Welcome to my world,Im 유나ArataJJ admin @KBPKfamily ,author &a someone who likes to fantasize.. Thank for visit ^^

Kamis, 20 Januari 2011

Love Story In The Women's Dorm~ chap.2

love story in the women's dorm
chap.2
Awal smester merupakan awal baru bagi anak-anak smu Lucia baik kelas pertama,dan kedua, untuk mendaftarkan masing-masing ekskul yang di tuju, pagi itu gedung olahraga penuh dengan antrian anak-anak Lucia yang ingin mendaftar ekskul di bidang olahraga.

“tolong semua untuk mengantri yang tertib…”ucap Pak Jevon seorang guru olahraga yang terbilang paling muda, masih sekitar 20 tahun, dia merupakan salah satu pengurus ekskul dalam bidang olahraga.

“huh enak sekali kamu Lun, nggak perlu daftar lagi karena kamu kapten klub karate…, hufh…”kata Sherry dengan sebal pada rombongan anak-anak cewek kelas satu yang langsung menyerobot antriannya dan menggoda ketua klub Renang yang masuk dalam 2 katagori pangeran sekolah.

“kau menyidirku? Kau seharusnya bersyukur karena dia menjadi ketua klubmu…, ku dengar dia juga menjadi wakil di klub seni musik…”kata Luna dengan dingin sambil memperhatikan anak-anak yang mendaftar klub karate.

“yah…yah…, baiklah…, kau jadi mengingatkanku…,ku dengar hari ini ada anak baru…, dan kemungkinan besar akan satu asrama dengan kita…” kata Sherry yang mengalihkan pandangan kea rah Karina yang datang kea rah Luna dan Sherry.

“hai Lun…, Sherr…, ku dengar kita akan kedatangan anak baru ya…??” Tanya Karina sambil menatap kearah antrian klub karate. “tahun ini sungguh mengherankan, klub olahraga tiba-tiba menjadi tenar…”

“yak au betul…, itu semua berkat Luna yang memenangkan kejuaran karate tingkat nasional bulan lalu kan…” ingat Sherry.

Karina tersenyum cerah sambil berkata,”semua aku duluan ya…”Karina langsung melesat pergi dan hilang diarah kerumunan orang-orang yang lalu lalang.

“ada apa sih???” Tanya Sherry bingung.

“entahlah…, kata Luna yang tak perduli lalu hendak pergi ketika Sherry menariknya, “Sherr…,aku harus pergi…”

Tidak Luna…, kau harus ikut denganku…”Sherry manarik Luna yang berusaha menolak.

“Sherr…, aku tak ingin ikut dalam ide gilamu…”Luna tau apa yang akan di fikirkan sahabatnya akan berdampak lain baginya.

“ini bukan ide gila Lun…, kita di beri kebebasan ekskul kan…, dank au membuatku sadar tadi…, kita akan ke ruang kesenian…”Sherry terus menarik Luna kea rah ruang kesenian tanpa komentar lagi.

**************************************

“hai Rev…, Jul…kalian daftar klub seni lagi tahun ini?”Tanya Sherry saat berpapasan dengan teman-temannya.

“iya…, kamu sendiri? Tumben k klub seni…, jangan-jangan mau ngedaftar ya?”tebak Reva setengah bertanya.

Sherry tersenyum malu lalu mengangguk dan menjawab dengan bangga,”ya aku akan ikut klub seni musik…, biarpun begini suaraku kan bagus juga…”

“cih…” kata Luna dengan wajah kesal.

“oh…, tumben kamu berminat dengan klub seni? Kamu nggak ikut klub renang lagi Sherr??” Tanya Reva dengan senyum manisnya.

“hehehe…, kau tau aku ingin mengembangkan bakatku…, aku tetap ikut klub renang kok…, kita kan sudah naik tingkat dan boleh memilih ekskul 2…, jadi kenapa nggak di manfaatin…”senyum Sherry dengan penuh maksud lain,”lalu Julia…, kamu masih ikut klun nari?”.

“ya…, tentu saja…, aku masih ingin meneruskan cita-citaku…, Luna ?? kamu…” Julia menatap Luna yang dengan raut sebal dan berdiri menyandar ke tembok.

“oh…, Luna…, dia Cuma nemenin aku kok…, kayaknya dia nggak berminat dalam klub seni…” ralat Sherry,”baiklah sekarang aku daftar dulu ya sebelum tutup…”Sherry kemudian pergi dan melesat kearah tempat pendaftaran.

Setelah menyapa Luna sesaat Reva dan Julia kemudian pergi.

“kau tak akan bisa mengelak dariku…, sudah ku bilang agar kau ikut klub Lukis saja…” ucap seseorang yang mendekat pada Luna yang menatapnya dengan sebal.

“aku sudah bilang berkali-kali bahwa aku tak berminat sedikitpun pada klub mu…”kata Luna dengan galaknya.

“kau menyia-nyiakan bakat mu…”

“aku tak perduli…, pergi dariku atau aku akan membantingmu seperti tahun lalu…” ancam Luna yang bersiap mengambil ancang-ancang.

Laki-laki itu tersenyum pada Luna,” aku Dean pasti akan membuatmu masuk ke klubku…” janji laki-laki bernama Dean itu.

“tak akan pernah…”tantang Luna dengan dingin.

“hai Lun…, eh…m...kak Dean…, mau mengajak Luna lagi??” Tanya Sherry sambil menunduk sopan pada Dean.

“sudahlah…, kau terlalu lama…, ayo Sherr…” Luna menarik Sherry menjauh saat Dean berteriak ke arahnya.

“aku pasti membuatmu masuk ke klubku…” teriak Dean.

Luna berjalan dengan cepat sambil menarik Sherry,”menyebalkan…” ucap Luna. Keduanya tiba di depan kelas masing-masing.

“Lun…, kenapa sih kamu gitu sama kak Dean??” Tanya Sherry sambil menahan langkah Luna yang akan memasuki kelasnya di sebelah kelas Sherry.

“karena aku tak bisa melukis…” jawab Luna cepat.

“jangan bohong Lun…” bisik Sherry saat siswa lain datang dan masuk ke kelas masing-masing.

“sudahlah…, aku tak ingin berdebat dengan mu…, sudah bel…, aku mau masuk…”tanpa menjawab Luna masuk ke dalam kelasnya dan membuat Sherry mendesah sesaat sebelum akhirnya masuk ke kelasnya sendiri.

**************************************

“sore Lun…Sherr…” sapa Raina yang baru datang dengat wajah yang letih.

“m…” jawab Luna tanpa respon yang sedang membaca buku di beranda.

“Sore ra…, kamu keliatan capek sekali?” Tanya Sherry sambil membalik majalah yang sedang dia baca.

“begitulah…” kata Raina yang langsung masuk kamar mandi dan berganti pakaian, “kalian tau murid batu yang akan sekamar dengan kita itu??” Tanya Raina setelah keluar dari kamar mandi sambil nyalain komputernya. Dan gentian Sherry yang ke kamar mandi sambil ngejawab pertanyaan Raina dari dalam.

“katanya sih anak donator sekolah Ra…”

“oh….” Kata Raina, saat itu ada yang mengetuk pintu kamar mereka.

“ya…” jawab Raina yang beranjak dari kursinya dan membukakan pintu. Sejenak Raina tampak berbincang-bincang dengan tamunya dan tak lama kemudian, Raina memperkenalkan seseorang pada teman-temannya.

“semua…,kenalin dia murid baru dan akan tinggal satu asrama dengan kita….,namanya Olivia…” ucap Raina sambil tersenyum cerah.

“oh…, hai Oliv…, senang berkenalan denganmu…” ucap Sherry yang akan bersalaman namun Olivia menatap kearah lain dengan pandangan aneh.

“huh…, apa nggak ada kamar yang lain?” Tanya Olovia sedikit mencibir.

Sherry dan Raina saling bertatapan.

“huh…, menyebalkan…, aku ingin pindah saja…” kata Olivia dengan ketidak sukaan.

“tap…tapi…”Raina ingin bersuara namun Luna memotong.

“pindah saja, tak ada yang melarangmu pergi dari sini…”kata Luna dengan dingiinnya sambil menutup bukunya.

“ka…kau…”geram Olivia.

“h….hai…lama tak berjumpa O…”

“baiklah cukup…,okey tak perlu kau ungkit lagi…, yang mana tempat tidurku??” Tanya Olivia dengan ketus pada Raina yang langsung nunjuk tempat tidur di tengah antara tempat tidur Sherry dan Raina. Dengan tatapan sinis Olivia langsung menuju tempatnya.

Sherry dan Raina saling tatap kembali lalu menatap Luna yang bersiap mengambil jaketnya.

“jangan Tanya padaku…, Tanya saja pada dia…, aku pergi untuk latihan akan lewat beranda…”kata Luna dengan datarnya kemudian pergi.

Raina dan Sherry hanya dapat mendesah tertahan lalu melanjutkan aktivitas masing-masing dan membiarkan Olivia dengan kesibukannya sendiri.

**************************

Seperti biasa Luna pulang menjelang petang setelah sift malam, bekerja di sebuah kedai coffe. Setiap malam Luna pulang lewat beranda dengan memanjat pohon di sebelah beranda asramanya. Tapi sial malam itu karena Luna hampir ketahuan oleh penjaga sekolah baru yang terkenal galak. Saat itu Luna yang terburu-buru tak memperhatikan sekitar dan langsung memanjat ke beranda ketika dia mencoba membuka berandanya yang terkunci.

“sial…” kutuknya dalam hati. Luna mengintip dari jendela ketika di sadarinya sesuatu yang salah…

“hei siapa kamu?”pekik seseorang dengan suara berat dari dalam.

“akh…, benar-benar sial…” Luna tak bisa mengelak lagi dan tanpa fakir panjang dia langsung melompat ke bawah.

“hei…”seru orang itu sambil menyalakan lampu dan memastikan tempat Luna menghilang tadi.

“siapa De?”Tanya seorang yang lain.

“entahlah…, tak ada siapa-siap…, mungkin hanya kucing…”katanya lalu menutup kembali pintu berandanya…

“hei Ry…, kamu mau kemana?”sapa Karina yang baru akan bermain basket.

“mau ke kelas…”jawab Sherry,”kamu sendiri kar?”Tanya Sherry balik.

“aku mau latihan basket…,eh…aku pergi dulu ya…ada panggilan dari anak-anak…bye Sher…”salam Karinalalu pergi.

“bye…”

Sherry meneruskan perjalanannya karena kurang hati-hati Sherry bertabrakan dengan seseorang yang membuat Sherry terdiam sesaat.

“maafkan aku…”ucap orang itu sambil bangkit lalu mengulurkan tangannya pada Sherry.

“emh…, tidak apa-apa kak…”kata Sherry malu-malusambil menerima bantuan dari orang yang dia tabrak itu.

“Yon….cepetan”pekik seseorang dengan terburu-buru,”kita ketinggalan nih…”

“oh iya sekali lagi maafkan aku…, bukan kah kau satu club denganku? Jika ada apa-apa kau dapat menemuiku…”katanya lagi dengan penuh perhatian.

“ma…makasih kak…”ucap Sherry sambil menunduk menyembunyikan wajahnya yang merah padam. Setelah orang itu pergi sery menatap selembar sapu tangan yang terjatuh di sebelah kakinya. Sherry segera memungutnya dan akan bertanya namun laki-laki itu pergi. “kak Yondi…”ucap Sherry perlahan sambil menggenggam sapu tangan itu.

..............................................

“APA! Bener ini saputangan kak Yondi?”seru Paulina histeris.

“iya…”kata Sherry serius sambil mandangin sapu tangan di tangannya.

“terus sekarang…apa yang akan kamu lakukan dengan sapu tangan itu?” Tanya Raina yang dari tadi hanya diam.

“ya sebaiknya kamu kembalikan saja…, biar nggak ada korban lagi…”kata Reva sambil memakan cemilannya.

“korban? Maksudmu?” Tanya Sherry polos.

“tentu saja Jesicca, Sherry….”jawab Reva dengan serius.

“kak Jesicca?” Tanya Sherry,”ada apa dengan dia? Ku dengar dia baru pindah tahun lalu? Aku tak pernah bertemu dengannya…”

“masa kamu nggak tau Sherr…, Jesicca itu mantannya kak Yondi. Waktu itu kak Jessica pindah dan baru kembali setahun yang lalu dank u dengar 2 minggu lalu keduanya baru putus…, tapi kak Jes tak ingin putus dan masih mengejar kak Yondi…”jelas Paulina panjang lebar.

“a…aku…”kata Sherry ragu.

“kau tau Sher…,jesicca tipikal wanita yang nekat melakukan apa saja demi keiinginannya…,Lia teman sekamarmu itu prtnah kena dampaknya dan kamu taukan dia langsung pindah gara-gara itu….”kata Paulina menakut-nakuti.

“bukankah…si Lia saja yang penakut? Kenapa dia tidak melapor pada guru?”

Tanya Sherry dengan heran.

“kau tau Sher…,Lia sudah melapor pada guru, dan Lia malah tambah di ganggu…apa kau tak tau keadaan teman sekamarmu sendiri?”Tanya Paulina dengan heran.

Sherry menggeleng kuat,”aku tak tau…”

“Jes memperlakukan Lia dengan sadis, dia nggak akan segan2 memakai cara anarkis…”Paulina menakuti Sherry yang bergidig ngeri sementara yang lain tersenyum melihat kepolosan Sherry.

“la….lalu aku harus bagaimana?”Tanya Sherry bingung.

“cepat kamu kembalikan sebelum ketahuan oleh Jes…”saran Reva.

“m…”angguk Sherry,”sesegera mungkin…” tambahnya sambil memandangi saputangan itu.

.............................................................

TENG….TENG….TENG…., bunyi lonceng istirahat siang akhirnya berdentang juga.

“Eh…udah waktunya makan siang…,ke kantin yuk…”ajak Sherry pada Paulina yang sedang menggeliat meregangkan ototnya.

“aku juga sudah mulai lapar…”ucap Raina sambil mengemasi bukunya.

“iya…”sahut Reva setuju.

Mereka kemudian menuju kantin, yang mulai di penuhi anak-anak yang sedang kelaparan. Saat tiba di kantin…

“yaampun…penuh…”ucap Sherry adak kecewa.

“selalukan…”sahut Karina yang baru datang.

“eh itu Luna…”tunjuk Paulina.

“iya…, ayo kita ke sana…”seru Sherry .lalu mereka menuju kea rah Luna.

“hei Lun…”sapa Reva paling awal.

“kita makan di meja mana?”Tanya Raina.

“terserah kalian…”jawab Luna singkat.

“kita ke sana aja yuk…”ajak Paulina sambil menunjuk kearah meja tempat Olivia duduk.

“iya kita ke sana saja…” dukung Sherry.

Tanpa banyak bicara lagi, mereka segera menuju ke meja Olivia.

“hei Liv…, boleh gabung?” Tanya Sherry sambil tersenyum.

“boleh saja, asal orang kasar yang bernama Luna itu nggak duduk di sini”ucap Olivia dengan kasar dan sinis.

“aku juga tak berniat duduk stu meja denganmu gadis sombong…”ucap Luna dingin, lalu pergi ke meja lain yang baru saja kosong dan duduk di sana sendiri.

“Gai, teman-teman…”sapa Julia yang baru saja datang,”mengapa Luna duduk di situ…?bukankah di sini masih ada kursi yang kosong?”Tanya Julia sambil duduk di salah satu kursi.

“eh…lagi bad mood…”jawab Raina singkat sambil melirik Olivia yang sedang memberengut kesal.

“oh…,begitu…”angguk Julia mengerti dengan lirikan Raina tadi.

……………………………...........................

Di meja Luna…

“hai Lun…”sapa Dean sambil menepuk bahu Luna dari belakang.

“jangan ganggu aku…”jawab Luna dengan ketus tanpa menoleh sedikitpun kearah Dean.

“kau terlalu dingin sebagai wanita…,dasar putrid salju…”canda Dean tanpa perduli lalu duduk di depan Luna.

“…”Luna hanya diam dan terus melanjutkan makannya.

“aku hanya datang untuk berbaikan denganmu…”ucap Dean yang membuat Luna marah dan menghentikan makannya.

“aku tak suka saat aku makan ada yang menggangguku…”kata Luna dengan sengit, sambil berdiri dari kursinya,”aku sudah tak bernafsu makan…”

“dengarkan aku dulu…”Dean menarik tangan Luna namun Luna menepisnya.

“lepaskan…”

“rahasiamu ada padaku…”ucap Dean tenang.

“…”Luna diam sambil mengerutkan alisnya.

“aku tak bermaksud mengancam…, tapi kurasa ini satu-satunya cara agar kau mau masuk ke klubku…”ancam Dean dengan raut serius.

“h…,kau bodoh…! Kau bukan siapa-siapa aku dank au jangan pernah coba-coba mengancamku dengan bualanmu itu karma aku tak pernah takut sedikitpun…”ucap Luna dingin sambil mendesah sinis, lalu pergi meninggalkan kantin dengan jalan yang menahan sakit.

“eh…m…Luna kenapa ya? Belakangan ini dia kok jadi pemarah dan aneh?”Tanya Karina dengan penuh curiga.

“aneh bagaimana?” Tanya Reva sambil memperhatikan Dean yang kemudian meninggalkan kantin juga.

“lihatkan jalan Luna tadi? Rada-rada terpincang begitu…, habis jatuh atau apa?”Tanya Karina penuh selidik sambil menatap Raina dan Sherry.

“iya kamu benar juaga…”dukung Julia dan Paulina berbarengan.

“mu…mungkin Luna keseleo waktu olahraga tadi…,iyakan Rain?”Tanya Sherry meminta dukungan Raina.

“i…iya kali…”jawab Raina ragu.

Brak…, dengan marah Olivia menyentak meja dan pergi meninggalkan pandangan kaget dari teman-temannya.



to be Con.......

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

© Yuna World 유나, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena