Welcome to my world,Im 유나ArataJJ admin @KBPKfamily ,author &a someone who likes to fantasize.. Thank for visit ^^

Kamis, 20 Januari 2011

“SPRING IN LOVE” (FF )Chap. 8

Chap. 8

Caracter’s:
*Lina (33),wanita pekerja keras untuk memajukan toko bunga yang di tinggalkan bibinya.
*Frans (18), mahasiswa tingkat 2 sekarang berkuliah di universitas berkat Beasiswa yang dia dapat, pandai dalam mengurus rumah tangga dan membantu ibunya.
*Dhicca (16), bersama-sama dengan Linda bersekolah di SMU tingkat 3 dan anggota panahan pandai dalam bermain piano dan anggota club music.
*Linda (16), kapten klub panah usang yang agak sedikit ceroboh dia yang selama ini membantu Lina menjaga toko bunga dan dia pandai dalam hal seni.
*Tsatsa (15), anggota club Music, sering memicu keributan dengan Linda (hanya bercanda sebenarnya) ahli dalam bernyanyi dan menari.
*Bella (15), pendiam dan tak banyak bicara, Bella anggota club basket.
*Rindi(17), mahasiswa Seoul Arts University jurusan perfilman, berambisi menaklukan dunia keartisan.

(Opening Ost. By_Seo In Guk “Love U” )

10 tahun kemudian…..
“sudah ku bilang jangan ganggu Dhicca!!!”suaranya melengking tinggi. Tiga orang laki-laki langsung berlari ketakutan.
“Linda…, sudahlah…, mereka hanya ingin berkenalan denganku…”ucap Dhicca sambil mengambil tas Linda yang sempat terjatuh.
Linda hanya mendengus kesal lalu mengambil busur yang sempat dia pakai untuk memukul,”aku hanya tak suka mereka memaksamu…,sudahlah ayo kita berangkat…, aku dengar adik dari dokter Ji Hoon akan bersekolah di tempat kita….”kata Linda lalu melangkah masuk ke halaman sekolahnya.
“m…, entahlah…,lalu bagaimana dengan kau? Kau akan melanjutkan kemana?”tanya Dhicca mengimbangi langkah Linda.
“entahlah…, aku rasa aku belum memutuskan…”Linda sedikit mendesah lalu manatap jengkel pada kerumunan yang menghalangi jalan masuknya. “hei…., bisa tidak kalian tidak menghalangi jalan kami?”tanya Linda setengah berteriak.
”sudahlah..., ayo kita lewat sebelah sini saja...”kata Dhicca sambil menarik Linda melalui jalan memutar.
”beuh..., aku heran...setiap kali tahun ajaran baru selalu saja ribut...”omel Linda,”oh iya..., Dhicca bagaimana jika kita berlatih panah saja?” tawar Linda.
”untuk apa? Turnamen musim panas kemarin kau berhasil menangkan?”
Linda tersenyum cerah pada Dhicca,”ya...dan kau tau aku menjadi kaptennya...”
”apa!! kenapa kau tidak mengatakannya?”ucap Dhicca setengah terkejut.
Linda menggeleng kuat,”aku tak ingin mengganggu yang lain, lalu... kau mau menemaniku?”tanya Linda mengulangi.
”baiklah....”keduanya berjalan ke arah gedung belakang dengan diikuti tatapan seseorang.

”Frans....”panggil seseorang dan menghampiri Frans yang baru saja tiba di universitasnya.
”Shanta...”kata Frans sambil menunduk.
”ku dengar kau berhasil memenangkan lomba karya ilmiah itu...”ucap Shanta dengan wajah berseri.
Frans hanya tersenyum dan mengangguk,”ya..., berkat bantuanmu...”.
”aku hanya menyarankan..., selebihnya kau yang mengerjakannya..., ayo kita masuk...aku yakin mereka pasti ingin mengucapkan selamat padamu...”Shanta menggandeng Frans masuk ke kelas mereka.
”Frans Chan..., selamat ya...”ucap Jinai seorang sahabat Frans yang langsung memeluk Frans.
“Du…, terimakasih…”ucap Frans sambil melapas pelukannya.
“kalian tau…, ku dengar akan ada yang masuk kekelas kita tahun ini…dan ku dengar dia seorang artis…”tambah Jinai dengan berbinar.
Shanta dan Frans saling bertatapan lalu tersenyum,”dasar ratu gosip…”ucap ke duanya berbarengan.
“enak saja kalian berdua ini…”ucap Jina lalu memasang wajah sebal dan membuat Shanta dan Frans bertambah ingin menggoda.
“kau yakin?”tanya Shanta di sela tawanya.
Sambil mengangkat tangannya Jinai berkata,”aku yakin...”.
Tak lama dia berkata seperti itu tiba-tiba suara gaduh dan teriakan histeris bergema di koridor.
”ada apa?”tanya Shanta pada salah seorang laki-laki yang terlihat sebal.
”mereka ribut hanya gara-gara artis itu..., akh...menyebalkan...”ucapnya sambil berlalu dan pergi.
Ketiganya saling pandang kemudian menengok ke jendela di mana tempat kerumunan itu ada.
”tuh kan..., aku benar ”pekik Jinai langsung menunjuk ke arah seseorang di tengah kerumunan,”lihat..., itu Hee Chul....huwwaaaa....., dia tampan sekali..., aku harus ke sana....”teriak Jinai lalu berlari ke luar sementara Shanta dan Frans terus memandang ke arah sosok itu yang tiba-tiba menengok ke arah Frans dan tersenyum.
”kau..., berteman dengannya?”tanya Shanta yang mengerti tatapan laki-laki itu.
Frans menggeleng kuat,”tidak..., aku tidak mengenalnya aku hanya tau dia personil boy band itu kan?” ucap Frans tak habis fikir.
”ku rasa dia mengenalmu...”yakin Shanta meneliti arah tatapan laki-laki itu.
Frans berbalik,”sudahlah..., mungkin dia salah lihat..., ayo kau temani aku ke perpustakaan...”ucap Frans sambil tersenyum.
”ya..., baiklah....”ucap Shanta sambil mengangguk setuju.

”apa?”tanya Tsatsa dengan ketus pada Kim Bum, teman masa kecil Tsatsa setelah ia dan keluarganya pindah ke rumah bibi Geun.
Laki-laki itu hanya menuntun sepedanya,”maafkan aku..., aku tak tau jika kau menungguku semalaman..., ponselku di sita ibuku...”ucap Kim Bum dengan penuh permintaan maaf.
”kau sengaja melupakan ku kan...”sudut Tsatsa.
”tentu saja tidak..., sungguh aku tak pernah berbohong padamu..., kau bisa menanyakannya pada ibuku...”kata Kim Bum meyakinkan.
Tsatsa terus saja berjalan tak perduli melewati Bella yang berjalan tenang menggunakan headsetnya sambil menatap pohon di sepanjang jalan.
”Bella..., kau bisa jalan cepat sedikit tidak?”gerutu Tsatsa sambil menarik lengan Bella perlaha. Bella hanya mendesah pendek lalu mengikuti langkah cepat Tsatsa dan diikuti Kim Bum di belakangnya.
”kenapa kau tak bersama kak Dhicca atau kak Linda saja jika ingin cepat?”tanya Bella agak terengah sesampainya di sekolah mereka.
”tidak oleh si preman itu!!!”tolak Tsatsa,pletak...,”au...”Tsatsa mengerang memegangi kepalanya dan menatap orang yang menjitaknya,”kak Linda...!!!”seru Tsatsa kesal.
”apa kau bilang...!!! aku preman!!!”ucap Linda dengan nada tinggi.
”iya...,dasar kakak serampangan...”Tsatsa menjulurkan lidahnya dan berlari pergi ketika Linda mengejarnya.
”hei kau!!!”pekik Linda hingga orang-orang yang ada di sekitar menatap mereka.
”kalian berdua ku mohon hentikan ...”ucap Dhicca namun terlambat keduanya telah pergi entah kemana. Dhicca hanya mendesah lalu menatap Bella.
”ayo kita masuk”, ucap Dhicca yang langsung diikuti oleh Bella.
”kakak..., kau berlatih panah lagi... bukankah kata dokter kau...”ucap Bella yang langsung di sela oleh Dhicca dengan nada berbisik.
”rahasiakan ini dari Linda dan yang lain..., hanya kau dan umma yang tau..., ku mohon...”pinta Dhicca pada Bella yang menatapnya sedikit aneh. Namun Bella kemudian mengerti dan mengangguk pelan.
”baiklah..., aku tak akan mengungkitnya tapi ku harap kakak tidak melakukan hal yang berat...”ucap Bella datar lalu berjalan memasuki lorong.
”tentu saja adikku...”senyum Dhicca ketika seseorang mendekat ke arah mereka.
”selamat pagi kak...”ucap Hong Ki sambi menunduk hormat pada Dhicca.
Dhicca balas menunduk,”pagi...”
Bella hanya menatap dingin pada Hong Ki yang langsung menatapnya.
”kau anggota club basket putrikan?”tanya Hong Ki pada Bella dengan cepat.
”ya...”ucap Bella datar.
”sepertinya aku harus kembali ke kelasku..., baiklah aku harus duluan...”ucap Dhicca sambil menatap jam tangannya.
”m...”angguk Bella. Hong Ki tersenyum pada Dhicca yang berjalan pergi.
Bella yang mulai jengah berjalan melewati Hong Ki yang langsung menarik tangannya.
”apa?”tanya Bella dingin.
”Ada yang ingin aku bicarakan...”kata Hong Ki dengan pandangan meminta.
”tidak,...maaf aku harus kembali ke kelas...”ucap Bella dengan cueknya melepas genggaman Hong Ki.
”tidak sebelum kau mendengarkan...”ucap Hongki yang berkeras dan menarik Bella ke halaman belakang.
”apa maumu sih!!!”ucap Bella dengan marah.
Hong Ki berlutut pada Bella dan berkata,”ku mohon..., ajari aku bermain basket..”ucapnya dengan memelas.
“a...,apa?”tanya Bella bingung.
“ku mohon...ajari aku..., ajari aku agar bisa bermain sepertimu..., di pertandingan persahabatan musim panas kemarin..., aku sungguh-sungguh mengagumi permainanmu..., tolong ajari aku...”pinta Hongki sambil menjelaskan.
“...”Bella hanya diam tak menjawab.

”apa yang kau harapkan? Rindi itu hanya peran kecil..., jika aku jadi kau aku tak akan pernah mau menerimanya...”ucap Kim Aruna teman Rindi satu jurusan yang sama.
Rindi tersenyum,”jika kau berfikir itu hanya peran kecil kau tak akan pernah maju Aruna..., kau tau tokoh idolaku memulai karirnya dari dunia keartisan dari hal kecil..., aku tak akan menyia-nyiakannya....”tekad Rindi kuat.
Aruna mendesah kecil,”baiklah jika itu keputusanmu..., aku tak inin berdebat dengan kau yang keras kepala ini...”.
”jangan marah Aruna..., m....kau tau ku dengar dia mencarimu...”ucap Rindi berbisik sambil menatap ke arah seorang laki-laki.
”benarkah?”tanya Aruna setengah berbisik.
”benar..., benar-benar bohong kataku...xixixixi...”Rindi langsung berlari ketika dengan wajah kesal Aruna mencoba melemparnya dengan pulpen.
”Rindi!!!!!”teriak Aruna kesal sambil mengejar Rindi ke luar.
Rindi berlari sambil tertawa hingga dia kurang fokus dan terpeleset jatuh dari tangga yang baru saja dia turuni.
”hup...”ucap Seseorang sambil memegang pinggang Rindi hingga dia tak jadi terjatuh.
Rindi yang sempat menutup matanya lalu menatap seseorang yang telah menolongnya. Rindi tertegun pada sosok itu hingga terdiam dalam posisinya hingga orang-orang menatap ke arahnya.
”eh...em...,maaf...”ucap Rindi cepat sambil membetulkan posisinya.
Dia tersenyum kecil pada Rindi,”ku rasa kau harus berhati-hati nona...”.
Rindi mengangguk,”ya..., ma...maafkan aku...”ucap Rindi terbata.
”Jong Hun...”ucap seseorang tiba-tiba,”ada apa ini? Kenapa kalian semua berkumpul?”.
”ah...., manager..., aku hanya membantunya...”ucap Jong Hun sambil menunduk. Semua yang berkumpul kemudian membubarkan diri bahkan ada yang menggerutu kesal.
”kau ada masalah?”tanyanya pada Rindi.
Rindi yang sempat mematung, menggeleng lalu menunduk,”sekali lagi maafkan saya..., permisi...” ucap Rindi kemudian pergi dengan menunduk sambil memukul kepalanya sendiri dengan tangannya,”dasar aku bodoh...”

”biar aku saja yang mengantarkan ke dalam...”ucap Lina pada pekerjanya yang sering membantunya menjaga toko bunga.
”baik...”angguknya.
”Ochy..., kau bisa mengantarkan pesanan di gedung sebelah...”pesan Lina mengambilkan buket bunga mawar putih dari jok belakang,”dan ingat jangan lupa berikan lebihan uang mereka...”.
”baik...”
Lina tersenyum sesaat lalu turun dari mobil pengantar bunganya ke arah sebuah gedung besar. Dengan ragu Lina melangkah ke dalam. Lina berjalan ke arah resepsionis yang sedikit acuh padanya.
”nona kau bisa menyerahkannya? Atauaku yang akan...”kata Lina dengan tak sabar.
”tunggu sebentar nyonya...”katanya dengan ketus lalu menghubungi seseorang. Setelah Lina menerima kartu pengunjung, Lina langsung naik ke tingkat atas tempat pemesan bunganya,”huh..., sial...”pekik Lina kesal.
Ketika pintu lift terbuka Lina tertegun menatap ke arah seseorang hingga menjatuhkan buket bunganya bunganya. Tatapannya tajam, sepasang mata indah yang membuat Lina benar-benar tak dapat berkata.

To Be Con....
*** Ost. Penutup by_2PM ”I Was Crazy About You” ***

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

© Yuna World 유나, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena