…” ingat Sherry.

Karina tersenyum cerah sambil berkata,”semua aku duluan ya…”Karina langsung melesat pergi dan hilang diarah kerumunan orang-orang yang lalu lalang.

“ada apa sih???” Tanya Sherry bingung.

“entahlah…, kata Luna yang tak perduli lalu hendak pergi ketika Sherry menariknya, “Sherr…,aku harus pergi…”

Tidak Luna…, kau harus ikut denganku…”Sherry manarik Luna yang berusaha menolak.

“Sherr…, aku tak ingin ikut dalam ide gilamu…”Luna tau apa yang akan di fikirkan sahabatnya akan berdampak lain baginya.

“ini bukan ide gila Lun…, kita di beri kebebasan ekskul kan…, dank au membuatku sadar tadi…, kita akan ke ruang kesenian…”Sherry terus menarik Luna kea rah ruang kesenian tanpa komentar lagi.

**************************************

“hai Rev…, Jul…kalian daftar klub seni lagi tahun ini?”Tanya Sherry saat berpapasan dengan teman-temannya.

“iya…, kamu sendiri? Tumben k klub seni…, jangan-jangan mau ngedaftar ya?”tebak Reva setengah bertanya.

Sherry tersenyum malu lalu mengangguk dan menjawab dengan bangga,”ya aku akan ikut klub seni musik…, biarpun begini suaraku kan bagus juga…”

“cih…” kata Luna dengan wajah kesal.

“oh…, tumben kamu berminat dengan klub seni? Kamu nggak ikut klub renang lagi Sherr??” Tanya Reva dengan senyum manisnya.

“hehehe…, kau tau aku ingin mengembangkan bakatku…, aku tetap ikut klub renang kok…, kita kan sudah naik tingkat dan boleh memilih ekskul 2…, jadi kenapa nggak di manfaatin…”senyum Sherry dengan penuh maksud lain,”lalu Julia…, kamu masih ikut klun nari?”.

“ya…, tentu saja…, aku masih ingin meneruskan cita-citaku…, Luna ?? kamu…” Julia menatap Luna yang dengan raut sebal dan berdiri menyandar ke tembok.

“oh…, Luna…, dia Cuma nemenin aku kok…, kayaknya dia nggak berminat dalam klub seni…” ralat Sherry,”baiklah sekarang aku daftar dulu ya sebelum tutup…”Sherry kemudian pergi dan melesat kearah tempat pendaftaran.

Setelah menyapa Luna sesaat Reva dan Julia kemudian pergi.

“kau tak akan bisa mengelak dariku…, sudah ku bilang agar kau ikut klub Lukis saja…” ucap seseorang yang mendekat pada Luna yang menatapnya dengan sebal.

“aku sudah bilang berkali-kali bahwa aku tak berminat sedikitpun pada klub mu…”kata Luna dengan galaknya.

“kau menyia-nyiakan bakat mu…”

“aku tak perduli…, pergi dariku atau aku akan membantingmu seperti tahun lalu…” ancam Luna yang bersiap mengambil ancang-ancang.

Laki-laki itu tersenyum pada Luna,” aku Dean pasti akan membuatmu masuk ke klubku…” janji laki-laki bernama Dean itu.

“tak akan pernah…”tantang Luna dengan dingin.

“hai Lun…, eh…m...kak Dean…, mau mengajak Luna lagi??” Tanya Sherry sambil menunduk sopan pada Dean.

“sudahlah…, kau terlalu lama…, ayo Sherr…” Luna menarik Sherry menjauh saat Dean berteriak ke arahnya.

“aku pasti membuatmu masuk ke klubku…” teriak Dean.

Luna berjalan dengan cepat sambil menarik Sherry,”menyebalkan…” ucap Luna. Keduanya tiba di depan kelas masing-masing.

“Lun…, kenapa sih kamu gitu sama kak Dean??” Tanya Sherry sambil menahan langkah Luna yang akan memasuki kelasnya di sebelah kelas Sherry.

“karena aku tak bisa melukis…” jawab Luna cepat.

“jangan bohong Lun…” bisik Sherry saat siswa lain datang dan masuk ke kelas masing-masing.

“sudahlah…, aku tak ingin berdebat dengan mu…, sudah bel…, aku mau masuk…”tanpa menjawab Luna masuk ke dalam kelasnya dan membuat Sherry mendesah sesaat sebelum akhirnya masuk ke kelasnya sendiri.

**************************************

“sore Lun…Sherr…” sapa Raina yang baru datang dengat wajah yang letih.

“m…” jawab Luna tanpa respon yang sedang membaca buku di beranda.

“Sore ra…, kamu keliatan capek sekali?” Tanya Sherry sambil membalik majalah yang sedang dia baca.

“begitulah…” kata Raina yang langsung masuk kamar mandi dan berganti pakaian, “kalian tau murid batu yang akan sekamar dengan kita itu??” Tanya Raina setelah keluar dari kamar mandi sambil nyalain komputernya. Dan gentian Sherry yang ke kamar mandi sambil ngejawab pertanyaan Raina dari dalam.

“katanya sih anak donator sekolah Ra…”

“oh….” Kata Raina, saat itu ada yang mengetuk pintu kamar mereka.

“ya…” jawab Raina yang beranjak dari kursinya dan membukakan pintu. Sejenak Raina tampak berbincang-bincang dengan tamunya dan tak lama kemudian, Raina memperkenalkan seseorang pada teman-temannya.

“semua…,kenalin dia murid baru dan akan tinggal satu asrama dengan kita….,namanya Olivia…” ucap Raina sambil tersenyum cerah.

“oh…, hai Oliv…, senang berkenalan denganmu…” ucap Sherry yang akan bersalaman namun Olivia menatap kearah lain dengan pandangan aneh.

“huh…, apa nggak ada kamar yang lain?” Tanya Olovia sedikit mencibir.

Sherry dan Raina saling bertatapan.

“huh…, menyebalkan…, aku ingin pindah saja…” kata Olivia dengan ketidak sukaan.

“tap…tapi…”Raina ingin bersuara namun Luna memotong.

“pindah saja, tak ada yang melarangmu pergi dari sini…”kata Luna dengan dingiinnya sambil menutup bukunya.

“ka…kau…”geram Olivia.

“h….hai…lama tak berjumpa O…”

“baiklah cukup…,okey tak perlu kau ungkit lagi…, yang mana tempat tidurku??” Tanya Olivia dengan ketus pada Raina yang langsung nunjuk tempat tidur di tengah antara tempat tidur Sherry dan Raina. Dengan tatapan sinis Olivia langsung menuju tempatnya.

Sherry dan Raina saling tatap kembali lalu menatap Luna yang bersiap mengambil jaketnya.

“jangan Tanya padaku…, Tanya saja pada dia…, aku pergi untuk latihan akan lewat beranda…”kata Luna dengan datarnya kemudian pergi.

Raina dan Sherry hanya dapat mendesah tertahan lalu melanjutkan aktivitas masing-masing dan membiarkan Olivia dengan kesibukannya sendiri.

**************************

Seperti biasa Luna pulang menjelang petang setelah sift malam, bekerja di sebuah kedai coffe. Setiap malam Luna pulang lewat beranda dengan memanjat pohon di sebelah beranda asramanya. Tapi sial malam itu karena Luna hampir ketahuan oleh penjaga sekolah baru yang terkenal galak. Saat itu Luna yang terburu-buru tak memperhatikan sekitar dan langsung memanjat ke beranda ketika dia mencoba membuka berandanya yang terkunci.

“sial…” kutuknya dalam hati. Luna mengintip dari jendela ketika di sadarinya sesuatu yang salah…

“hei siapa kamu?”pekik seseorang dengan suara berat dari dalam.

“akh…, benar-benar sial…” Luna tak bisa mengelak lagi dan tanpa fakir panjang dia langsung melompat ke bawah.

“hei…”seru orang itu sambil menyalakan lampu dan memastikan tempat Luna menghilang tadi.

“siapa De?”Tanya seorang yang lain.

“entahlah…, tak ada siapa-siap…, mungkin hanya kucing…”katanya lalu menutup kembali pintu berandanya…

“hei Ry…, kamu mau kemana?”sapa Karina yang baru akan bermain basket.

“mau ke kelas…”jawab Sherry,”kamu sendiri kar?”Tanya Sherry balik.

“aku mau latihan basket…,eh…aku pergi dulu ya…ada panggilan dari anak-anak…bye Sher…”salam Karinalalu pergi.

“bye…”

Sherry meneruskan perjalanannya karena kurang hati-hati Sherry bertabrakan dengan seseorang yang membuat Sherry terdiam sesaat.

“maafkan aku…”ucap orang itu sambil bangkit lalu mengulurkan tangannya pada Sherry.

“emh…, tidak apa-apa kak…”kata Sherry malu-malusambil menerima bantuan dari orang yang dia tabrak itu.

“Yon….cepetan”pekik seseorang dengan terburu-buru,”kita ketinggalan nih…”

“oh iya sekali lagi maafkan aku…, bukan kah kau satu club denganku? Jika ada apa-apa kau dapat menemuiku…”katanya lagi dengan penuh perhatian.

“ma…makasih kak…”ucap Sherry sambil menunduk menyembunyikan wajahnya yang merah padam. Setelah orang itu pergi sery menatap selembar sapu tangan yang terjatuh di sebelah kakinya. Sherry segera memungutnya dan akan bertanya namun laki-laki itu pergi. “kak Yondi…”ucap Sherry perlahan sambil menggenggam sapu tangan itu.

..............................................

“APA! Bener ini saputangan kak Yondi?”seru Paulina histeris.

“iya…”kata Sherry serius sambil mandangin sapu tangan di tangannya.

“terus sekarang…apa yang akan kamu lakukan dengan sapu tangan itu?” Tanya Raina yang dari tadi hanya diam.

“ya sebaiknya kamu kembalikan saja…, biar nggak ada korban lagi…”kata Reva sambil memakan cemilannya.

“korban? Maksudmu?” Tanya Sherry polos.

“tentu saja Jesicca, Sherry….”jawab Reva dengan serius.

“kak Jesicca?” Tanya Sherry,”ada apa dengan dia? Ku dengar dia baru pindah tahun lalu? Aku tak pernah bertemu dengannya…”

“masa kamu nggak tau Sherr…, Jesicca itu mantannya kak Yondi. Waktu itu kak Jessica pindah dan baru kembali setahun yang lalu dank u dengar 2 minggu lalu keduanya baru putus…, tapi kak Jes tak ingin putus dan masih mengejar kak Yondi…”jelas Paulina panjang lebar.

“a…aku…”kata Sherry ragu.

“kau tau Sher…,jesicca tipikal wanita yang nekat melakukan apa saja demi keiinginannya…,Lia teman sekamarmu itu prtnah kena dampaknya dan kamu taukan dia langsung pindah gara-gara itu….”kata Paulina menakut-nakuti.

“bukankah…si Lia saja yang penakut? Kenapa dia tidak melapor pada guru?”

Tanya Sherry dengan heran.

“kau tau Sher…,Lia sudah melapor pada guru, dan Lia malah tambah di ganggu…apa kau tak tau keadaan teman sekamarmu sendiri?”Tanya Paulina dengan heran.

Sherry menggeleng kuat,”aku tak tau…”

“Jes memperlakukan Lia dengan sadis, dia nggak akan segan2 memakai cara anarkis…”Paulina menakuti Sherry yang bergidig ngeri sementara yang lain tersenyum melihat kepolosan Sherry.

“la….lalu aku harus bagaimana?”Tanya Sherry bingung.

“cepat kamu kembalikan sebelum ketahuan oleh Jes…”saran Reva.

“m…”angguk Sherry,”sesegera mungkin…” tambahnya sambil memandangi saputangan itu.

.............................................................

TENG….TENG….TENG…., bunyi lonceng istirahat siang akhirnya berdentang juga.

“Eh…udah waktunya makan siang…,ke kantin yuk…”ajak Sherry pada Paulina yang sedang menggeliat meregangkan ototnya.

“aku juga sudah mulai lapar…”ucap Raina sambil mengemasi bukunya.

“iya…”sahut Reva setuju.

Mereka kemudian menuju kantin, yang mulai di penuhi anak-anak yang sedang kelaparan. Saat tiba di kantin…

“yaampun…penuh…”ucap Sherry adak kecewa.

“selalukan…”sahut Karina yang baru datang.

“eh itu Luna…”tunjuk Paulina.

“iya…, ayo kita ke sana…”seru Sherry .lalu mereka menuju kea rah Luna.

“hei Lun…”sapa Reva paling awal.

“kita makan di meja mana?”Tanya Raina.

“terserah kalian…”jawab Luna singkat.

“kita ke sana aja yuk…”ajak Paulina sambil menunjuk kearah meja tempat Olivia duduk.

“iya kita ke sana saja…” dukung Sherry.

Tanpa banyak bicara lagi, mereka segera menuju ke meja Olivia.

“hei Liv…, boleh gabung?” Tanya Sherry sambil tersenyum.

“boleh saja, asal orang kasar yang bernama Luna itu nggak duduk di sini”ucap Olivia dengan kasar dan sinis.

“aku juga tak berniat duduk stu meja denganmu gadis sombong…”ucap Luna dingin, lalu pergi ke meja lain yang baru saja kosong dan duduk di sana sendiri.

“Gai, teman-teman…”sapa Julia yang baru saja datang,”mengapa Luna duduk di situ…?bukankah di sini masih ada kursi yang kosong?”Tanya Julia sambil duduk di salah satu kursi.

“eh…lagi bad mood…”jawab Raina singkat sambil melirik Olivia yang sedang memberengut kesal.

“oh…,begitu…”angguk Julia mengerti dengan lirikan Raina tadi.

……………………………...........................

Di meja Luna…

“hai Lun…”sapa Dean sambil menepuk bahu Luna dari belakang.

“jangan ganggu aku…”jawab Luna dengan ketus tanpa menoleh sedikitpun kearah Dean.

“kau terlalu dingin sebagai wanita…,dasar putrid salju…”canda Dean tanpa perduli lalu duduk di depan Luna.

“…”Luna hanya diam dan terus melanjutkan makannya.

“aku hanya datang untuk berbaikan denganmu…”ucap Dean yang membuat Luna marah dan menghentikan makannya.

“aku tak suka saat aku makan ada yang menggangguku…”kata Luna dengan sengit, sambil berdiri dari kursinya,”aku sudah tak bernafsu makan…”

“dengarkan aku dulu…”Dean menarik tangan Luna namun Luna menepisnya.

“lepaskan…”

“rahasiamu ada padaku…”ucap Dean tenang.

“…”Luna diam sambil mengerutkan alisnya.

“aku tak bermaksud mengancam…, tapi kurasa ini satu-satunya cara agar kau mau masuk ke klubku…”ancam Dean dengan raut serius.

“h…,kau bodoh…! Kau bukan siapa-siapa aku dank au jangan pernah coba-coba mengancamku dengan bualanmu itu karma aku tak pernah takut sedikitpun…”ucap Luna dingin sambil mendesah sinis, lalu pergi meninggalkan kantin dengan jalan yang menahan sakit.

“eh…m…Luna kenapa ya? Belakangan ini dia kok jadi pemarah dan aneh?”Tanya Karina dengan penuh curiga.

“aneh bagaimana?” Tanya Reva sambil memperhatikan Dean yang kemudian meninggalkan kantin juga.

“lihatkan jalan Luna tadi? Rada-rada terpincang begitu…, habis jatuh atau apa?”Tanya Karina penuh selidik sambil menatap Raina dan Sherry.

“iya kamu benar juaga…”dukung Julia dan Paulina berbarengan.

“mu…mungkin Luna keseleo waktu olahraga tadi…,iyakan Rain?”Tanya Sherry meminta dukungan Raina.

“i…iya kali…”jawab Raina ragu.

Brak…, dengan marah Olivia menyentak meja dan pergi meninggalkan pandangan kaget dari teman-temannya.



to be Con.......
Read More

Love Story In The Women's Dorm~ chap.1

cerita waktu smp..., bukan cuma aku yang bikin tp my best friend Selvy..., maafin aku....

love story in the women's dorm
chap.1
by_Hermailinda & Shelvy


Di awal musim, semi di asrama LUCIA...

"eh...Raina, selama liburan kamu kemana aja?"sapa Sherry, cewek yang terlihat sangat periang ini.

"m...,aku sih cuma bantuin mamaku di rumah, kalo kamu??"tanya Raina balik.

"kalau aku sih kemaren liburan ke Bali..., terus aku ketemu cowok yang cute banget deh, aduh kok aku jadi malu sendiri ya….” Kata Sherry sambil senyum-senyum sendiri,”tapi kalo cewek satu itu…”Sherry melirik pada seorang cewek berkacamata yang sedang asyik baca di sudut ruangan,”hmmm…”

“udah ah…, kita samperin yuk …”kata Raina sambil tersenyum menatap cewek yang di maksud.

“ok…”kata Sherry. Sherry dan Raina berjalan menuju kea rah cewek yang sedang asyik membaca di sudut ruangan itu.

“hai Lun…, gimana kabarmu? Liburan ini kamu kemana aja??” Tanya Raina tanpa basa-basi pada cewek yang bernama Luna itu.

“m…, aku baik…”jawab Luna dengan datar. “dan…aku…”

“udah deh Ra…, nggak usah di Tanya lagi …pasti liburan ini dia sibuk kerja…kerja…dan kerja lagi…,liburan untuk uang…”sela Sherry yang setengah bercanda.

Luna pun menutup buku yang di bacanya sambil melepas kacamatanya dia berkata,”aku akan melakukan sesuatu yang menurutku lebih penting dari pada hanya menghamburkan uangku untuk hal yang nggak penting…, aku hanya mencoba mengisi hidupku dengan hal yang aku sukai…yaitu bekerja…” kata Luna datar lalu dia beranjak dari tempatnya dan berjalan pergi.

Sherry yang sempat terdiam dengan kata-kata Luna hanya bisa terpaku,”eh…Ra…,Lu…Luna marah ya padaku?”Tanya Sherry gugup akan kata-kata Luna tadi,”aduh Ra…, aku salah ngomong nih…”

“nggak usah di fikirin Sher…, paling dia Cuma bercanda…, lagi pula kita sama-sama taukan sifat Luna yang super cuek dan dingin itu…” Raina menenangkan sahabatnya.

“i…iya deh…”ucap Sherry masih merasa bersalah.

“…”

“hey…, kalian berdua…., sedang apa di situ? Udah laper nih…” pekik Luna sembari berbalik kearah sahabat-sahabatnya.

“tuh kan…”senyum Raina diikuti anggukan Sherry.

“ada apa?...,ayolah…sebelum kantin menjadi sesak…” kata Luna lalu berjalan mendahului.

“m…, ayo deh…”ucap Sherry dan Raina bersamaan. Mereka pun berjalan menuju kantin yang sudah mulai di penuhi anak-anak lain yang sudah kelaperan, dan memang sudah waktunya jam makan siang.

“yaampun…, penuh…,gimana nih??”pekik Sherry kecewa.

“m…Luna melangkah pasti ke senuah meja yang di penuhi cowok berotot yang kelihatan kekar. Sesaat Luna berbicara akrab dengan mereka hingga para cowok itu meninggalkan tempat duduknya dan sempat mengucapkan salam pada Luna sebelum mereka pergi. Luna memberi isyarat pada kedua sahabatnya yang sedikit tercengang.

“wah Lun nggak nyangka…bukannya mereka dari klub tinju…, mereka terkenal seram karena tubuh besar mereka…,wah…Sherry kagum padamu Luna…”seru Sherry yang nggak di perduliin Luna yang langsung duduk di tempatnya.

Raina hanya tersenyum menatap Sherry lalu duduk di sebelah Luna.

“huh…” desah Sherry dengan kesal.

“sudahlah…,cepat pesan makanannya…”perintah Luna cuek, sambil memasang headsetnya.

“baiklah-baiklah…, kalian pesan apa?” Tanya Sherry dengan wajah cemberut, memang kali itu gilirannya mengambil jatah makanan.

“double choco banana chese…minumnya air mineral saja…”kata Luna cepat dan kemudian membuka buku yang di bawanya tadi.

“sama kayak Luna…,tapi aku minumnya teh green ya…”ucap Raina sambil tersenyum,”mau ku temani?” tawar Raina.

“”nggak usah…, hari ini kan memang giliranku ra…”saat Sherry hendak melangkah tiba-tiba Luna berkata.

“hei…, jangan lupa hari ini giliran kamu ngegantiin tugas nyuci piring ku...” ucap Luna dengan entengnya.

Langkah Sherry terhenti sejenak lalu menjawab,”i…iya…iya …aku ingat kok…”kata Sherry setengah hati lalu bergegas pergi memesan makanan.

“Luna…,kau ini…”tegur Raina. Namun Luna tak perduli.

Luna hanya diam dan kembali membaca bukunya.

“Luna…” Raina melepas sebelah headset Luna.

“…”Luna mengerti temannya ingin berbicara serius dengannya dan melepas sebelah headsetnya.

“apa kamu nggak merasa capek Lun?” Tanya Raina mengawali.

“untuk?”

“kamu selalu melakukan hal itu…, terus bekerja…, apa kamu…”Raina setengah berbisik.

“Ra…, aku nggak pernah merasa capek atau apapun yang sudah aku kerjakan ataupun yang aku lakukan…,karena aku akan menerima segala konsekuensinya…, aku hanya ingin menghargai hidupku sendiri dengan caraku karena aku adalah diriku sendiri…” ucap Luna dengan santai dan lugas. Raina mengerti akan sifat sahabatnya itu dan tidak membantah lagi. Tak berapa lama pesanan mereka datang,dan mulai menyantap makanan mereka masing-masing dengan suasana akrab.

“wuahhhh….,akhirnya kita kembali bersama lagi…., tapi aku jadi rindu dengan Lia…sayang dia pindah hanya karena hal sepele itu…, padahalkan kita sudah membelanya aku sedikit kecewa pada Lia…”ucap Sherry lirih sambil duduk di tempat tidurnya.

“sudahlah Sherr…,syukur-syukur kita bisa satu kamar lagi…, karena memang tak ada program acak kamar lagi…,kepala sekolah cukup pusing mendengar tuntutan para murid yang nyaman dengan teman sekamarnya…”putus Raina menerangkan sambil melipat pakaiannya dan memasukkan dalam lemari berukuran sedang di sebelah tempat tidurnya.

“hm…, kamu benar ra…, tapi kayaknya ada yang lagi bosen di kamar…”Sherry melirik Luna yang duduk dip agar beranda.

Raina mengalihkan pandangan matanya ke Luna yang sedang duduk di beranda sambil menatap kosong kea rah sebuah kartu atm.

“ada apa Lun?”Tanya Raina antusias sambil mendekat ke arahnya.

“hm…”desah Luna lalu beranjak dari tempatnya dan mengambil jaketnya di samping tempat tidurnya,”Ra…,Sher…kalian nggak perlu nunggu aku, tapi tolong beranda jangan di kunci…”pesan Luna lalu berjalan kea rah beranda.

“kamu mau kerja lagi Lun? Lun…, apa kamu nggak takut akan ketahuan…, Lun…kami mengkhawatirkan mu Lun…”Sela Sherry yang tau maksud Luna, sambil mencoba mencegah Luna dengan menarik lengannya.

“Sher…”tegur Raina.

“pokoknya nggak boleh…” kata Sherry keras kepala.

Luna tersenyum sesaat lalu melepaskan pegangan tangan Sherry,”aku tak ingin melakukan hal yang tak ingin ku lakukan Sherry…,aku tau kau bisa mengerti aku…”Luna tersenyum sesaat Lalu tanpa perduli lagi Luna bersiap di pinggir beranda.

Raina hanya mendesah ringan menatap Luna.

“Lun…, please untuk kali ini dengerin aku…”pinta Sherry dengan sewot,”kami nggak mau sampai…”

Luna memotong kata-kata Sherry dan mengambil ancang-ancang,”aku tak ingin berdebat denganmu Sher…, sampai jumpa besok…” Luna melompat kesebuah dahan pohon yang cukup tinggi dan tumbuh tepat di samping beranda, hingga dalam sekejap Luna hilang dari pandangan mata.

“LUNNNNN…..”teriak Sherry sambil melongok keluar beranda. Namun tak ada jawaban selain bunyi jangkrik , dan hentakan keras…

‘GUBRAK…’bunyi pintu kamar mereka di dobrak.

“ada apa Sher?”Tanya Karina yang pertama kali muncul, diikuti Julia, Reva,dan Paulina bersamaan dengan panic. Mereka cukup terkejut mendengar teriakan Sherry tadi.

“m…e…”Sherry terdiam kikuk.

“ada apa sih?...kok jadi gugup gitu?Luna kenapa? Ada apa?”Tanya Reva dengan panic.

“itu…si Luna…”ucap Sherry hamper keceplosan, ketika Raina dengan segera membekap mulut Sherry dengan tangannya.

“m…, itu maklum aja! Sherry kan suka nyanyi! Jadi Luna…Luna… gitu…ngetes suara …!” ucap Raina sambil menirukan suara dan gaya Sherry.

“oh…gitu…sukurlah…” kata Julia yang sebenarnya setengah tak percaya.

“ngomong-ngomong kalian kok bawa cemilan?” Raina berusaha mengalihkan pembicaraan.

“loh…,kamu lupa ya…? Sekarangkan waktunya kita ngegosip” jawab Paulina mengingatkan, dia duduk di tempat tidur Luna.

“oh…,iya…”ucap Raina baru ingat.

“lalu…, mana Lunanya?”Tanya Karina penuh selidik.

“itu…,Lunanya kabur gara-gara ngedenger suara Sherry tadi! Dia mungkin mules ngedenger suara Sherry yang menggelegar itu…”hawab Raina asal.

“ih…,kok kamu gitu sih?”ucap Sherry cemberut dan manja. Nah …, kumat lagi tuh sifat kekanak-kanakannya.

“udah deh…, sekarang sebaiknya kita mulai ngegosip…”ucap Paulina dengan cepat,”tapi apa topic yang asyik ya?” kata Reva memulai.

“apa aja deh” kata Sherry masih kesel.

“m…,kalo gitu cowok aja deh…” saran Paulina dengan wajah cerah dan semnagat yang tinggi.

“ra…, kamu nggak mau ikut?”Tanya Julia pelan, pada Raina yang kembali sibuk di depan komputernya (maklum Raina seorang ketua osis jadi khusus ketua osis di beri fasilitas tambahan).

Raina tersenyum perlahan lalu berkata”nggak…, aku lagi banyak kerjaan kalian aja …”tolak Raina halus lalu sibuk ngetik lagi.

“yah nggak seru dong…, padahal kita-kita mau tau soal kedeketan ‘you’ sama Eve…”canda Sherry sambil berkedip jahil menggoda Raina yang wajahnya langsung memerah.

“ah…,ternyata Raina pacaran ya…sama si wakil ketua osis…,m…bakalan seru nih kalo di bahas…,hatuh cinta ama si wakil…”pekik Reva sambil terkikik yang membuat konsentrasi Raina buyar.

“a…apa-apaan sih kalian ini ngaco…, aku sama Eve nggak ada hubungan apa-apa…,titik…dan jelas kan???” elak Raina yang Cuma di tanggapi yang lainnya dengan tersenyum tak acuh.

“ayolah Ra…, ngaku aja…, aku tau si wakilmu itu menyukaimu kan…”kata Sherry dengan menggoda di dukung anggukan yang lain.

“sudahlah…, dia itu hanya temanku nggak lebih…dan nggak kurang …, lagipula kalian ini baru masuk sudah nyebarin gossip yang nggak-enggak aja…” Raina menasehati panjang lebar.

“iya-iya…,memang susah deh ngomong sama orang yang lagi pura-pura nggak suka…”kata Karina sambil memakan cemilannya. Dan berusaha nyudutin Raina.

“eh tapi…, dari tadi aku nggak liat Luna …, kok nggak balik-balik sih?”Tanya Julia yang sadar akan keabsenan Luna.

“em…, eh…tau nggak waktu aku liburan aku ketemu cowok cakep…cute lagi…Cuma saying aku nggak sempat kenalan…” Sherry berusaha mengalihkan pembicaraan mereka yang mulai mencari keabsenan Luna.

“yah sayang banget sih…”kata Paulina yang tertarik, namun agaknya Kara masih curiga sambil nengok kearah beranda.

“yah…, namanya juga gugup…kan…aku…” suara tawa terus terdengar dari kamar itu dengan sesekali pekikan dan tawa ringan hingga waktu menunjukkan jam tidur mereka, dan masing-masing kembali ke kamarnya dengan rasa kantuk yang begitu kuat.

“hoem…Ra…aku tidur duluan ya…”kata Sherry dengan kuap yang lebar.

“ya deh…, tapi beranda jangan di kunci loh…”pesan Raina yang terus sibuk mengetik.

“beres…”

Waktu terus berjalan hingga Raina tak kuasa menahan kantuknya dan tertidur di depan komputernya yang masih menyala.

“waaa….”pagi yang cerah di awaki dengan teriakan Raina.

“hoem…”kuap Sherry yang terbangun oleh teriakan Raina,” ada apa sih Ra…, pagi-pagi udah teriak-teriak…”Sherry bangun sambil merenggangkan ototnya.

“ko…komputernya mati…, padahal filenya belum ku simpan…”pekik Raina histeris,”belum ku Copy lagi…gimana dong??”

“memang apa sih isinya?”kata Sherry dengan cueknya sambil ngiket rambutnya kemudian jalan kearah kamar mandi.

“data-data pengeluaran kas osis yang harus di tanda tangani hari ini…, aduh gimana nih…,hu…hu…hu…”Raina pun mulai menangis saat tiba-tiba Luna muncul dari kamar mandi dengan pakaian seragam lengkapnya.

“ada apa sih?” Tanya Luna sambil duduk di tempat tidurnya.

“Raina kehilangan filenya gara-gara komputernya mati…”jelas Sherry sekilas lalu masuk ke dalam kamar mandi.

“oh…,ini Ra…”kata Luna sambil nyerahin sebuah disket pada Raina,”datamu sudah ku simpan di sini semuanya…”jelas Luna memecah kebingungan Raina menjadi perasaan lega.

“makasih Lun…kamu memang teman terbaikku…” Raina mengusap air matanya dan kemudian sudah kembali sibuk di depan komputernya.

“…”sementara Luna sibuk menyiapkan diri.

“oh iya Lun…, kamu pulang jam berapa?” Tanya Raina yang tatapannya beralih pada Luna yang sedang mengenakan sepatunya.

“seperti biasa…, Ra…aku duluan …, ada yang harus ku kerjakan…” kata Luna sambil mengambil tasnya dan pergi ketika Sherry keluar dari kamar mandi.

“loh Ra…, mana Luna?” Tanya Sherry sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk dan telah berpakaian sekolah lengkap.

“dia pergi duluan…, oh iya Sher…, kamu duluan saja, aku harus menyelesaikan beberapa berkas lagi…, nanti kuncinya aku titip ke pengurus ya…” pesan Raina pada Sherry yang terburu-buru menyisir rambutnya.

“baiklah…baiklah…, aku pergi dulu Ra…dah….wakkkkhhhhh…”

GUBRAK…

Sherry yang kurang antisipasi jatuh dengan posisi tertelungkup, gara-gara keselimpet tali sepatunya yang belum diiket.

“adu Sher…., kamu gimana sih…, kok nggak hati-hati…” Raina membantu Sherry berdiri sambil menahan tawanya.

“huh…sial…” maki Sherry sambil mengusap hidungnya yang sakit, “sudahlah Ra…aku berangkat dulu…”kata Sherry dengan jengkel dan mengikat asal tali sepatunya.

Raina menatap Sherry hingga terdengar gedubrag untuk ke dua kalinya dan lengkingan suara Sherry yang kesal.

“dasar SIAL…..”

_________________________________

to be con....^^
Read More
Diberdayakan oleh Blogger.

© Yuna World 유나, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena