Welcome to my world,Im 유나ArataJJ admin @KBPKfamily ,author &a someone who likes to fantasize.. Thank for visit ^^

Kamis, 20 Januari 2011

“SPRING IN LOVE” (FF )Chap. 7

Chap. 7

(opening ost. Spring in love- “Love & War” Davichi)
“jadi…, ku mohon.. kalian mau tinggal kembali menempati rumah itu…, aku harus mengambil beberapa pesanan dengan suamiku di luar daerah...” ucap seorang wanita.
”bibi Geun Na..., kami pasti akan membantu kalian...,tapi benar tidak apa-apa kami menempati rumah bibi?”tanya Lina meyakinkan.
”tentu saja..., oh iya..., kami juga ingin kau menjaga toko bunga kami...dan Bella kami...”ucap Geun Na dengan tatapan sedih.
”kenapa bi?”tanya Lina dengan nada khawatir.
”ini..., maafkan aku Lina...,, aku tak bermaksud tak ingin memberi tahumu cepat tapi kedua orang tuamu tak mengizinkanku mengatakannya..., maafkan aku...dua tahun yang lalu...”putus Geun Na dengan berat.
”katakan saja bi...”ucap Lina mencoba tenang sementara Frans, Linda dan Tsatsa diam mendengarkan.
”maafkan aku Lina...,dua tahun yang lalu orang tuamu meninggal dunia, mereka berdua tertabrak bus sesaat sebelum menjemput adikmu Rindi...”ucap Geun Na dengan pelan.
Lina terdiam kaku dan tatapannya tak fokus.
”umma...,ada apa?”tanya Frans pelan.
”kakak katanya eom...”ucap Linda.
”sssttt...”putus Frans pada Linda yang langsung terdiam.
”ahjumma..., umma kenapa?”tuntut Tsatsa saat tangis Lina pecah seketika.
”maafkan aku Lina...” pinta Geun Na dengan perasaan bersalah yang teramat.
Lina terus menangis hingga seseorang datang.
”Cheon Nim..., kenapa kau....”Geun Na terdiam ketika menatap suaminya datang beserta seorang anak perempuan.
Lina langsung menatap anak itu dan mengerti siapa dia.
”kakak..., siapa itu?”tanya Linda dengan berbisik.
Frans hanya menggeleng tak mengerti lalu menatap Tsatsa yang mengangkat bahunya juga tak mengerti.
”Geun..., maafkan aku..., tapi dia ingin bertemu dengan Lina...” ucap Cheon Nim sambil menatap Geun Na dengan pandangan serba salah.
Lina terus memandang anak itu hingga akhirnya dia bangkit dan mendekat.
”kenapa kakak tidak pernah kembali?”tanya anak itu dengan air mata yang hampir keluar.
Lina menunduk hingga sejajar dengan anak itu,”...”Lina hanya diam.
”kakak membenciku?”tanya anak itu lagi dengan polosnya hingga tangis Lina kembali pecah dan memeluk anak itu.
”mianhe....,yongsôhǽ jusibsio (maaf..., maafkan aku...)”pinta Lina dengan perasaan bersalah.
”kakak membenciku?”ulang anak itu dengan pelan. Semua yang ada di ruangan itu ikut terhanyut dengan suasana itu.
”aku tak bermaksud membencimu..., mianhe..., aku memang egois...aku tak pernah memikirkan kalian aku hanya memikirkan bahwa mereka telah meninggalkan ku..., maafkan aku aku tak bermaksud untuk sejauh ini..., tapi aku merasa sendiri...mianhe....”tangis Lina kembali pecah dan dia terduduk.
Anak itu menatap Lina lalu menyentuh pipi Lina dan menyeka air mata Lina,”ayah dan ibu selama ini merasa bersalah pada kakak..., mereka ingin kakak kembali..., maafkan mereka kak...”ucapnya dengan air mata yang ikut mengalir,”hingga saat terakhir merekapun..., yang mereka fikirkan hanya kakak...”.
Keduanya saling bertatapan dan berpelukan sambil menangis haru. Tak ada yang mengganggu ataupun mengusik ke duanya (diiringi ost. Timeless by_SG WannaBe)

Seminggu kemudian.....
”ayo pindah...pindah...”ucap Tsatsa dengan suara riang sambil membawa tas mungilnya.
“mana Linda?”tanya Lina pada Frans.
Frans menggeleng,”aku tak tau Umma...”, Frans mengangkut barangnya dan memasukkannya ke dalam mobil Geun Na yang telah siap.
Lina berkeliling mencari ketika Lina mendengar suara terisak di belakang panti.
”Dhicca jangan menangis..., aku akan meminta umma untuk membawamu juga...”ucap Linda menenangkan.
”percuma..., aku bukan keluarga kalian...”ucap Dhicca dengan terisak.
Linda menggenggam tangan Dhicca lalu berkata,”aku sudah menganggapmu saudara..., kau teman sekaligus saudaraku..., aku tak akan membiarkanmu sendiri...”kata Linda sembari beranjak ketika Dhicca menarik tangannya hingga Linda terjatuh ke depan.
Gubrak...
”Aigo!(aduh) Dhicca!”pekik Linda sambil bangkit mengelus hidungnya yang ngebentur tanah.
”ma...,maaf...maaf Linda aku tidak bermaksud...”pinta Dhicca sambil membantu Linda bangun.
Lina tertawa tertahan di tempatnya berdiri ketika Saeng menyapanya.
”kurasa..., kau ingin membawa anak itu?”tanya Saeng sambil menatap ke arah Dhicca.
” Saeng Baksanim ( Dokter Saeng)...”kata Lina tertunduk.
”maaf mengagetkanmu...”kata Saeng dengan sopan.
Lina menggeleng malu,”saya yang seharusnya meminta maaf pada Saeng Baksanim ( Dokter Saeng)...,saya...”ucap Lina dengan terbata.
”sudahlah..., aku mengerti..., aku tak akan memaksamu...”ucap Saeng sambil tersenyum dan lagi-lagi membuat Lina terdiam,”jadi..., kau ingin membawanya?”tanya Saeng lagi.
”...”Lina diam berfikir keras ketika Linda datang.
”umma...”ucap Linda diikuti Dhicca. ”umma sedang apa di sini?”tanya Linda lagi.
“tidak umma hanya...”
“umma..., biarkan Dhicca ikut bersama kita ya? Aku mohon umma...”pinta Linda memotong.
Dhicca hanya tertunduk menunggu penuh harap.
“Saeng Baksanim ( Dokter Saeng)..., bolehkan Dhicca ikut dengan kami?”tanya Linda pada Saeng yang tersenyum dan menunduk
“tentu saja boleh jika kalian menjaganya dengan baik..., kau mau menjaganya anak manis?”tanya Saeng diikuti senyum indahnya sambil membelai kepala Linda pelan.
Linda mengangguk kuat,”tentu saja Saeng Baksanim ( Dokter Saeng)..., aku berjanji akan menjaga Dhicca dengan baik...”ucap Linda sambil mengangkat tangannya.
“chaech’i innûn...(pintar...)”ucap Saeng lalu menatap Lina,”jadi...kau mau merawatnya?”.
Lina menatap Linda yang memberi dukungan pada ibunya, saat Frans dan Tsatsa datang.
”kami tidak keberatan Umma...”ucap Frans,”kami akan senang mendapat saudara baru...”.
”iya umma..., kakak ku akan bertambah lagi...”kata Tsatsa dengan anggukkan kuatnya.
”umma ku mohon...”pinta Linda penuh harap.
Lina tersenyum pada Dhicca yang masih terus berdoa dalam hatinya,”Mullonimnida(tentu saja)” angguk Lina dengan senyum yang cerah.
Linda dengan teriakannya langsung memeluk Dhicca,”Dhicca...,kita akan terus bersama”.
”Né(ya)...” angguk Dhicca menahan tangis. Frans dan Tsatsa mendekat lalu ikut memeluk Dhicca dan Linda. Sementara Lina hanya tersenyum bahagia. Dan Kim menatap marah dari sudut ruangan. (diiringi ost. Sarangul molla by_lee jun ki)

2 jam perjalanan penuh di tempuh dengan gelak tawa diiringi dengan...,, Jdug....
”au....”rintih Linda yang lagi-lagi kepalanya ngebentur mobil untuk ke5 kalinya akibat saling ledek dengan Frans.
”hahahahahaha...., Joayo(bagus) ,kepalamu memang kuat dan tahan benturan...”tawa Frans membuat Linda langsung pasang tampang wajah sebal.
”hihihihi...”tawa Tsatsa sambil memegang perutnya. Dan Dhicca hanya dapat menahan tawanya sambil berpura-pura menatap ke luar.
”umma..., lihat kakak menertawakan aku terus...”Linda mengadu pada Lina yang dari tadi hanya tersenyum.
”sudahlah kita sebentar lagi sampai...”ucap Geun Na sambil fokus mengarahkan mobilnya di sebuah daerah.
Mobil itu berhenti di sebuah rumah yang sebagian besar di alih fungsikan sebagai toko bunga.
”nah..., inilah rumah kami..., ayo semua...”ucap Geun Na.
Selagi Lina dan yang lain menurunkan barang mereka seorang anak datang sambil tertawa senang.
”kak Ji Young..., benarkah kakak akan pergi?”tanya anak itu.
”Ajik mollayo(aku tak tau)..., itu ibumu ...”tunjuk anak laki-laki berusia 15 tahun itu pada Geun Na.
”mama....”anak itu langsung berlari menghampiri Geun Na dan langsung naik ke pelukannya.
”Bella..., kau tidak nakalkan bersama Kwon?” tanya Geun Na penuh kasih sayang.
Bella menggeleng,”Mullon animnida(tentu saja tidak ) mama..., kakak Ji Young mengajariku membuat origami..., lihat ini...bunga kertas untuk mama...”ucap Bella sambil menyerahkan sebuah bunga kertas pada Geun Na.
”terimakasih sayang...” ucap Geun Na mengecup kening anaknya,”Kwon terimakasih menjaga Bella selagi suamiku pergi..., lalu kemana Rindi?”tanya Geun Na.
”paman sudah mengantarnya ke sekolah..., kata paman biar dia yang menjemput...”ucap Ji Young,”Byôl malssémēlyo(sama-sama) bibi aku kembali dulu..., Bella ingat pesanku...”
”Gērǽyo (ya, baiklah) aku mengerti kak...”kata Bella menurut. Geun Na menatap Ji Young hingga masuk ke rumahnya.
”Bella..., ayo perkenalkan ini bibi Lina..., dia yang akan menjagamu selama mama dan papamu pergi...”ucap Geun Na sambil memperkenalkan Lina dan yang lain.
”hai...”sapa Linda namun Bella langsung memalingkan wajahnya,”hwe..” kata Linda sebal.
”aku tidak kenal mereka mama...” ucap Bella manja.
”kau akan mengenalnya...”kata Geun Na pelan,”ayo kita masuk...” ke limanya segera membawa barang mereka dan mengikuti Geun Na masuk.
Setelah merapikan segalanya Cheon Nim datang bersama Rindi.
”ôsô oséyo (selamat datang)...”ucap Rindi dengan cerah.
”ahjumma....(bibi) bisa tidak kau tenang sedikit?”tanya Linda dengan sedikit mencibir Rindi yang datang dengan tergesah.
”a...apa kau bilang? Ah...ahjum....”
Tsatsa tertawa kecil melihat wajah sebal Rindi dan Frans serta Dhicca hanya menggeleng menyerah.
”adik umma sama denga AHJUMMA....”kata Linda sambil menyanyikan lagu insomnia.
”dasar kau...”
”Lina..., kau sudah selesai? Ada beberapa hal yang harus kau ketahui sebelum kami pergi...” ucap Geun Na. Lina mengangguk lalu mengikuti Geun Na.
Setelah menjelaskan segala apa yang di perlukan Geun Na dan suaminya bersiap akan pergi.
”kenapa Bella di tinggal?”tanya Bella yang akan menangis.
Geun Na menatap anaknya lekat,”karna Bella masih kecil..., mama akan membawa hadiah yang Bella suka....”kata Geun Na bijak, sementara Cheon tersenyum sambil memasukkan barang-barangnya.
”Jinca?(sungguh?)” tanya Bella setengah hati.
” Gērǽyo (ya, baiklah ) tentu saja anakku sayang...” ucap Cheon sambil membelai kepala Bella dengan lembut.
Ketiganya lalu berpelukan dan saling mencium kening.
”Lina...aku titip Bella..., setelah urusan selesai kami akan kembali...”ucap Geun Na lalu memeluk Lina erat.
”hati-hati di jalan bi...”ucap Lina setelah melepas pelukannya.
“Né Mullonimnida(iya tentu saja....)” Geun Na menyusul suaminya ke mobil mereka yang telah siap pergi.
“mama....”panggil Bella hingga Geun Na menatapnya dari jendela,”hati-hati...”Geun Na melempar senyumnya pada Bella lalu mobil itu meninggalkan halaman saat Bella tanpa di sadarinya berlari mengejar. Bruk..., Bella terjatuh dan menangis saat Ji Young datang dan membantu Bella. “kakak..., hue....kakak Bella sendiri...”ucap Bella sambil memeluk Ji Young. Ji Young mengangkat Bella dan membawanya ke dalam rumah.
“ah...m... terimakasih....”ucap Lina yang langsung membawakan kotak P3k.
“tidak apa-apa bi..., biar aku yang mengobatinya...”ucap Ji Young langsung mengobati luka di lutut Bella.
“au...perih...”kata Bella sambil meringis.
Ji Young merekatkan plester luka lalu menatap Bella dengan senyum,”kau tau...,bibi itu mengkhawatirkanmu..., jangan membencinya...”ucap Ji Young dengan lembut.
”aku tidak...”kata Bella malu.
”aku tau dari wajahmu..., lihatlah...mereka ingin berkenalan denganmu...”tambah Ji Young sambil merapikan kotak p3k.
”ya kak aku mengerti tapi...”
Ji Young mengusap kepala Bella sekali lagi,”katanya kau ingin punya teman..., mulailah dengan mereka..., jika kau masih bersikap dingin aku akan mendendamu...”canda Ji Young hingga Bella tertawa kecil,”aku harus kembali...”
Bella mengangguk lalu berkata,”kakak terimakasih...”

Selama 2 minggu penuh sikap Bella mulai berubah (walau masih agak kaku), Lina mengerti dan tetap memberikan perhatian padanya.
”aku tak mengerti mengapa kita harus bersekolah?” tanya Linda dengan wajah sebal saat Lina memasangkan dasi padanya.
”kau mau menjadi bodoh?”cibir Frans memakan telur gorengnya.
”kau menghinaku?” tanya Linda ketus. Dhicca tertawa sambil memasang kaus kakinya.
”tidak..., hanya saja kau...”putus Frans.
Rindi datang dengan pakaiannya yang kusut,”kakak..., kau sudah menggosok bajuku?”tanyanya sambil menguap lebar.
”sudah..., ada di tumpukan ke 2 ..., cepat mandi aku akan mengantar kalian...”kata Lina yang tengah sibuk mengenakan pakaian pada Tsatsa.
”Umma..., Tsatsa juga ingin sekolah...” ucap Tsatsa dengan manja.
”nanti sayang..., Bella...”ucap Lina menghampiri Bella di kamarnya,”kau sudah siap?” tanya Lina ketika mendapati Bella sedang mematung di pinggir jendela.
”ya...”kata Bella dengan malas,”kakak Ji Young yang akan mengantarku...”
”oh...m..., baiklah...”kata Lina lalu keluar dari kamar Bella sambil mendesah berat.
Lina dan yang lain telah bersiap ketika Ji Young datang dengan sepedanya.
”kau yang mengantar Bella ke Tknya?”tanya Lina sambil tersenyum ramah.
”ya...bi...”kata Ji Young dengan sopan.
”kakak...”ucap Bella menghampiri Ji Young.
”kau siap?” tanya Ji Young sambil menaikkan Bella di belakang.
”iya kak...” kata Bella dengan senyum terkembang.
Lina tersenyum lalu menunduk,”selamat jalan...”
”kenapa sih anak itu selalu bersikap dingin”cibir Rindi yang baru saja selesai memakai sepatunya.
”kurasa dia tidak menyukai kita...”ucap Tsatsa sambil memeluk bonekanya.
”masa? Aku rasa dia rindu pada orangtuanya...”ucap Frans berpendapat.
Linda berkata menyela,”dan aku rasa aku tak menyukai menggunakan rok ini...”
”Linda...,feminimlah sedikit...”ucap Dhicca sambil tersenyum.
”Huwwwwwwwaaaaaa lebih baik aku berkelahi daripada menggunakan rok...”pekik Linda sambil menarik rok sekolahnya.
Semua langsung tertawa dan Rindi berkata,”dasar berkepribadian ganda!!”
”ugh...,dasar AHJUMMA cerewet”cibir Linda di sertai sindiran sambil menjulurkan Lidahnya.
”berhenti memanggilku dengan sebutan itu....!!!!”Rindi langsung berlari mengejar Linda yang tertawa senang. Lina berserta yang lain hanya tertawa heran. (diiringi ost. Ballons by_DBSK)

”aku ingin mie ramen...”pekik Linda malam itu.
”tidak ini milikku...”ucap Rindi tak mau kalah sambil menarik mangkuk mie.
”ahjumma..., mengalahlah sedikit...”pinta Linda,”akukan ponakanmu yang paling manis...”
”Hoek....”ucap Rindi berpura-pura muntah.
”huh...”
”sudahlah..., ini makan milikku...”kata Dhicca menyerahkan makanannya.
”mana umma dan yang lain?”tanya Linda bingung dengan keadaan rumah yang sepi.
”entah tadi mereka terburu-buru...”jawab Rindi dengan cuek dan terus memakan mienya.
Ketika itu suara tangis memecah keheningan saat itu.
”MAMA...PAPA...kalian tidak boleh pergi...,biarkan aku menyusul bi....MAMA...”tangis Bella pecah di pelukan Lina yang juga saat itu meneteskan air mata.
”umma ada apa?” tanya Linda bingung.
”ahjumma dan ahjussi...., meninggal dunia...”ucap Frans perlahan sambil menggandeng Tsatsa masuk. Tak ada yang dapat berkata lagi dan segala keheningan terpecahkan oleh tangisan Bella.

Di pemakaman umum, Bella terus menangis di makam ke dua orang tuanya.
”MAMA...PAPA....jangan tinggalkan Bella sendiri..., jangan tinggalkan Bella ...Bella sayang kalian jangan tinggalkan Bella...”ratap Bella di makam itu, (diiringi ost. Yearn Yearn yearn by_K.Will) Lina dan yang lain hanya dapat diam di tanpa dapat mengusik Bella ketika Ji Young datang.
”ayo kita pulang...”ucapnya penuh kelembutan.
”tidak..., aku ingin bersama mama dan papa...”kata Bella bersikeras. Ji Young langsung mengangkat Bella yang terus memberontak,”aku ingin bersama mama dan papa..., kakak turunkan aku...”. Ji Young terus mengangkat Bella ke mobil diikuti yang lain.
”biarkan aku turun...”ucap Bella yang mulai kelelahan akibat menangis.
”kau tidak ikut?”tanya Lina pada Ji Young.
”tidak bi..., aku harus pergi...”tolak Ji Young dengan suara yang janggal.
”kakak mau kemana? Kakak mau meninggalkan Bella seperti mama dan papa?”tangis Bella kembali pecah.
Ji Young tersenyum dan membelai kepala Bella,”aku tidak akan meninggalkanmu..., aku akan selalu bersamamu..., tapi saat ini aku harus pergi..., kau mengertikan...”ucap Ji Young sambil membelitkan saputangannya di lengan Bella yang terluka.
”tapi kakak...”
”aku menyayangimu Bella...,aku akan kembali...”janji Ji Young sambil mengangkat kelingkingnya.
”janji?”tanya Bella sambil membuat janji kelingking dengan Ji Young.
”ya..., aku berjanji...”ucap Ji Young lalu menutup pintu mobil. Perlahan mobil berkabung itu meninggalkan makam. Bella terus menatap kebelakang tempat di mana Ji Young masih berdiri menatap mobil yang pergi itu.
Suasana berkabung itu masih terasa namun satu dengan yang lain saling menghibur hingga kesedihan itu sedikit demi sedikit mulai sirna...

To Be Con.....

(ost. Penutup by. SS501_”Snow Prince”)

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

© Yuna World 유나, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena